Cerpen

Gadis Bianglalamu

13 Juni 2018   12:05 Diperbarui: 13 Juni 2018   12:29 283 1 0
Gadis Bianglalamu
dok.pribadi

Kurasa tidak ada rindu yang menyakitkan selain terpisah dengan jarak. 

Kurasa semua orang tidak akan merasa baik setelah kehilangan. 

Kurasa tidak ada manusia yang siap akan sebuah kepergian.

Prakata yang pernah kau ucapkan lenyap begitu saja. Seperti ini.

"Im lucky enough to find u"

"Beruntung sekali aku darl bisa sama kamu"

"Terimkasih sudah menemaniku begadang. Aku sudah baikan. Gak sakit lagi giginya."

"Itu kamu yang nulis semua. Hmm thankyou"

Dinginnya malam kala itu. Tepat pukul 11 malam kamu pulang. Selama pertemuan kita tak banyak prakata terucap. Aku tau kamu lelah karena menungguku lama. Jika alasanmu meninggalkan aku setalah itu adalah karena itu kenapa diam waktu itu.

"Aku sudah sampai"

Dan itu menjadi percakapan terakhir sebelum akhirnya benar-benar berakhir. 

Entah sebab dari segala ini apa. Berkali-kali mengubungi kamu entah lewat segala aplikasi yang pastinya enggan kamu buka. Hingga akhirnya aku terpaksa mengalah.

Baiklah. Kembali pada masa tanpa kamu. Semua baik saja. Sebelum beberapa waktu kemudian kamu membuat instastory dengan wanita berkacamata menikmati indahnya kota dengan bianglala. Yang menyayat hati mengoyak batin adalah selama bersamaku sepertinya saat kita bersama, berjalan berdua, pertemuan kita tak pernah sekalipun kamu abadikan. Aku rasa hanya aku kala itu. 

Aku tak marah jika alasan kepergianmu karena kebosanan kebersamaan kita dan kamu lebih nyaman dengan gadismu itu. Aku tidak akan pernah marah sayang. Percayalah. Bukankah sejak awal sudah aku tekankan 'Aku tidak ingin jatuh sendirian. Jika kamu hanya main-main. Mari kita berteman saja' nyatanya apa? Kamu menggengamku erat sangat erat lalu berbisik.

"Aku tidak pernah main-main. Untuk apa aku main-main?" 

Seperti sihir. Aku juga berulang kali sampaikan bukan 'Kalo ingin pergi. Tolong jangan pergi begitu saja. Setidaknya bilang' dan kamu mengiyakan. 

Pada nyatanya. Kamu mendaki bersama gadis bianglalamu itu. Hingga puncak Mahameru. Dan aku terpaku. Sekarang aku tau. Dia lebih mengenal kamu dengan baik daripada aku. Akhirnya kamu menemukan lalamu. Dan itu bukan aku. Dia gadismu  gadis yang kamu ajak dari Pamitra hingga Mahameru yang kamu ajak bersama menaiki biangalala. Dan bukan aku.