Deri Prabudianto
Deri Prabudianto Penulis fiksi

Hanya orang biasa

Selanjutnya

Tutup

Novel

Namaku Awai 227-229

9 Juli 2018   07:15 Diperbarui: 9 Juli 2018   07:17 341 1 1
Namaku Awai 227-229
sampul novel

Meski kepalanya sobek, hanya dibalut dengan daun inai yang ditumbuk halus, Awai tetap ke kedai kopi untuk bekerja. Rasa sakit ditahannya sedapat mungkin. Hsu Natan melihat Awai sering merintih sambil memegang kepala, bertanya kenapa Awai merintih. Awai mengatakan kepalanya terbentur pintu. Hsu Natan memeriksa luka itu. Ia tak yakin dengan omongan Awai. Ia ke toko obat untuk membelikan obat luka dan obat pereda rasa sakit.

" Ini bukan luka biasa. Apa ibumu memukulmu ?" tanya Hsu Natan dengan wajah menyelidik.

Awai mengangguk lemah. Mengangguk terlalu kuat kepalanya nyut-nyutan.

" Ibumu sudah gila. memukul anak separah ini. Apa dikiranya nyawamu tak berharga. Aku akan ke rumahmu memakinya !" ucap Hsu Natan berang.

" Jangan, paman Hsu. Awai pembangkang, pantas dipukul mama. Ini kesalahanku, bukan salah ibuku,"

" Kamu masih membela ibu sejahat itu ?" tanya Hsu Natan dengan wajah tak percaya.

" Awai dilarang bergaul dengan Tiong It. Awai tak patuh. Kalau Awai patuh, pasti tidak dipukul mama."

Mata Hsu Natan mendelik." Sore kemarin ibumu membenamkanmu ke laut, malamnya kamu dipukul hingga kepalamu terluka. Kamu masih membelanya ?"

" Itu karena aku membangkang, paman Hsu. Andai aku menurut, ibu takkan semarah itu."

Hati Hsu Natan luruh mendengar omongan Awai. Andai ia punya anak sebaik ini, ia pasti menyayangi Awai sebagaimana seorang ayah mencintai anaknya.

" Cinta selalu membawa kepedihan. Apa kamu kapok bertemu Tiong It setelah ini ?" tanya Hsu Natan.

Awai menggeleng pelan. " Di dunia ada banyak takdir. Mungkin aku ditakdirkan menderita karena dicintai seseorang."

" Dicintai ? Apa kamu tak mencintai Tiong It ?" tanya Hsu Natan.

" Suka, tapi cinta sesuatu yang sulit kuraih. Aku cukup puas andai tak bisa mencintai, cukup suka saja."

Hsu Natan mengelus kepala Awai. Ia bersimpati atas nasib Awai. Namun ia tak mungkin ikut campur. Kalau ia ikut campur, pasti Awai semakin parah disiksa Lim Huina.

Tiong It terbengong di ruang kerja ayahnya. Ia teringat apa yang dialaminya semalam. Mereka duduk di dermaga. Tiba tiba muncul ibu Awai. Selama ini ibu Awai tak pernah ke pasar, kenapa bisa tiba-tiba muncul dan langsung ke ujung dermaga?

Pasti ada seseorang yang tahu aku sering ke dermaga untuk menemui Awai. Pasti ada seseorang yang mengekoriku ke sana untuk menemui Awai. Siapa orang itu ? Kenapa harus mengadu pada ibunya Awai ? Orang itu pasti membenciku, atau membenci Awai. Siapa orang itu ?

Dua jam Awai tenggelam. Benarkah di dermaga itu ada Hantu Laut ? Dunia jam tenggelam kenapa Awai masih hidup ? Dan, yang lebih mengherankan, saat ditarik ke dermaga perut Awai membuncit, saat ditinggalkan perut awai masih buncit, kenapa saat ia tiba di ujung dermaga perut Awai kempes ? Apa Hantu Laut itu mengisap air di perut Awai?

" Tiong It. Aku ingin membeli es balok !"

Tiong It terlonjak dari lamunan. Di pintu ia melihat seorang gadis berdiri. Sinar matahari dari luar membuat wajah gadis itu terlihat mirip bayangan hitam.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2