Deri Prabudianto
Deri Prabudianto Penulis fiksi

Wa/sms 0856 1273 502

Selanjutnya

Tutup

Novel

Namaku Awai 267-268

31 Juli 2018   05:43 Diperbarui: 31 Juli 2018   05:45 765 0 0
Namaku Awai 267-268
gambar sampul novel

Setelah 5 bulan bekerja, Awai mulai hapal orang orang yang makan di Sudi Mampir, termasuk siapa yang suka merumpi sambil makan dan minum kopi. Ada 3 orang yang selalu duduk paling dekat dengan dapur. 

Tiga orang pria muda yang tegap. Yang mengherankan, setiap Awai membawa piring kotor ke dapur, ketiga pemuda itu diam. Dan jika Awai sudah ke depan, ketiga pemuda itu ngobrol setengah berbisik.

Ketiganya sering datang bersamaan, tapi waktunya tidak tetap. Terkadang jam 8 pagi, jam 9, jam 11, terkadang jam 2 sore. Sesekali telunjuk mereka diarahkan ke belakang dapur. Disana terbentang laut yang luas. Pada mulanya Awai cuek, tapi lama kelamaan ia penasaran dan pasang kuping sambil duduk di meja kedua dari belakang.

" Malam ini pasang jam 11 malam. " kata salah satu pria.

" Apa Akui sudah memberi kode aman ?" tanya pemuda yang lain.

Tidak terdengar jawaban. Mungkin jawabannya berupa anggukan atau gelengan.

" Akui sangat membantu. Tak ada yang curiga padanya. Aku heran, kemana ia menghilang di siang hari ?"

" Di atas pohon bakau, tidur agar malam bisa membantu kita mengawasi bete. "

" Malam ini kita berangkat. Ayo cepat makan, aku mau tidur sampai jam 8 malam."

Awai segera berjalan ke depan. Ia mengumpulkan 3 cangkir kosong, dibawa ke dapur untuk dicuci, saat melewati meja terakhir, ia menatap ketiga pemuda itu. Ia tak kenal ketiga pemuda itu.

Sambil mencuci gelas ia bertanya pada dirinya, siapa yang dimaksud Akui oleh ketiga pemudaitu? Kenapa siang tidur di pohon bakau ? Pohon bakau penuh ranting. Mana mungkin orang bisa tidur di pohon bakau kecuali membuat gubuk di atas pohon.

Ketiga pemuda itu setelah makan membayar di kasir, lalu pergi. Awai mendekati Hsu Natan.

"Apa paman kenal ketiga pemuda itu ? "

" Kenal. Mereka nelayan penjala ikan. Tinggal di Damon. Kenapa kamu bertanya ? Ingin salah satu dari mereka menggantikan posisi Tiong It di hatimu?" goda Hsu Natan.

Awai membuat wajahnya meringis, tapi enggan menjawab. Hsu Natan ketawa.

" Kudengar ibumu berhenti main dan kamu yang memaksa ibumu berhenti. Hebat kamu, Wai." Puji Hsu Natan. " Apa yang kamu janjikan agar ibumu berhenti ? " tanya Hsu Natan.

Awai tak suka berbohong pada orang yang baik padanya. Ia menjawab jujur." Putus dengan Tiong It."

Hsu Natan mendelik. " Apa !! Kamu rela ?"

" Rela gak rela tetap harus rela. Kalau engga rumah tergadai kami tinggal dimana?"