Dewi Puspasari
Dewi Puspasari Peneliti dan Penulis Freelance

Saya hobi membaca dan mendengarkan musik rock+new age. Artikel saya lainnya tersedia di http://dewipuspasari.net dan www.pustakakulinerku.com

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi highlight

Dari Cokelat Praline, Tahu Bakso, Hingga Kerajinan Flanel

13 Oktober 2017   08:24 Diperbarui: 13 Oktober 2017   11:23 584 0 0
Dari Cokelat Praline, Tahu Bakso, Hingga Kerajinan Flanel
Dulu waktu kuliah aku dan kawan-kawan berjualan cokelat praline buatan sendiri (sumber: dewipuspasari.net)

Berjualan dulu tidak ada dalam kamusku. Rasanya aku cukup pemalu dan tidak begitu percaya diri untuk menawarkan barang. Namun, ketika mendapat tim ataupun rumusan yang pas, membuat sesuatu dan kemudian menjualnya itu sebuah aktivitas yang menarik. Kedua kakakku juga demikian, mereka pun merintis berbagai usaha dari membuat boneka flanel, berjualan tahu bakso, hingga memiliki stan bubur bayi.

Aku masih ingat pengalamanku menawarkan barang dagangan dari produk buatan sendiri itu pada sebuah bazaar di SMA. Seorang panitia memintaku ikut berjualan di stan bazaar pada H-3, membuat kelimpungan apa yang hendak kujual. Selain tidak ada modal, aku juga tidak punya bayangan apa yang bakal kubuat. Kakakku memberikan ide untuk membuat berbagai benda kerajinan dan kertas daur ulang. Maka aku dan kakakku pun kemudian membuat kertas daur ulang dari kertas koran dan kertas-kertas yang tak terpakai. Pewarnanya kami menggunakan warna dedaunan, kunyit, dan lainnya dari pewarna kue. Bahan-bahan itu kemudian kami jemur agar siap digunakan sore keesokan hari.

Aku tidak ahli membuat kerajinan. Maka aku pun menjadi asisten kakak untuk memotong-motong dan mengelem. Kami tambahkan biji-bijian kering dan cangkang kerang sebagai hiasan. Akhirnya jadilah kotak pensil, pigura, dan tempat menyimpan kartu nama. Di luar ekspektasiku, semua daganganku itu laris-manis. Aku pun membagi dua keuntungan tersebut bersama kakak. Kakak sendiri bersama kawan-kawannya kemudian serius menggeluti usaha kerajinan daur ulang itu. Alat-alatnya pun lebih canggih sehingga hasil kertasnya lebih halus dan rapat. Ia menitipkannya ke sejumlah toko dan lumayan berhasil. Ia pun mendapat tambahan uang saku lumayan besar hingga lulus kuliah dan bekerja di tempat lain.

Serunya Berwirausaha Cokelat Praline

Memang tidak semua menyukai cokelat dan makanan manis, tapi peminat cokelat itu besar, termasuk kaum dewasa. Gara-gara mata kuliah wirausaha, maka aku dan kelima temanku kemudian serius menggeluti usaha cokelat praline. Sebelumnya, kami melakukan riset kecil-kecilan, berapa jumlah patungan untuk modal, dimana membeli cokelat dan kemasannya, serta bagaimana mempromosikan dan menjualnya.

Katakan dengan cokelat. Itu menjadi salah satutagline kami. Setelah melakukan uji coba, kami pun siap menawarkan produk kami. Sasaran kami siapa lagi kalau bukan teman-teman di kampus. Kami pun menyiapkan sampel untuk icip-icip dan brosur sederhana.

Saat itu perjalanan wirausaha kami berjalan lamban. Pembelinya seputar kawan-kawan kami saja. Akhirnya kami nekat berjualan saat wisuda. Hari pertama sepi dan hanya laku dua kotak. Tapi hari berikutnya laris-manis. Sejak itu kami mulai bersemangat untuk menawarkan cokelat, membuat kemasan yang lebih menarik, dan mencoba menitipkannya ke toko-toko kue.

Yang paling susah sebenarnya membuat kemasan. Kami menyisihkan waktu untuk membuat kemasan dari karton yang tebal. Kami gunakan mika sebagai tutup dan kami hiasi dengan pita emas. Kami membuat kotak untuk isian tiga cokelat hingga yang membuat tujuh cokelat. Untuk varian rasanya kami melakukan sesi uji coba. Kami membeli beberapa jenis cokelat, cokelat susu, dark choco, cokelat stroberi, white choco, cokelat blueberry, kemudian kami coba padukan dengan isian seperti karamel, mede, almond, dan kismis.

Awal desain kemasan kami (sumber: dewipuspasari.net)
Awal desain kemasan kami (sumber: dewipuspasari.net)

Kami punya dua toko sebagai klien kami. Setiap beberapa hari sekali kami menyetorkan dan mengambil uang hasil penjualan. Sebagian kami gunakan untuk membeli alat dan modal, sebagian lainnya kami sisihkan untuk dibagi nanti.

