Mohon tunggu...
Desti Noer Ambarwati
Desti Noer Ambarwati Mohon Tunggu... Seorang pelajar

Jangan mundur sebelum melangkah

Selanjutnya

Tutup

Novel

Novel | Maafkan Aku, Bu

13 Januari 2020   19:31 Diperbarui: 14 Januari 2020   04:53 85 2 0 Mohon Tunggu...

Aku Nadia, terlahir dari keluarga yang entah kemana ibunya. Ayah bilang, ibu pergi karena ia lebih memilih laki-laki lain dibandingkan dengan ayahku. Aku sedih. Aku tidak bisa melihat wajah ayah lagi. Ayah telah meninggal dunia karena kecelakaan. Kini aku tinggal bersama adikku, Naura.


Kota yang sunyi, malam telah menelan semua isi keramaian ini. Suara burung mencekam menusuk bintang di langit malam. Hujan deras mengguyur atap rumahku, sudah reda namun rintiknya masih terasa. Jarum jam yang berputar tak terhenti bagaikan komedi putar di malam hari. Perlahan mataku membuka, melihat dunia yang tiada arti. Hingga saat ini, aku masih membenci ibuku sendiri.


Entahlah, kehidupan ini memang di atur oleh Maha Kuasa. Aku hanya bisa menerima garis takdir. Takdir tak selalu sama dengan apa yang aku impikan. Terkadang jauh dari harapan, membuat tak bertahan dan masuk ke lubang penderitaan. Dan aku, mengalami nya. Banyak hal yang membuat air mataku mengalir. Itulah alasan kenapa aku benci pada ibuku, dia tak pernah memberitahu dimana dia berada ketika aku sangat membutuhkan nya. Hingga saat ini aku tak tahu siapa dan seperti apa wajah ibuku.


"Assalamu'alaikum."
"Siapa sih malam-malam gini, kak?" dengan rasa penasaran.
"Gatau ra," geleng-geleng kepala. "Yaudah biar aku aja yang buka" pergi membuka pintu.
"Wa'alaikumsalam, siapa ya?" merasa bingung.
"Ini Nadia? Kamu cantik sekali. Anak ibu sudah besar." Sambil memeluk.
"Siapa kamu? Apa maksudnya dengan menyebutkan bahwa kamu ini ibu?" melepaskan pelukannya.
"Ini ibumu, nak. Maafkan ibu..."
"Jadi ini .., pergi, pergi kamu dari sini!!!"
"Tunggu nak, ibu akan jelas---"
"Aku benci sama ibu, ibu datang setelah ayah meninggal. Ibu kemana ketika aku membutuhkan asi ibu? Ibu kemana ketika aku mulai belajar bicara? Ibu kemana ketika aku ingin dibuatkan kue seperti anak yang lain bu? Kemana bu? Dan sekarang, ibu tiba-tiba datang ketika ayah sudah meninggal. Sadar ga bu, aku ini perempuan sama seperti ibu... Hmm memang benar kata ayah, ibu telah mengkhianati ayah."
"Nadia, dengarkan penjelasan ibu dulu nak. Kamu salah paham. Kamu tidak tahu yang sebenarnya seperti apa, sayang." sang ibu menangis.
"Ibu gausah panggil aku sayang. Karena sampai kapan pun aku tetap benci sama ibu!!!"
"Di luar siapa sih, kok malah ribut." merasa heran, "Aku kesana aja kali ya." ujar Naura yang merasa bising diluar rumah.
"Kaka!!!" Naura menahan Nadia yang akan menampar wanita paruh baya itu.
"Apa-apaan sih kamu!"
"Naura sayang ..." memeluk Naura.
"Ini ibu?" dengan rasa terharu.
"Iya, nak."
"Ibuu..." sambil memeluknya, "Aku kangen ibu, aku mohon jangan tinggalkan kami lagi, bu."
"Kak, ini ibu kita ... Bukannya kaka ingin bertemu dengan ibu?"
"Diam kamu!!!" masuk ke dalam rumah.
"Ibu akan tinggal bersama kalian, ibu akan berusaha menembus semua kesalahan ibu. Tapi asal Naura tau, ibu tidak bersalah sayang." sambil menatap matanya.
"Aku yakin ibu tidak pernah berniat untuk meninggalkan kami saat kami masih kecil, bu"


Wanita paruh baya itupun yang tidak lain adalah ibunya sendiri, tinggal bersama Nadia dan Naura di rumah almarhumah ayahnya.


***


Bulan pergi meninggalkan gelap, matahari menyiratkan keemasannya di ufuk timur. Ketika cahaya bersinar, menembus celah-celah kecil jendela. Udara sejuk menyentuh hingga ke raga. Hembusan angin terdengar mendesah berirama. Bunga pagi serentak merekah merona. Ketika bunga tidur terbuyarkan oleh mata. Mata yang awalnya terpejam, kini terbuka nyata. Tandanya aku harus siap-siap pergi ke sekolah.


"Nadia, kemari nak .. Ibu sudah menyiapkan sarapan untukmu." Kata ibuku
"Males" dengan singkat.
"Tapi kak.." kata sang adik, Naura.
"Brukkk.." aku pun langsung pergi dengan membanting pintu rumahnya.
"Bu, kenapa ya kak Nadia selalu saja marah pada ibu?" dengan rasa penasaran.
"Mungkin kak Nadia sedang buru-buru de.. Sudahlah cepat habiskan sarapanmu!"
"Baik, bu."dengan makanan yang masih penuh di mulutnya.


