Mohon tunggu...
Dewi Puspasari
Dewi Puspasari Mohon Tunggu... Konsultan - Penulis dan Konsultan TI

Suka baca, dengar musik rock/klasik, dan nonton film unik. Juga nulis di blog: https://dewipuspasari.net; www.keblingerbuku.com; dan www.pustakakulinerku.com

Selanjutnya

Tutup

Kurma Pilihan

Lima Tradisi Ini Bikin Suasana Ramadan Menjadi Khas

9 Mei 2019   20:35 Diperbarui: 9 Mei 2019   20:40 37
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Sekitar pukul 02.30 dinihari aku terbangun. Terdengar dari jalan bunyi-bunyian dari benda-benda yang dipukul membentuk sebuah irama. Klotekan, namanya. Rombongan anak-anak asyik melakukan tradisi klotekan ini. Mereka memukul-mukul kentongan, botol, kaleng makanna, dan benda-benda lainnya membentuk rangkaian nada yang harmonis. Mereka pun membangunkan warga untuk bersiap sahur. "Sahuurrr...sahurrr...".

Saat itu masih masuk liburan sekolah sehingga anak-anak menikmati suasana bulan Ramadan dengan menjalankan tradisi klotekan. Aku masih merasai tradisi tersebut saat masih berkuliah dan bekerja di Surabaya.

Waktu Imsa' dan Subuh di Surabaya memang lebih awal daripada di Jakarta. Subuh di Surabaya sekitar pukul 04.00 sehingga pukul 02.30 dini hari kami biasanya sudah bersiap-siap untuk sahur. Adanya klotekan itu membuatku terbangun tanpa weker. Aku sangat terbantu dan kini aku merindui suasana tersebut.

Tradisi Ramadan berikutnya yang masih langgeng di berbagai daerah yaitu bergantian menyiapkan makanan takjil dan makanan berat untuk berbuka puasa di masjid. Hampir setiap warga mendapat giliran menyiapkan makanan secara bergotong-royong. Makanan tersebut bisa dinikmati siapapun, baik warga setempat yang berbuka puasa dan beribadah sholat Maghrib di masjid, maupun para musafir dan pengunjung dari luar kampung.

Tradisi ini masih berjalan, baik di lingkungan kampung halamanku di Malang, maupun di lingkungan tempat tinggalku saat ini di bilangan Jakarta Timur. Untunglah budaya gotong-royong ini masih terawat hingga kini.

Tradisi nyekar atau berziarah kubur juga masih banyak dilakukan hingga saat ini. Biasanya nyekar dilakukan saat sebelum puasa dan usai sholat Idul Fitri. Banyak yang memilih pulang kampung saat menjelang puasa untuk berziarah ke makam keluarganya.

Tradisi nyekar masih berlangsung hingga saat ini (sumber: nu.or.id)
Tradisi nyekar masih berlangsung hingga saat ini (sumber: nu.or.id)
Tradisi nyekar ini kemudian melebar sehingga bukan hanya makam keluarga yang dikunjungi dan didoakan, akan tetapi juga makam para tokoh nasional dan mereka yang dihormati, seperti makam para wali, makam Gus Dur, dan mereka yang dihormati di Jakarta. Makam Mbah Priuk, misalnya.

Pesantren kilat juga merupakan tradisi yang berlaku di lingkungan sekolah dan lingkungan tempat tinggal. Sejak SD hingga aku berkuliah pernah mencicipi pesantren kilat, baik yang diadakan di sekolah maupun yang acaranya diselenggarakan di pesantren atau di masjid.

Biasanya pesantren kilat diadakan seharian penuh atau dalam beberapa hari. Kami mendengarkan kultum, praktik membaca Al-Quran, sholat berjamaah dan dilanjutkan kegiatan lainnya hingga waktu berbuka puasa tiba. Acara pesantren kilat kemudian dipungkasi dengan berjamaah menjalankan ibadah sholat tarawih.

Pengalaman unik kurasakan ketika mengikuti pesantren kilat tiga hari dua malam di sebuah masjid di Bangkalan, Madura. Sholat tarawih 20 rakaat di sana berjalan begitu cepat. Lebih cepat daripada yang biasa kutemui di masjid di Malang. Pada rakaat kedelapan akupun menyerah.

Pesantren kilat banyak dilakukan saat Ramadan (sumber: sekolahdasar.net)
Pesantren kilat banyak dilakukan saat Ramadan (sumber: sekolahdasar.net)
Tradisi berikutnya yaitu pawai obor. Biasanya pawai obor ini dilakukan malam hari jelang lebaran. Kami membawa obor sambil menyenandungkan takbir berkeliling jalan. Dulu waktu aku masih kecil hingga remaja aku suka mengikutinya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Kurma Selengkapnya
Lihat Kurma Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun