Mohon tunggu...
Dewi Puspasari
Dewi Puspasari Mohon Tunggu... Penulis dan Konsultan TI

Suka baca, dengar musik rock/klasik, & nonton film unik. Juga nulis di https://dewipuspasari.net dan www.pustakakulinerku.com

Selanjutnya

Tutup

Travel Artikel Utama

Suatu Sabtu Mengeksplorasi Goa Gundawang bersama Koteka

14 Desember 2019   17:35 Diperbarui: 14 Desember 2019   21:15 117 12 2 Mohon Tunggu...
Suatu Sabtu Mengeksplorasi Goa Gundawang bersama Koteka
Yuk ke Goa Simenteng dulu (dokpri)

Berwisata mengeksplorasi gua ternyata sama menyenangkannya dengan berwisata ke obyek alam lainnya. Keringat pun bercucuran karena hawa yang lembab dan oksigen yang kurang menjadi tantangan, belum lagi medan yang menurun dan agak terjal. Ini yang kualami pada Sabtu ini (14/12) bersama keenam kompasianer mengikuti Jelajah Koteka Mengeksplorasi Goa Gundawang.

Sabtu pagi para kompasianer sudah memenuhi sebuah kedai mungil di bilangan Sarinah. Jarum jam belum tepat menunjukkan pukul sembilan tapi Pak Diaz dan putranya, Pak Taufik, Bang Rahab, dan Mba Muthiah sudah setia menanti sambil menunggu roti hangat dihidangkan. Akhirnya setelah mba Windhu tiba kami pun berangkat bersama elf.

Kami menuju Goa Gundawang dengan rute Parung Panjang. Ketika melewati Legok jalan telah berubah menjadi tak lagi mulus. Satu setengah jam berikutnya jalanan didominasi oleh truk pengangkut batu. Aku bertanya-tanya jika terus-terusan ditambang apakah gunung atau bukitnya beberapa tahun ke depan akan menghilang?

Perjalanan masih panjang. Untuk mengusir sepi kami berbincang apa saja, hingga kemudian waktu terasa makin siang dan perut mulai lapar. Tapi rupanya obyek tujuan sudah dekat, sehingga kami pun memutuskan mengeksplorasi goa terlebih dahulu.

Goa Gundawang dengan Tiga Goa Andalannya
Goa Gundawang terletak di Desa Argapura, Cigudeg, Bogor. Obyek wisata ini mulai dibuka oleh umum pada tahun 1991. Di sini adalah kompleks goa dengan ditemukannya 12 goa alami yang terbentuk karena proses karstifikasi bertahun-tahun. Batu gamping pembentuk Goa Gundawang diperkirakan berusia 15 juta tahun.

Ada tiga goa yang dibuka umum (dokpri)
Ada tiga goa yang dibuka umum (dokpri)

Dari belasan gua tersebut hingga saat ini baru tiga goa yang dibuka untuk pengunjung. Dua di antaranya telah dilengkapi dengan lampu, anak tangga, dan pegangan tangga. Tiga gua tersebut adalah Goa Simenteng, Goa Simasigit, dan Goa Sipahang.

Goa-goa di kompleks Goa Gundawang dulu digunakan untuk bertapa atau mencari wangsit. Tapi sekarang banyak yang datang karena ingin berwisata mengeksplorasi goa, mencari tempat wisata alam yang beda, juga menikmati keindahan stalagmit dan stalaktit.

Obyek wisata masih sepi ketika kami tiba di sini. Kami memilih mengeksplorasi Goa Simenteng dulu yang memiliki mulut goa seperti macan milik Prabu Siliwangi dengan gigi, taring, dan lidah.

Selamat datang di Goa Gundawang (dokpri)
Selamat datang di Goa Gundawang (dokpri)

Disebut Simenteng karena dulu di sekitarnya banyak pohon menteng. Goa ini menurun. Kami menuruni anak tangga dengan dibantu lampu dalam goa dan senter. Hawa di dalamnya terasa pengap dan lembab.

Kami kemudian menikmati keindahan stalaktit. Rupanya kamu berada di separuh perjalanan. Masih ada 100 meteran lagi jalan yang menurun. Tapi kami batalkan untuk turun karena oksigen terasa kurang dan tidak ada jalan tembusan goa. Hanya ada satu pintu masuk dan ke luar.

Pada saat menuruni dan kemudian kembali dari Goa Simenteng, kami mulai berkeringat. Wah rupanya medannya lumayan sehingga membuatku yang akhir-akhir ini jarang berolah raga mulai ngos-ngosan.

Untunglah goa selanjutnya, Goa Simasigit anak tangganya lebih nyaman dan di dalamnya landai. Kami disambut kelelawar. Ada aroma kotoran kelelawar di dalam goa tersebut.

Eksplor Goa Simasigit (dokpri)
Eksplor Goa Simasigit (dokpri)

Dalam Goa Simasigit terdapat lubang ke permukaan sehingga cahaya matahari bisa masuk ke dalam goa. Juga ada pilar, yang merupakan persatuan antara stalagmit dan stalaktit.

Setelah puas mengamati Goa Simasigit, kami menuju goa terakhir, Goa Sipahang. Goa ini kata mas Edo, pemandu kami, medannya berat. Di sini pengunjung harus merangkak, merayap dalam kegelapan. Wah...

Akhirnya kami pun tetap nekat ke sana. Jaraknya menuju mulut goa sekitar 300 meter. Jalan setapaknya landai baru menurun mendekati goa.

Menuju mulut goa kami harus turun beberapa anak tangga. Kami harus berhati-hati karena tidak ada pegangannya. Tidak ada mulut goa seperti wajah macan, hanya gelap di dalam. Kami pun hanya berhenti di depan goa, mengamati stalaktit yang tersaji di depan dan kemudian kembali.

Selama perjalanan kembali aku bertanya-tanya bagaimana orang-orang dulu bertapa. Wah mereka pasti orang yang kuat karena memasuki dan bernafas dalam goa saja terasa berat. Kira-kira jaman sekarang masih ada yang bertapa tidak ya?

Goa Sipahang medannya berat (dokpri)
Goa Sipahang medannya berat (dokpri)

Setelah mengaso dengan minum dan mengatur nafas, waktunya mengisi perut. Kami bersantap di tempat makan yang menyediakan ayam geprek. Lainnya memesan ayam-ayaman. 

Sementara aku, Bang Rahab, dan mba Windhu memilih sop kambing. Kuah sop hangat dan terasa sedap. Dagingnya menempel di tulang-tulang. Jus sirsat dan sop kambing mampu mengembalikan energi yang terkuras. Plus kopi hangat sebagai penutup sajian.

Kami kembali ke Jakarta diiringi hujan deras. Bang Rahab yang ada di bangku depan pun tertidur pulas.

Sop kambing yang hangat (dokpri)
Sop kambing yang hangat (dokpri)

VIDEO PILIHAN