Mohon tunggu...
Deri Prabudianto
Deri Prabudianto Mohon Tunggu... Hanya orang biasa

Hidup ini indah kalau kita bisa menikmatinya.

Selanjutnya

Tutup

Novel

Dia Bukan Jodohmu (PPP Eps. 15)

14 September 2019   04:42 Diperbarui: 14 September 2019   04:46 0 0 0 Mohon Tunggu...
Dia Bukan Jodohmu (PPP Eps. 15)
Dokpri

" Iwan, kalau dia bukan jodohmu, sekeras apapun kamu memperjuangkannya, dia tetap akan jadi milik orang lain. Ini kodrat yang tak bisa dihindari. Maukah kamu mengerti?"
" Aku sakit hati padanya. Aku ingin menyiksanya agak lama."
" Seberapa lama? Bukankah kamu sudah membuat 5 pria ngacir dari hatinya? Apakah itu belum cukup? "
" Belum. Karena dia terus mencari pria lain tanpa memikirkan kami sudah mantenan tujuh kali."
" Oke. Aku bukan apa-apanya. Aku hanya diminta sebagai medium untuk bertemu dan berbicara denganmu. Aku tak bisa menjanjikan apa-apa. Aku mengerti kamu sakit hati akibat dia menipumu dengan cinta palsu, senyum palsu, janji-janji palsu. Tapi itu sering kok dilakukan manusia. Kamu sudah tiba disini,  kota teramai di Indonesia, kamu pasti sudah melihat betapa banyaknya kepalsuan manusia, janji-janji yang diingkari, senyum yang dipaksakan, atau senyum yang menipu. Terutama janji saat kampanye. Anggaplah apa yang terjadi di antara kalian dimasa lalu adalah sebuah film yang diproduksi seorang produser. Film itu sudah berakhir, tamat. Kamu meninggal, akan terlahir kembali dengan kondisi yang lebih baik, akan mendapatkan wanita yang lebih mencintaimu, atau mencintaimu dengan sepenuh hati. Lupakanlah Mita. Dia hanya aktris yang terpaksa menjalani nasibnya akibat tidak mahir matematika. Aku yakin dia berhasil meraih S-3 dengan  memanipulasi guru, dosen, atau  mentor untuk mendapatkan nilai kelulusan. Wanita semacam ini tak pantas kamu cintai, Iwan. Maukah kamu melepaskannya? "
Andi mendelik mendengar omongan DC. Ia marah DC merendahkan anaknya. Nyonya Tulani berdiri di pintu, berdiri dengan sikap pasrah.
" Aku yang mengajarinya memanipulasi nilai agar lulus termasuk menyogok guru dan dosen. Kalau kamu marah Mita, lebih baik kamu membalas padaku, Iwan."
DC kaget mendengar ucapan nyonya Tulani. Apakah seorang ibu selalu melindungi anaknya, termasuk menanggung kesalahan yang dilakukan anaknya? Kenapa Andi Tulani tidak bisa seperti istrinya?
DC menatap Andi Tulani. Yang ditatap diam mematung. " Aku yang memberinya uang untuk menyogok dosen dan guru. Balaslah padaku, Iwan." Ucap Andi Tulani lemah dan lesu.
DC rasanya ingin bersorak. Beginilah seharusnya sebuah keluarga. Saling melindungi. Saling mendukung. Bukan saling mencaci-maki.
" Aku tak peduli ! Aku hanya ingin membalas perbuatan Mita."
" Apa yang ingin kamu lakukan, Iwan ?" tanya DC berusahaa tetap sabar.
" Akan kuajak pulang !"
" Pulang kemana, Iwan ? " tanya DC.
" Pulang ke Jambi. Akan kubuat dia meraung raung di kampungku mengakui semua keculasannya agar semua orang tahu dia menipuku !"
" Setelah itu kamu akan melepaskannya ?" tanya DC.
" Tidak. Akan kubuat gila."
Nyonya Tulani berseru keras seakan digigit ular, sedangkan Andi Tulai melotot tak berdaya. " Tolonglah, DC. Aku tak ingin anakku gila... tolonglah aku, DC..." Andi Tulani mulai menangis.
DC mengedipkan matanya. Ia mengajak Andi Tulani dan istrinya keluar. Mereka kembali ke ruang tamu. DC duduk, suami istri itu ikut duduk.
" Begitulah kalau arwah marah. Sulit dibujuk. "
" Tolonglah kami, DC... Kami tak ingin Mita menjadi gila... kami tak sanggup membayangkannya... tolonglah kami, DC..." ucap Andi dan istrinya bergantian.
" Ini diluar kemampuanku, tapi bukan berarti aku akan diam saja. Kurasa aku harus meminta bantuan seseorang, bahkan dua orang. Ini memerlukan biasa besar. Apa kalian sanggup mengeluarkan biaya besar untuk menyelamatkan Mita ?" tanya DC.
