Dewi Puspasari
Dewi Puspasari Penulis dan Konsultan TI

Suka baca, dengar musik rock/klasik, & nonton film unik. Juga nulis di https://dewipuspasari.net dan www.pustakakulinerku.com

Selanjutnya

Tutup

Hiburan Artikel Utama

"Sekala Niskala", Mitos Si Kembar dan Tradisi Bali yang Kental

10 Maret 2018   22:54 Diperbarui: 11 Maret 2018   08:47 1355 5 3
"Sekala Niskala", Mitos Si Kembar dan Tradisi Bali yang Kental
Film Sekala Niskala yang banyak raih penghargaan (sumber: 21cineplex.com)

Seorang suster berkata kepada Tantri, ia beruntung menjadi kembar pengantin, kembar laki-laki dan perempuan. Ia dan Tantra akan saling melengkapi dan membutuhkan. Namun, suster tersebut sebenarnya tidak tahu perasaan Tantri saat itu. Ia sangat sedih saudara kembarnya harus masuk rumah sakit. Ia merasa kesepian.

Tantri (Ni Kadek Thaly Titi Kasih) tidak tahu penyebab Tantra (Ida Bagus Putu Radithya Mahijasena) harus dirawat. Yang ia tahu sebelumnya diam-diam Tantra mengambil telur sesaji dan meminta Tantri menggorengnya menjadi telur ceplok. Tantri telah memeringatkannya, khawatir Ibunya (Ayu Laksmi) marah, tetapi Tantra hanya tertawa.

Sejak itu Tantri dan ibunya harus sering bermalam ke rumah sakit. Tantri sering tidak bisa tidur. Jika siang harinya ia enggan masuk kamar inap Tantra, tapi saat malam ia suka mengobrol dengannya, apalagi saat malam bulan purnama. Keduanya punya cerita tersendiri. Ibunya diam-diam tahu kedua anaknya menyimpan rahasia.

Tantri makin sedih ketika melihat saudara kembarnya makin lemah. Ia melakukan berbagai cara agar saudara kembarnya seperti dulu. Ia juga berharap agar sakit Tantra juga dirasakannya, agar Tantra tak sendirian menderita.

Film yang meraih berbagai penghargaan internasional tersebut akhirnya tampil di rumahnya sendiri. Sekala Niskala (The Seen and Unseen) yang disutradarai Kamila Andini ini telah tampil di berbagai festival film mancanegara bergengsi seperti Toronto International Film Festival, Jogja NETPAC Asian Film Festival, Busan International Film Festival. 

Film ini juga berhasil meraih penghargaan film terbaik di Jogja NETPAC Asian Film Festival, film terbaik Asia Pacific Screen Awards 2017 untuk kategori film remaja, film terbaik Tokyo FILMeX dan film terbaik Festival Film Internasional Berlinale 2018 untuk kategori Generation Kplus International Jury. Film ini makin menguatkan potensi Kamila Andini sebagai sineas perempuan berbakat. Kamila sebelumnya terlibat dalam The Mirror Never Lies.

Film ini menarik perhatianku sejak membaca sinopsis singkatnya. Anak kembar laki-laki dan perempuan memang punya mitos tersendiri yang menarik. Mereka kerap disebut memiliki ikatan emosi yang kuat. Jika satu sedang merasa sedih atau sakit, maka saudara kembarnya bisa merasakannya. Keduanya disebut akan saling melengkapi dan akan kesulitan jika dipisahkan.

Cerita dunia riil dan gaib (sumber:sinopsisfilm21.com)
Cerita dunia riil dan gaib (sumber:sinopsisfilm21.com)
Tantri dan Tantra memang sangat dekat. Saat menyantap telur ceplok, Tantri akan memilih putih telurnya saja, sedangkan bagian kuningnya diperuntukkan bagi Tantra. Keduanya sering terlihat hanya bermain berdua dan asyik dengan permainan mereka tersendiri.

Spoiler Alert!

Selain menggambarkan kedekatan emosional si kembar pengantin, film ini juga lekat dengan simbol-simbol dan tradisi masyarakat Bali. Menyiapkan sesaji dengan benar menjadi salah satu kegiatan yang harus dikuasai oleh anak perempuan sejak dini. Jika tidak dilakukan dengan tepat bisa jadi ruh leluhur akan marah.

Peran telur juga penting dalam sesaji atau ubarampe. Telur bisa bermakna awal mula kehidupan, sisi yang berlawanan, siang dan malam. Telur ini memberikan peran dalam film ini, sehingga adegan ketika Tantri mengupas telur rebus dan tidak menemukan kuning telur terasa begitu emosional.

Sinematografinya indah. Pemandangan sawah pada saat dini hari dengan terang bulan purnama nampak misterius dan dramatis. Tata musiknya juga menawan dan pas. Beberapa adegan terasa hening, hanya suara dari sesuatu yang misterius.

Di beberapa adegan saya merasa film ini memang begitu misterius dengan kehadiran makhluk-makhluk yang menambah nuansa mistis. Jika adegan-adegan mistis ini diperkuat maka Sekala Niskala ini bisa jadi film horor yang indah.

Unsur tradisi Bali sangat kental dalam film. Unsur tersebut terlihat dalam penggunaan tutur bahasa, kebiasaan adu ayam yang masih eksis meski jaman sudah modern dan penyayang hewan semakin banyak, sembahyangan di pura, juga tradisi musik dan tariannya.

Pemeran Tantri,Ni Kadek Thaly Titi Kasih, menjadi bintang dalam film ini. Film ini merupakan film debutnya sebagai pemeran utama. Ia mampu bermain secara natural. Interaksi dengan pelaku film lainnya juga enak dinikmati. Adegan saat ia menari di malam terang bulan purnama begitu mengagumkan. Selain Thaly, pemeran Ibu dalam Pengabdi Setan, Ayu Laksmi, juga memberikan kontribusi dalam film ini sebagai ibu anak kembar tersebut. Ia mampu berdialog dengan dialek Bali, bernyanyi dan juga memainkan musik tradisional.

Film ini memiliki alur yang lamban. Ceritanya sarat simbol. Sekat antara kejadian riil dan sesuatu yang mistis begitu tipis. Film ini indah sehingga layak jika banyak menerima pujian dari juri festival film mancanegara. Sayangnya di kampung halamannya, film ini hanya tayang dengan layar terbatas. Tadi saya hanya nonton bertujuh, sangat kontras dengan jumlah penonton film Tomb Raider. Bagi yang belum menonton, segeralah menonton,  karena bisa jadi minggu depan studio yang memutar Sekala Niskala akan semakin terbatas atau malah filmnya sudah turun layar.

Detail Film:

Judul: Sekala Niskala (The Seen and Unseen)

Sutradara : Kamila Andini

Pemeran : Ayu Laksmi, Ida Bagus Putu Radithya Mahijasena, Ni Kadek Thaly Titi Kasih, I Ketut Rina, dan Happy Salma

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2