Deri Prabudianto
Deri Prabudianto Penulis fiksi

Wa/sms 0856 1273 502

Selanjutnya

Tutup

Novel

Namaku Awai 172-174

11 Juni 2018   09:12 Diperbarui: 11 Juni 2018   09:21 840 0 0
Namaku Awai 172-174
Dok.pribadi

" Paman Hsu mengatakan, semua bakpao yang tak laku setelah jam 3 boleh kubawa pulang. Apa papa tahu kenapa Paman Hsu begitu baik pada kita ?" tanya Awai sambil menatap ayahnya makan. Ia menggerak-gerakkan kaki papanya. Dokter mengatakan kaki Tan Suki harus sering digerakkan agar jangan kaku seperti ranting kayu. Setiap ada kesempatan Awai selalu menarik kaki papanya, ditekuk-lurus bergantian agar mirip berjalan di halaman.

Ayahnya tidak menjawab. Awai mengulurkan tangannya. Tan Suki menulis di telapak tangan Awai : Dia ingin aku menjaga rahasianya.

" Rahasia apa, papa ?" tanya Awai.

Tan Suki menulis. Aku tak boleh memberitahumu. Aku berjanji tutup mulut, tak akan mengatakan pada siapapun.

Awai tidak mendesak. Ia tahu papanya orang yang memegang teguh janjinya. Ia tak ingin ayahnya dinilai ingkar janji terhadap sahabatnya.

Tidak semua makanan dimakan habis oleh pemesannya. Ada kalanya lontong masih bersisa separo, mie goreng atau kwetiau dimakan dagingnya, mienya ditinggalkan separo. Awai berani memakan makanan sisa itu jika tidak diaduk-aduk oleh pembelinya. Soalnya ia malas pulang di tengah hari untuk makan siang. Panas, selain itu naik sepeda pulang pergi butuh waktu setengah jam.

Yang jarang bersisa itu mie siram kuah kacang. Mienya direbus, diberi separo telor rebus, dihiasi sedikit toge rebus, lalu disiram dengan kuah kacang yang kental, ditaburi kerupuk. Awai sering menelan ludah melihat orang makan mie siram kuah kacang. Tapi belum ada yang makan separo lalu ditinggalkan.

Makanan sisa dikumpulkan dalam sebuah ember. Terkadang ada pemelihara bebek yang datang mengambil. Jika tidak diambil, makanan sisa itu dibuang ke laut untuk makanan ikan. Awai membawanya ke ujung dermaga di belakang pasar sayur. Ikan-ikan berebut memakannya. Sesekali ia menatap ke dermaga pasar ikan. Terkadang ia melihat seorang gadis duduk di ujung dermaga pasar ikan. Siapa gadis itu? Kenapa sering duduk seakan kurang kerjaan? Jarak antar dermaga itu tidak terlalu jauh. Hanya berjarak sekitar 50 meter. Ia segan memanggil gadis itu.

Setiap sore ia membawa pulang beberapa butir bakpao. Papanya tak pernah bosan memakan bakpao. Sejak ia bekerja, ia jarang melihat ibunya sepulang kerja. Kemana ibunya pergi ? Kenapa selalu pulang jam 6 sore ?

Sore ini, saat ia sedang menuang makanan sisa ke laut, sebuah sepeda melaju hingga ke ujung dermaga. Dermaga pasar sayur lebih kecil, hanya sepeda yang bisa masuk.

" Hai ! Aku dengar kamu sudah mendapat pekerjaan, " Sepeda Tiong It berhenti tak jauh dari tempat Awai menuang makanan sisa.

Awai tersenyum." Sudah. Aku jadi pencuci piring di kedai kopi paman Hsu. " Awai mencuci ember dengan dicelupkan ke air laut." Panjang juga peciumanmu, baru seminggu aku bekerja kamu sudah berhasil mengendusku hingga kesini," ledek Awai. Semua bebannya terangkat setelah ia bekerja. Kini ia bisa menunjukkan wajah girang.

Tiong It senang melihat keceriaan Awai. " Aku meminjam hidung kelinci. "

" Kurasa aku bukan wortel, kenapa dicium dengan hidung kelinci?. " balas Awai.

" Kalau begitu, aku salah ngomong. Aku meminjam hidung Tepakkai" ( Tepakkai, siluman babi dalam cerita Ke Barat Mencari Kitab Suci).

Awai tertawa. " Kenapa kemari? Disini tak ada makanan, yang kubuang tadi makanan sisa. Kenapa tak menunggu di kedai kopi saja ? Bisa menunggu sambil ngopi sore, "

" Paman Hsu mengatakan jam kerjamu sudah usai. Aku ingin mengantarmu pulang. " ucap Tiong It langsung ke tujuan.

" Aku bawa sepeda. Mana mungkin kamu mengantarku pulang. " balas Awai.

" Tadi aku minta diantar Asian supaya bisa mengantarmu pulang dengan sepedamu." Tiong It tertawa lebar.

" Ih, curang. Itu sepeda siapa ? " tanya Awai.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2