Akupun pergi ke sekolah. Sekolah ku di SMA Negeri 1 Jakarta. Hari pertama sekolah duduk di bangku kelas 10 SMA. Adikku Naura masih SMP, dia sekolah di SMP Negeri 4 Jakarta. Kami berdua dimasukkan oleh ayah di sekolah terfavorit di Jakarta. Itulah alasannya kenapa aku sangat menyayangi ayahku. Dia adalah orang yang bisa membahagiakan kedua putrinya.


"Hai, namaku Nadia... duduk denganku yuk" dengan suara riangnya.
"Syila, aja" sembari melontarkan senyum manisnya.
Hari itu, aku punya teman baru, namanya Syila. Dia baik dan pintar. Setelah pulang, aku di ajak main kerumahnya.
"Nad, mampir dulu ke rumah yuk"
"Ayo.." dengan sigap Nadia menjawabnya.
Sampailah dirumahnya. Ketika masuk ...
"Waw rumahmu besar sekali, Syil ..."
"Ah tidak, ini rumah kedua orangtua ku."
"Seandainya ayah ada di sini bersamaku, mungkin aku akan hidup semewah ini, ga kaya sama ibu yang serba berkecukupan." gumam hatinya.
"Silahkan duduk, Nad. Aku ambilkan kamu minum ya."
Setelah seharian penuh dirumah Syila, akupun pulang. Aku memang benci ibuku, tapi aku tahu, aku harus segera pulang.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam, kemana aja sayang?"
"Ibu gausah so peduli" dengan wajah datarnya.
"Ibu sudah masakan untukmu, nak."
"Aku sudah makan." berjalan ke arah kamarnya.


***


Seminggu ini, aku telah kehilangan ayahku, untuk selamanya. Aku kehilangan banyak waktu untuk bersenang-senang bersamanya. Mungkin sekarang keadaannya sudah berbeda, tapi mungkin juga belum. Selama aku belum tahu yang sebenarnya, aku akan tetap menganggapnya seperti itu.


Kring ... Kring ...
"Pagi anak-anak."
"Pagi, bu." dengan serentak.
"Ibu akan menyampaikan beberapa pengumuman, karena besok bertepatan dengan hari ibu, besok kalian datang bersama ibu kalian memakai baju tradisional."
"Yeeee... Baik, bu." serentak, kecuali aku.
"Aku ga mungkin bawa ibu ke sekolah." gumam hatiku
"Bu, kalau---kalau ibuku sudah---" dengan nada terbata-bata
"Sudah apa Nadia?" dengan rasa penasaran
"Su---sudah meninggal, bu? tangannya bergetar, ia sadar bahwa dirinya telah membohongi semua orang bahkan dirinya sendiri.
"Oh ya sudah tidak apa-apa, Nad. Besok kamu datang saja seperti biasa tetapi tetap memakai baju tradisional."
"Baik, bu"
"Nad, makan diluar yuk?"
"Hmm .., aku ga bawa uang banyak, Syil."
"Gapapa pake uang ku aja, yuk "
"Hmm .., ayo deh "


Mereka pun akhirnya memutuskan untuk makan di sebuah cafe yang tidak jauh dari sekolahnya.


***


Kertas putih di balut pena hitam, berisi tulisan gadis manis yang suram. Inilah kebiasaan ku. Menuliskan keluhan di buku catatan harian ku.


Hari ibu. Bagiku tidak akan pernah ada hari itu. Entah kenapa aku masih belum bisa memaafkannya. Aku begitu kecewa ketika dia hilang dan sekarang muncul begitu saja. Aku sadar, surga itu katanya berada dibawah telapak kaki ibu. Entahlah ini begitu sulit bagiku. Aku belum terbiasa hidup dengannya. Walaupun aku mulai menyadari, bahwa ia memiliki hati yang begitu tulus.

Jakarta, 8 Januari 2020


"Kak Nadiaaaaa?"
"Apa, Ra?" aku merasa terganggu.
"Di panggil ibu tuh."
"Ngapain sih orangtua itu manggil-manggil aku segala." dengan judesnya.
Nadia pun pergi menghampiri wanita paruh baya itu.
"Ngapain sih manggil aku?"
"Duduk dulu, nak." sambil menarik tangan Nadia.
"Ayo kak sini ..."
" Ibu mau bilang bahwa rumah ini akan disita oleh pihak perusahaan karena dulu ayah telah menggadaikan sertifikat rumah ini untuk membayar utang-utangnya."
"Apa? Jadi, kita gakan tinggal di rumah mewah ini lagi?" dengan kagetnya. "Ini semua gara-gara ibu!!!" Aku pun pergi ke arah kamarku.


***

Hari baru dengan rumah yang baru. Kini aku tinggal dirumah sederhana, sangat-sangat sederhana. Pagi ini, aku bangun dengan malas. Sepertinya sisa-sisa kegelisahan ku tadi malam tentang hari ibu terbawa hingga saat ini. Aku tahu hal itu akan membuat kerutan di wajah ku bertambah, tapi mau bagaimana lagi?! Aku sudah berusaha melupakannya tapi gagal. Hari ini di mana teman-temanku berbahagia merayakan bersama ibunya di sekolah sedangkan aku? TIDAK. Iya, tidak akan pernah membawanya, dan tidak akan pernah memaafkannya. Aku tidak seperti Naura adikku. Yang baru tujuh hari di tinggal ayah tapi ia bisa canda gurau dengan ibuku.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x