Mohon tunggu...
Densa Story
Densa Story Mohon Tunggu... Penulis - Content Creator

Seorang yang ingin belajar kreatif, melalui tulisan yang edukatif, sehingga dapat menginspirasi banyak orang.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Merayakan Natal dalam Kemiskinan, Sanggupkah?

23 Desember 2020   11:58 Diperbarui: 24 Desember 2020   10:32 221
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Setiap tahun, kita selalu merayakan Natal dengan sangat meriah. Hari Natal yang sebenarnya hanya 1 hari itu dirayakan sejak akhir November sampai awal Januari. Natal ibarat "Lebaran" orang Kristiani, yang identik dengan dekorasi, kumpul keluarga, pesta, makan-makan, dan piknik. Natal selalu lebih heboh dari Paskah, padahal menurut liturgi Gereja status Paskah lebih tinggi dari Natal. Tapi entah mengapa, Natal selalu heboh dirayakan, mungkin juga karena sekalian merayakan Tahun Baru, sehingga dekorasi Natal juga sekaligus dekorasi Tahun Baru.

Tahun-tahun sebelumnya setiap akhir November, mal-mal, hotel, dan tempat wisata sudah berhias dekorasi Natal untuk menyambut pengunjung. Mal-mal di kota besar adu gengsi dengan memberikan dekorasi Natal sebagus mungkin untuk menarik perhatian pengunjung. Bangun pohon Natal setinggi-tingginya dengan lampu sebanyak mungkin, sampai mengadakan pesta kembang api yang bisa dinikmati oleh semua orang. Semuanya bersukacita bukan hanya orang Kristen saja, tapi semua orang non Kristen ikut bersukacita. Natal membawa sukacita dan damai sejahtera bagi semua orang.

Orang-orang Kristen sibuk sekali mempersiapkan Natal, baik itu di gereja atau di rumahnya. Di gereja mereka latihan paduan suara, latihan musik, latihan membaca kitab suci, latihan tata gerak untuk putra-putri altar (khusus di Gereja Katolik), mulai dekor gereja sampai sebanyak-banyaknya. Semuanya dilakukan berhari-hari demi merayakan Natal yang hanya satu hari saja itu. Gereja-gereja mulai pasang tenda untuk menampung jemaat yang membludak. Seperti biasa, moment Natal dan Paskah adalah kesempatan jemaat yang tidak pernah ke gereja jadi ke gereja. Inilah orang-orang yang ke gereja hanya setahun dua kali. Hayo ngaku, siapa yang seperti ini?

Ternyata perayaan Natal tidak hanya dipusatkan di gereja-gereja. Melainkan ada Gereja yang sampai merayakan Natal secara rutin di Stadion Utama GBK. Mereka mengundang semua orang Kristen untuk hadir di situ, dan acaranya sangat meriah, mulai dari sore sampai malam. Jemaat yang jumlahnya puluhan ribu orang itu menyalakan lilin-lilin, sehingga SUGBK menjadi romantis sekali, dinyanyikan lagu "Malam Kudus" dan renungan Natal. Acara pun diakhiri dengan pesta kembang api seperti Asian Games 2018, yakni kembang apinya muncul dari atas atap SUGBK. Senang sekali, perayaan Natal rasa Asian Games. Dan untuk menyaksikan ini semua, pihak Gereja tidak memungut biaya sedikitpun alias gratis.

Foto: suara.com
Foto: suara.com
Kembang api di SUGBK. Foto: BeritaSatu.com
Kembang api di SUGBK. Foto: BeritaSatu.com
Tapi tahun 2020 ini sungguh berbeda. Kita terkena dampak pandemi Corona dan resesi ekonomi. Kita yang biasa berkerumun untuk merayakan Natal harus terpisah. Dekorasi-dekorasi di mall dan gereja pun dikurangi/ditiadakan untuk berhemat. Di rumah-rumah, mereka yang masih punya pohon Natal kembali memasangnya tahun ini. Tapi bagi yang kemarin pohon Natalnya diberikan kepada orang lain, kini tak bisa membeli lagi karena terkena dampak resesi ekonomi. 

Yang biasa beli kue-kue dan makanan sampai di rumah sudah kayak warung pun lenyap tahun ini. Tidak ada Natalan rasa Asian Games di Stadion Utama GBK, bahkan mau Natalan di gereja masing-masing pun ada yang bisa, ada yang tidak bisa. Sebab kapasitas gereja yang sesuai dengan aturan jaga jarak tak bisa menampung semua jemaatnya. 

Belum lagi ada aturan batas umur, yang anak-anak dan lansia dilarang masuk gereja sebab dianggap rentan tertular virus Corona. Akhirnya, ibadah Natal yang biasa berkerumun sebanyak mungkin orang itu, kini harus dirayakan dihadapan smartphone, komputer/laptop, atau smart TV masing-masing. Bila mereka tidak punya perangkat ini atau tak punya pulsa kuota, hanya bisa melamun mengharapkan pertolongan dari-Nya.

Ibadah live streaming (Foto: Tribun Jateng-Tribunnews.com)
Ibadah live streaming (Foto: Tribun Jateng-Tribunnews.com)
Tahun ini kita terpaksa memperingati Natal dalam kemiskinan, hanya yang kaya raya saja dan yang mendadak kaya memanfaatkan kesusahan orang lain untuk mendapatkan untung besar yang bisa merayakan Natal seperti biasanya. Liburan ini orang yang kaya bisa piknik, tak masalah harus test antigen atau test PCR dengan harga yang mahal. Atau yang kaya tapi masih betah #dirumahaja, mereka beli makanan sebanyak-banyaknya, kue kering, bolu, tart, sampai akhirnya mules-mules karena terlalu banyak makan adonan susu, telur, mentega, dan keju.

Bila sekarang Anda terpaksa memperingati Natal dalam kemiskinan, di tengah orang lain bersukacita karena kemakmurannya, ingatlah bahwa sesungguhnya Natal adalah peristiwa sedih. Lho kok bisa? Lihat saja Yusuf dan Maria yang sedang hamil besar sambil bawa gembolan dan nggeret-nggeret keledai, dari Nazaret ke Betlehem yang jaraknya sangat jauh demi mendaftarkan diri sebagai penduduk Betlehem, sebab Yusuf berasal dari keturunan Raja Daud.

Sudah sampai di Betlehem bukannya dapat kamar buat menginap, semua orang menolaknya dengan alasan penuh, mungkin ada kamar yang kosong tapi harganya mahal dan Yusuf tak punya uang sebanyak itu. Di malam yang dingin itu, sudah susah cari penginapan, eh tiba-tiba Maria mau melahirkan. Di dekat situ ada kandang hewan. Akhirnya Maria lahirannya di kandang hewan, dengan bau menyengat dari hewan-hewan dan kotornya tempat itu, di malam gelap yang kala itu sedang musim dingin!

Pembaca yang terkasih, apakah yang dialami oleh Yusuf dan Maria adalah peristiwa sukacita? Bila Anda mengalami apa yang mereka alami, apakah Anda bersukacita? Maukah Anda melahirkan anak Anda di kandang hewan? Tentu minimal Anda mau melahirkan di bidan, atau kalau yang kaya di rumah sakit, pakai operasi sesar, bahkan mau lahirnya di tanggal cantik meskipun bayinya belum "matang". 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun