Mohon tunggu...
Deri Prabudianto
Deri Prabudianto Mohon Tunggu...

no

Selanjutnya

Tutup

Novel

"Beauty and the Beast" [29]

9 Februari 2019   05:32 Diperbarui: 9 Februari 2019   05:37 0 1 0 Mohon Tunggu...
"Beauty and the Beast" [29]
Dokpri

Episode 29

Dengan memegang jimat ia tak merasa takut. Ia berharap bertemu si Hantu Jutek, atau si Anak Kecil. Kalau bertemu, ia akan mengatakan ia sudah mengetahui apa yang dialami para korban kerusuhan saat terjadi Tragedi Jakarta.  
Bukan roh anak hangus itu yang ditemuinya, sebaliknya ia melihat si Wanita Bercadar berjalan ke arah jalan Kemenangan. Aldi tak ingin memanggil. Gerakan Wanita Bercadar itu cepat sekali. Aldi harus berlari untuk mengejar. Gadis Bercadar berjalan secepat angin, sebentar saja Aldi ketinggalan jauh. Saat ia tiba di belokan, ia melihat Gadis Bercadar melompat lalu memanjat tiang listrik, melompat lagi ke balkon sebuah ruko. Andi mengejar hingga ngos-ngosan. Tibalah ia di ruko tempat Gadis Bercadar menghilang. Ia melongo. Ruko itu baru ditinggalkan setengah jam yang lalu, bernomor 84, tempat tinggal kakek Oyong.
" Apa Gadis Bercadar itu cucu kakek Oyong ? Jangan-jangan kakek Oyong bukan manusia, tapi sudah meninggal. " Sejuta pikiran bermain di benak Aldi, membuatnya lesu. Ia berjalan pulang ke rumahnya.

Di atas genteng, dua sosok duduk santai seakan sedang duduk di sebuah taman.
" Kamu diikuti,"
" Siapa ? Apa ada yang curiga siapa aku ?"
" Si Pipis di Botol tadi berkeliaran di depan rumah kakek, mengetuk pintu. Untung kakek tak mendengar gedorannya."
" Pasti kamu menyamarkan gedoran itu dengan nyanyianmu, " Bayangan Bercadar itu mengambil tangan yang tidak bercadar, menggenggamnya seakan tangan ini miliknya.
" Kenapa kali ini kita begitu sulit mengusir pengganggu kita ?" tanya yang tidak bercadar.
" Dia pernah meminta kelonggaran. Katanya ia bertahan demi adiknya yang butuh biaya masuk perguruan tinggi. Dia hanya ingin tinggal setahun di rumahku. Entah kenapa aku merasa kasihan padanya." Ucap yang bercadar, ekspresinya tertutup cadarnya.
" Jangan lemah, Meilan ! Nanti kamu kehilangan rumahmu ! Ingatlah, kamu lahir di rumahmu, orangtuamu sejak kecil tinggal disitu, mereka tak sudi menjual rumahnya. Kamu harus menjaga rumah itu agar tetap jadi milikmu. Usir dia !"
" Kamu, kenapa kamu antar dia ke tukang bakpao itu, Melli ? Kenapa tak melemparnya ke kali ? "
Melli enggan beradu tatap dengan Meilan. Kepalanya didongakkan seakan sedang menikmati gemerlap bintang di langit. " Dia selalu mengunjungi si bakpao. Cantik juga si bakpao, kurasa si Pipis di Botol itu jatuh cinta pada si  Bakpao. " Melli terkekeh.
" Kamu pasti punya rencana jahat terhadap mereka." Ucap Gadis Bercadar yang dipanggil Meilan oleh temannya.
" Kalau mereka pacaran, mungkin si Pipis di Botol pindah tinggal bersama si Bakpao. Bebaslah kamu dari gangguannya."
" Namanya Aldi Nofian, bukan si Pipis di Botol,"
" Kamu yang mengatakan dia pipis di botol, hihihi."
" Kamu yang membuatnya ketakutan, "
" Kenapa kamu selalu membelanya
? " kepala Melli diturunkan untuk memelototi Meilan.
Gestur Meilan salah tingkah." Itu... itu karena aku sering mencuri makanannya."
" Dia tinggal gratis di rumahmu, sudah sepantasnya berbagi makanan denganmu." Melli kembali menatap ke atas.
" Kakekmu gimana kesehatannya? "
" Memburuk. Aku sungguh cucu tak berguna, tak bisa ke toko obat membeli obat untuk kakek. Aku roh yang payah ! "
" Aku tak leluasa keluar di siang hari. Pernah ada yang ingin merenggut cadarku, penasaran ingin melihat wajahku, sejak itu aku menunggu malam baru keluar mencari makanan."
" Aku paham kesulitanmu. Aku takkan menyusahkanmu." Ucap Melli, ekspresinya berduka. " Aku sayang kakek, tapi aku tak berdaya menolongnya. Sungguh aku roh tak berguna, " keluh Melli.
Meilan memeluk Melli, keduanya larut dalam suasana haru. Tiba tiba Meilan melepas pelukan, menatap Melli dengan mata berbinar.
" Aku berhasil memancingnya menemuimu dengan tulisan di pintu. Bagaimana kalau kuminta dia membelikan obat untuk kakekmu ?" kata Meilan.
" Dia sudah melihat wajahku, dia takkan sudi !" ucap Melli ketus.
" Apa salahnya mencoba ? Demi kakekmu."
" Kamu saja yang coba. Aku ogah ikut campur. Aku turun untuk menjaga kakek. Kamu pulanglah,"
Meilan mengangguk. Melli melompat ke bawah, terjun bebas bak layang-layang putus talinya. Mirip orang sedang bunuh diri. Meilan berjalan di atas genteng, berpindah dari satu atap ke atap lain. Tiba di gang kecil barulah ia merayap turun dengan tangannya. Ia berjalan menuju gang Bahagia. Ia merayap naik ke teras atas dan menghilang.

KONTEN MENARIK LAINNYA
x