Usaha cokelat praline kami ini lama-kelamaan cukup populer. Kami menggunakan nama Frauline Socholade. Selain menitipkan ke toko-toko, kami juga memberi peluang ke teman-teman untuk menjadi reseller. Tapi akhirnya usaha kami ini terpaksa berhenti setelah aku lulus kuliah. Kawanku dan kakakku meneruskan usaha ini, tapi tidak semoncer waktu kami masih komplet menjalankan usaha ini.   Terbesit niat untuk kembali membuka usaha ini suatu hari.

Dari Tahu Bakso, Kerajinan Flanel, Hingga Bubur Bayi

Rupanya kedua kakakku diam-diam memiliki bakat berwirausaha. Setelah mencoba berbagai produk, akhirnya kakak laki-laki berfokus pada usaha kuliner. Ia pun berjualan tahu bakso. Awalnya ia membuka stan di halaman minimarket. Akan tetapi karena biaya sewanya cukup mahal, maka ia pun menitipkannya ke berbagai toko kue di Malang. Hasilnya lumayan.

Kakak perempuanku setelah resign dari kantornya kemudian memanfaatkan kepiawaiannya membuat barang kerajinan. Ia kemudian memutuskan membuat kerajinan kain flanel. Setelah melakukan survei singkat dan kemudian belajar secara ototidak, ia pun siap berjualan. Ia membuat blog dan laman di facebook untuk berpromosi. Hasilnya luar biasa. Ia banjir pesanan, untuk membuat bando, mainan peraga, boneka, suvenir pernikahan, dan masih banyak lagi. Karena kewalahan memenuhi pesanan akhirnya ia mengajak para perempuan di dekat tempat tinggalnya untuk bergabung. Ia mengajari mereka untuk membuat kerangka boneka dan membeli ke mereka dengan harga yang pantas.

Bingkai foto dari kain flanel buatan kakak (sumber: maiaflanel.wordpress.com)
Bingkai foto dari kain flanel buatan kakak (sumber: maiaflanel.wordpress.com)

Tahu bakso jualan kakak (sumber: pustakakuliner.com)
Tahu bakso jualan kakak (sumber: pustakakuliner.com)

Tak puas dengan hanya kerajinan flanel, ia pun belajar membuat kerajinan dari bahan lainnya. Ia membeli mesin jahit dan belajar membuat boneka dan tas dari bahan-bahan selain flanel.  Ia kemudian juga membuka stan bubur bayi dari bahan-bahan non pestisida atau bahan organik sehingga aman bagi bayi. Meskipun sibuk ia menikmatinya. Anak-anaknya pun kemudian jadi tertular untuk berwirausaha. Mereka membuat kerajinan dan menjualnya ke teman-teman sebaya mereka.

Siapapun Bisa Jadi Wirausaha

Saat ini siapapun bisa jadi wirausaha. Tidak harus memiliki stan atau produk buatan sendiri. Mereka bisa jadi reseller dan menawarkannya di marketplace atau kanal media sosial mereka.  Para sepupuku sekarang aktif berdagang untuk menambah uang saku. Apa saja bisa laku, menitipkan mie telur buatan sendiri di kantin atau berjualan kaus kaki lucu-lucu lewat media sosial. Aku pun memanfaatkan marketplace dan blog untuk berjualan buku second dan miniatur pesawat tempur.

Dari hasil pengalaman dan pengamatanku ada banyak sisi positif ketika seseorang berwirausaha. Yang pertama ia jadi aktif melihat kondisi sekelilingnya dan mencari peluang, sisi positif lainnya yaitu membantu rasa percaya diri, optimis, dan jeli mengatur keuangan.  Wirausaha juga berdampak ke lingkungan, membuka lapangan kerja baru dan memberikan ketrampilan ke orang-orang di sekeliling seperti kakakku yang mengajari para perempuan di sekitarnya untuk belajar membuat kerajinan flanel. Jika usahanya semakin sukses maka orang-orang yang merasakan dampaknya akan semakin luas. Gairah UMKM ini terlihat jika kita mengunjungi pameran-pameran UMKM dimana mereka terus aktif meningkatkan kualitas dan kuantitas produknya agar bisa diterima di pasar yang lebih luas, syukur-syukur bisa ekspor.

Toples juga bisa dihias menarik (sumber: maiaflanel.wordpress.com)
Toples juga bisa dihias menarik (sumber: maiaflanel.wordpress.com)

Oh ya jika Kalian atau orang-orang yang di sekitar Kalian merupakan wirausahawan yang sukses dan memberikan dampak besar ke sekeliling yuk daftarkan ke ajang penghargaan  Danamon Entrepreneur Awards 2017. Ajang ini diadakan secara rutin sejak tahun 2006. Ada tiga kategori, yaitu untuk UMKM, social entrepreneur yaitu wirausahawan yang fokus pada pemberdayaan masyarakat, dan fintech entrepreneur.  Kalian bisa menominasikannya hingga 20 Oktober. Selain mendapatkan hadiah yang besar bagi juaranya sebagai modal peningkatan usaha, para pemenangnya juga bakal mendapatkan beragam fasilitas pengembangan dari Danamon. Asyik, kan?!

Coba lihat sekeliling Kalian, siapa tahu ada peluang menarik. Membuat desa wisata yang berwawasan lingkungan, atau membuat oleh-oleh khas daerah bisa jadi peluang yang menarik karena bisnis pariwisata yang masih cerah.