Suami istri itu mengangguk. Andi menambahkan, " Seberapa besar? Apakah mencapai 1 m ?"
" Dua tiket pp Jakarta-Bangkok berserta akomodasi selama mereka berada di Indonesia atau selama masa pengobatan berlangsung."
Suami istri itu saling tatap. Nyonya Tulani menyanggupi duluan. Andi Tulani mengekori.
Jonatan Ferdi mengeluarkan hape. Jakarta Bangkok waktunya sama. Ia mendial sebuah nama di buku telponnya. Agak lama baru diangkat.
" Tinh ?" tanya.
" Halo, lama tak berjumpa, apa kabar, Jo?"
" Tinh, aku sehat. Tapi butuh bantuanmu."
" Silahkan diutarakan. Kalau mampu, pasti kubantu."
" Pendeta Somdej To  yang dulu mengatasi Nyona Nak ( Nangnak) apakah masih hidup?" tanya DC. Andi Tulani dan istrinya menatap DC dengan sikap bingung, heran mendengar DC berbicara dengan seseorang melalui hape dalam bahasa Thai. Berbicara tentang Nyonya Nak. Seingat Nyonya Tulani, itu sebuah film horror yang diproduksi di Thailand.
" Beliau sudah meninggal. Ada apa, Jo?"
" Ada pembalasan roh terhadap wanita yang menipunya semasa hidup. Roh itu mengancam akan membuat wanita itu menjadi gila. Bisa bantu, Tinh?"
Ketika bekerja di Taiwan, Jonatan Ferdi bertemu banyak tenaga kerja dari berbagai negara, salah satunya adalah Nguyen Tinh yang berasal dari Thailand. Keduanya sering bertukar pikiran tentang hal-hal horor baik di Indonesia maupun Thailand. ( Baca Kunti Lover untuk mengikuti pertemanan Jonatan Ferdi dengan Nguyen Tinh dan cara-cara menghadapi makluk halus. Saat itu Jonatan Ferdi belum berkenalan dengan Daniel W Asmara, belum ditawari menjadi Dewa Cinta).
" Wah, ini masalah berat. "
Wajah DC berubah suram. Andi dan istrinya langsung ikut muram walau tak tahu apa yang dibicarakan DC.
" Tolonglah, Tinh. Demi kemanusiaan."
" Bentar ya, coba kuhubungi beberapa rekanku. Nanti kuhubungi kalau aku mendapat kabar baik,"
" Baik. Makasih, Tinh." DC menutup telpon. Nyonya Tulani langsung menyerbunya dengan hujan permintaan tolong. DC menceritakan apa yang barusan ia bicarakan dengan Nguyen Tinh, meminta nyonya Tulani bersabar.
Mereka kembali ke kamar Parmita. Kembali duduk seperti semula.
" Iwan, apa keinginanmu yang tidak terpenuhi sebelum meninggal ?" tanya DC.
" Menjadi bapak anak anak Parmita,"
DC meringis mendengarnya. " Selain itu ?"
" Sarjana matematika."
" Iwan, kalau kuberi kamu gelar sarjana matematika, apakah kamu sudi melepaskan Parmita?"
" Membeli ijazah palsu  apa gunanya ?"
" Nah, itu dia. Kamu sudah meninggal, apa gunanaya ijazah sarjana matematika. Begitu juga keinginanmu terhadap Parmita. Dia manusia, kamu roh, apa gunanya Parmita kalau kamu sudah jadi roh? Roh takkan beranak, takkan menjadi ibu anak anakmu,"
" Dia menipuku. Aku sakit hati. Dan sakit hati harus dibalas setimpal."
" Tunggu, kupikir dulu, saat dia mantenan denganmu itu SD, di bawah 12 tahun, sekarang usianya 29, berarti,----"
" 17 tahun dia menipuku. Aku berhak membuatnya gila selama 17 tahun."
" Jangaaaannnn !!!" terdengar teriakan dari pintu, lalu Nyonya Tulani mulai menangis.
" Iwan, kalau kamu membalas sekeji itu, kamu sulit reinkarnasi loh," kata DC.
" Peduli amat !"
Perlahan, sebuah musik mulai mengalun, DC hapal  suara panggilan hapenya. Ia berkata, " Sebentar ya, Iwan... Aku menerima panggilan sebentar diluar." DC berdiri dan berjalan keluar, Andi Tulani mengekorinya. Nyonya Tulani malah masuk dan memeluk tubuh anaknya dan menangis lebih hebat lagi.
DC setibanya di ruang tamu menyentuh layar hapenya.
" Ya, Tinh. Ada kabar baik ?"
" Ya, kabar baiknya adalah, Pendeta Somdej To mempunyai seorang murid bernama Chacuk Talongkorn. Dia bersedia membantumu. Tapi dia pendeta, hidup dari derma, gimana mau ke Jakarta?" tanya Nguyen Tinh.

 Bersambung

KONTEN MENARIK LAINNYA
x