Devi Aryani
Devi Aryani

Pingin jadi penulis. Masih tahap belajar nulis .

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Artikel Utama

Guru dan Ambisinya Berujung pada Perubahan Anakku

9 Juni 2018   06:59 Diperbarui: 9 Juni 2018   12:39 2307 9 5
Guru dan Ambisinya Berujung pada Perubahan Anakku
Sumber: wearethemighty.com

Hari ini hatiku terpukul, saat mendengar langsung dari gurunya bahwa anakku terancam tidak naik kelas. Sedih yang tiba-tiba melanda membuatku menyesal telah mengabaikan kemauannya untuk pindah kelas saat itu. 

Anakku yang saat ini memasuki kelas IX (sembilan) harus pindah sekolah dikarenakan nilainya tidak memenuhi KKM dari beberapa mata pelajaran pokok yang diujikan dan mata pelajaran lainnya. Tidak pernah menyangka akan seperti ini jadinya.

Perubahan drastis anakku ini sangat memukul hatiku saat dia menaiki kelas 8 SMP. Anakku yang awalnya sangat semangat sekali belajar dari sekolah dasar berubah menjadi anak yang memberontak. Alasannya simpel sebenarnya, dia hanya ingin pindah kelas. 

Faktor ketidaknyamanan inilah yang membuatnya ingin sekali pindah kelas, katanya murid rata-rata di kelas itu adalah perempuan. Aku saat itu hanya terus menasihatinya dan tak jarang kadang di saat anakku malas belajar aku membentaknya. Aku paham bahwa dia tidak nyaman, sampailah pada saat aku dipanggil oleh guru wali kelasnya.

Guru wali kelasnya berkali-kali memanggil aku untuk datang ke sekolah. Pertama kali saat aku dipanggil beliau ke sekolah, gurunya bilang anakku banyak sekali berubah dalam pelajarannya. Nilai-nilai dan keaktifannya sudah mulai berkurang tidak seperti saat kelas VII yang sangat dirindukannya. 

Aku pun bilang kepada anakku, untuk berubah seperti dulu, dan lagi-lagi dia bilang, "aku pingin pindah sekolah ma, males perempuan semua, mama gak ngerti sih, males. Aku masih tetap tidak menggubrisnya. Aku masih menyemangatinya dan mencoba untuk memberi perubahan kepada anakku. 

Hari demi hari perubahannya semakin banyak. Perilakunya menjadi lebih memberontak, waktunya belajar pun tidak seperti saat dia kelas VII. Aku rindu anakku yang dulu. Anakku yang semangat belajarnya, anakku yang bahkan ingin sekali mempunyai guru privat, anakku yang sehari-harinya menghabiskan waktunya untuk belajar, dan bisa mengontrol untuk menggunakan hp. Tapi tidak untuk saat ini.

Akhirnya panggilan kedua, aku disuruh lagi ke sekolah. Kali ini anakku menangis di depan gurunya dan aku saat itu untuk meminta pindah kelas. Saat itu aku setuju dengan anakku, dan aku pun berusaha untuk memohon dipindahkan kelasnya. Tapi seperti biasannya wali kelasnya sangat keukeuh sekali berupaya mempertahankan anakku tetap di kelasnya, dengan alasan bahwa ia ingin anakku yang dulu, dengan mengubah karakternya kembali lagi. 

Aku lagi-lagi kalah untuk memperjuangkan anakku. Bahkan sampai gurunya memberikan pulpen 1 PAC dan mencoba berbicara kepada anakku untuk tetap dikelasnya. Oke semester satu dia masih baik-baik saja, tetapi semester dua anak ini menjadi jadi, bahkan dia (anakku) menyampaikan pendapatnya bahwa ia ingin pindah sekolah dan menyesal menjadi murid pintar. Yah saat kelas VII dia mendapat peringkat 7 dan aktif sekali bertanya. Apapun dia tanyakan. Sampai kadang kakaknya kesal dibuatnya. 

Panggilan demi panggilan mengajakku untuk datang ke sekolah, panggilan ketiga lebih memukul perasaanku, aku merasakan banyak ketidaksukaan oleh guru-guru terhadap anakku. Bahkan anakku mendapat julukan Syarif oleh seorang guru. Ah kesal rasanya aku tidak mengurusnya sejak awal untuk pindah kelas .

Demi ambisi seorang wali kelas yang ingin sekali tetap mempertahankan anakku untuk tetap di kelasnya yang anakku sendiri tidak nyaman berada di sana. Padahal sejatinya ini sudah melanggar haknya sebagai murid,. Bukankah belajar itu butuh kenyamanan. 

Anakku lebih memberontak, ia bahkan sudah tidak mau belajar sama sekali. Saat ditanya kenapa tidak belajar, jawabannya males. Dia selalu menyalahkan keadaannya. Menyesal menjadi murid pintar, hanya itu yang dia selalu katakan. "Aku mau pindah kelas, coba mama ngomong ama Ibu Nanana (nama seorang guru yang tidak kusebutkan namanya). 

Dan pada akhirnya panggilan terakhir yang kuutarakan pada berujung ya anakku terancam tidak naik kelas. Aku pun berusaha menjelaskan betapa perubahan sebenarnya anakku ini karena ibu sebagai wali kelasnya tidak mau memindahkan nya ke kelas yang lain. Ah tapi percuma, semuanya sudah terlambat. Tidak ada yang harus disesali. Anakku pun bisa naik tetapi harus pindah sekolah, atau tetap tinggal di kelas VII. 

Inilah yang terjadi pada anakku dan betapa aku ingin sekali orang tua yang lainnya lebih peduli kepada anaknya dalam hal kenyamanan belajar jangan sampai terjadi pada anak-anak anda. Dan untuk guru-guru yang lainnya, tolong jangan terlalu berambisi untuk mengubah karakter anak. 

Tolong berikan kenyamanan saat ia belajar, sayangi mereka, bukan menekan mereka. Saya tidak mau ini terjadi pada anak-anak lainnya.

Kemudian yang saya sesali adalah ketidakberpihaknya guru- guru yang lainnya untuk mempertimbangkan untuk memberi kesempatan, jangan hanya melihat satu sisi tapi beberapa sisi lainnya. Anak ini cukup cerdas, ia bahkan tampil saat perpisahan kelas, tapi tidak ada apresiasinya dari sekolah, kemudian permainan bolanya juga sangat bagus.

Tolong berikan kesempatan kepada anak-anak yang lainnya untuk menyuarakan pendapatnya, bukan mematahkannya demi sebuah ambisi. Kalau masalah administrasi aku yakin hanya untuk pindah kelas itu sangat mudah sekali diurus.

Akhirnya saya pun menuruti anak ini untuk pindah ke sebuah pondok, hal ini tidak mudah buat saya sebagai seorang ibu yang harus berpisah dengan anaknya, padahal setiap harinya ada di rumah. Saya terus membayangkan apakah ia akan nyaman dengan sekolah barunya, walaupun saya yakin dia bisa mengikuti pelajarannya. Tapi saya sekarang lebih memikirkan kepada kenyamanan anakku. Jangan sampai ini terulang lagi. 

Mohon doanya untuk anakku agar mempunyai semangat belajar lagi dan bangkit dari keterpurukannya. Dari ibu yang begitu amat memperhatikan pendidikan anaknya. Terimakasih