Mohon tunggu...
Dewi Puspasari
Dewi Puspasari Mohon Tunggu... Konsultan - Penulis dan Konsultan TI

Suka baca, dengar musik rock/klasik, dan nonton film unik. Juga nulis di blog: https://dewipuspasari.net; www.keblingerbuku.com; dan www.pustakakulinerku.com

Selanjutnya

Tutup

Film Artikel Utama

"Missing Link", Kisah Bigfoot Cerdik yang Berhasil Kalahkan Animasi Disney di Golden Globes 2020

13 Januari 2020   13:04 Diperbarui: 13 Januari 2020   23:02 440
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Karakter Elsa dan Anna nampak lebih dewasa. Ceritanya juga lebih kompleks, meski agak nanggung nuansa 'dark'-nya, mungkin karena memang film ini dibuat untuk  film keluarga. Tapi secara keseluruhan, "Frozen II" itu hangat dan menyenangkan (Ulasan di sini).

Sebenarnya di antara ketiga wakil Disney, aku paling suka "Toy Story 4". Ceritanya mengaduk-aduk emosi. Aku seperti menemukan keriangan dan ikut terbawa nostalgia masa kecil, ketika masih asyik bermain dengan boneka.

Toy Story 4 merupakan tontonan yang menarik dengan kisah yang makin dinamis. Dalam film ini Woody dihadapkan pilihan yang dilematis (ulasan berikut ini).

Untuk wakil DreamWorks Animation, "How to Train Your Dragon 3: Hidden World" membuatku sentimentil. Dalam sekuel terakhir ini digambarkan perpisahan antara Hiccup dan Toothless. Akhirnya Hiccup menyadari bahwa bangsa naga sulit untuk hidup harmonis bersama bangsa manusia, mereka perlu tempat tersendiri.

Cerita perpisahan ini mengharukan, rasanya ada sesuatu yang pergi dan sedih ketika mengingat masa-masa ketika Hiccup baru mengenal Toothless dan berpetualang bersama (Ulasan di sini)

Dari segi cerita keempatnya sama-sama apik, terutama "Toy Story 4". Dari segi kualitas gambar menurutku "Toy Story 4" juga lebih unggul. Apa kiranya yang membuat "Missing Link" lebih unggul?

"Missing Link": Cerita yang Ringan dengan Animasi yang Sulit Dibuat
Jika tak melihat studio pembuatnya, mungkin aku mengira "Missing Link" adalah animasi pada umumnya, menggunakan gambar dengan bantuan komputer, seperti film animasi Amerika kebanyakan. Tapi pembuatnya adalah Lenka.

Animasi ini menggunakan bantuan obyek dan boneka yang kemudian ditata dan digerakkan sedemikian rupa sehingga hasil akhirnya seperti film kartun, runtut, rapi, dan mengalir.

Tak mudah membuat set dan figur seperti ini (sumber:IMDb)
Tak mudah membuat set dan figur seperti ini (sumber:IMDb)
"Missing Link" yang disutradarai oleh Chris Butler berkisah tentang pemburu monster bernama  Sir Lionel Frost. Ceritanya berlatar tahun 1886.

Setelah berhasil memotret keberadaan monster danau, ia penasaran untuk mengetahui sosok Bigfoot alias Sasquatch alias Yeti dan juga bergabung dengan kelompok elit "society of great men" yang dipimpin Lord Piggot-Dunceby. Ia harus membuktikan makhluk itu nyata.

Ketika kemudian bertemu dengan sosok tersebut, Lionel terkejut. Pasalnya si Sasquatch yang disapa Mr. Link rupanya bertingkah laku seperti manusia. Ia bisa berbahasa manusia dan membaca. Dan rupanya ia yang mengirim surat kepadanya untuk menemukan dirinya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Film Selengkapnya
Lihat Film Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun