Deri Prabudianto
Deri Prabudianto Penulis fiksi

Hanya orang biasa

Selanjutnya

Tutup

Novel

Namaku Awai 219-221

5 Juli 2018   06:12 Diperbarui: 5 Juli 2018   07:37 435 0 0
Namaku Awai 219-221
dokpri

"Dasar pembangkang ! Kamu berdosa pada arwah nenek moyangmu. Kucuci dosamu dengan air laut !" Huina sangking geram menyeret anaknya ke pinggir dermaga, lalu dengan sekuat tenaga ia mendorong Awai ke laut.

Awai tak berani melawan. Ia pasrah didorong. Air sedang pasang. Burr ! Tubuhnya tercemplung ke laut. Ia pandai berenang. Segera ia timbul dan berusaha berenang ke dermaga.

Tiong It berlari ke tempat Awai jatuh. Ia melihat Awai berenang menuju ke arahnya. Awai basah kuyub. Air laut kotor bercampur dengan makanan sisa yang dibuang tadi, " Awai ! Ulurkan tanganmu, aku akan menarikmu naik !"

Huina geram melihat Tiong It berusaha menolong Awai. Ia mendorong Tiong It ke pinggir. Dilihatnya ember yang dibawa Awai tergeletak di dermaga. Ia mengambil ember itu, menyedok air laut, lalu dituangkan ke kepala Awai. Setiap kepala Awai muncul di permukaan air, Huina menyiram kepala anaknya dengan air. Awai meski pintar berenang, karena disiram dari atas, banyak air laut yang masuk ke mulutnya. Ia mulai kenyang air laut. Perutnya mulai menggembung.

" Awai ! Awai !!! " teriak Tiong It panik. Ia berusaha terjun ke luat, namun niatnya dihalangi Huina. Setiap ia berusaha ke pinggir, Huina menghadang di depannya.

" Ini urusan keluargaku, kamu tak berhak ikut campur ! Pulang sana !" maki Huina.

" Bibi, tolong biarkan Awai naik. Aku takut dia tenggelam." Tiong It memohon dengan nada ketakutan. Semakin lama Awai semakin kehabisan tenaga. Lama kelamaan pasti kehabisan nafas akibat air masuk ke paru parunya.

"Biarkan dia tenggelam daripada jadi anak durhaka ! Aku sudah melarangnya bergaul denganmu, dia tetap melakukannya ! Aku benci pembangkang ! Lebih baik dia mati tenggelam daripada menjadi duri dalam keluargaku !"

"Bibi, tolonglah mengerti. Awai bermarga Tan, dia tak terlibat dalam pertikaian antara keluarga Lim dan Han ! Tolong biarkan dia naik, bibi Huina !"

"Dia anakku ! Sekarang aku kepala keluarga menggantikan suamiku ! Dia harus patuh padaku, ikut aku membenci keluargamu !"

Setiap Awai memegang ujung kayu dermaga, kaki ibunya bergerak untuk menginjak tangan anaknya. Jemari Awai seakan remuk. Akhirnya ia tak kuat lagi.

"Bibi ! Awai tenggelam !" seru Tiong It ketika melihat gelembung udara muncul di permukaan air.

Huina tak percaya. Ia tetap menjaga Tiong It agar tidak melompat ke laut untuk menolong Awai. Hingga akhirnya ia tak mendengar suara apapun di belakangnya. Ia mengamati permukaan laut. Sebuah benda terapung, mirip punggung manusia. Barulah ia sadar bahwa Awai sudah kehabisan nafas. Timbul rasa takutnya. Bagaimana kalau Awai benar benar mati?

Saat ia terbengong, Tiong It mengambil kesempatan itu melompat ke laut untuk menolong Awai. Ia menyeret tubuh Awai menjauh dari Huina, ia menarik tubuh itu naik ke dermaga.

Huina terbengong. Lalu timbul niat jahatnya.

" Kalau dia mati, akan kusebar ke seluruh Bengkalis bahwa kamu yang mendorong Awai ke laut ! " Huina menyambar sepedanya dan segera berlalu dari dermaga itu.

Tiong It mendengar ancaman Huina. Ia ketakutan. Tapi demi Awai, apapun resiko akan diterima. Ia membalikkan tubuh Awai. Ditekan-tekan dada Awai. Perut Awai kembung, tapi air tak mau keluar. Tiong It kebingungan. Ia harus mencari pertolongan. Ia tak bisa menyeret tubuh Awai ke pasar, badan Awai pasti lecet dan terluka andai diseret. Segera ia berlari ke pasar untuk mencari bantuan. Ia melihat tukang kepiting. Ia memohon tukang kepiting itu membantunya. Tukang kepiting itu ternyata baik, bersedia membantu Tiong It, ia menyimpan dagangannya ke dalam tong agar kepiting-kepitingnya tidak kabur. Keduanya berlari ke ujung dermaga.

Saat keduanya tiba di ujung dermaga, keduanya kaget. Di ujung dermaga itu Awai masih tergeletak, tapi ada seseorang yang sedang jongkok sambil mendekatkan mulutnya ke mulut Awai. Orang itu berpakaian wanita, tapi wajahnya dibalut dengan kain hingga yang tampak hanya matanya. Pakaian wanita itu basah kuyub, seakan muncul dari dasar laut.

" Hei, apa yang kamu lakukan !" teriak Tiong It panik, mengira wanita itu ingin menggigit bibir Awai. Ia menduga wanita itu orang jahat. Orang baik takkan membalut wajahnya dengan kain.

" Aku mau menghisap darahnya !" balas wanita itu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2