Delianur
Delianur Staff Ahli DPR RI - Calon Anggota Legislatif DPR RI Partai Amanat Nasional Dapil Jawa Barat IV (Kota dan Kabupaten Sukabumi) No Urut 6

@delianurm

Selanjutnya

Tutup

Novel Pilihan

Manuskrip yang Ditemukan di Accra

12 Januari 2019   10:34 Diperbarui: 12 Januari 2019   12:05 300 1 0

Bila Agama adalah kebutuhan primordial manusia, sementara mayoritas Bumi ini dihuni oleh penganut Agama Samawi; Yahudi, Kristen, dan Islam, maka di dunia ini tidak ada Kota yang yang paling menarik dan terus menerus mendapat perhatian seisi Bumi selain dari Kota Yerusallem.  Ini adalah kota suci, bersejarah, dan mempunyai ikatan psikologis dan spiritual sangat kuat dengan ketiga penganut Agama samawi. Yerusallem adalah kota di dunia yang menjadi gerbang pertemuan dengan Tuhan. Di Kota ini terdapat Tembok Ratapan orang Yahudi, Gereja Makam Krisitus dan Masjid al-Aqsha. One City Three Faiths, begitu kata Karen Armstrong ketika menyebut Kota Yerusallem

Bagi orang Yahudi, Jerusallem adalah kota suci warisan leluhur. Di Kota inilah Istana Daud, pendiri Kerajaan Iserael dan Kenizah (Rumah Bagi Tuhan), pertama kali dibangun oleh Solomon putra Daud pada tahun 1000 SM. Kota ini adalah tempat yang dipilih Ibrahim ketika Yehwe, Tuhan Yahudi, menguji Iman Ibrahim dengan meminta mengorbankan putranya; Ishak. Di Jerusallem ini juga lah Ishak bertemu dengan istrinya Ribka atau Rebbeka di Gunung Moriah. Sebuah tempat yang diyakini orang Yahudi akan didirikan sebuah tangga yang ujungnya sampai di surga dan malaikat-malaikat Allah turun naik di tangga itu.  Sebagaimana diketahui, Nabi Ibrahim mempunyai dua putra, Ishak dan Ismail. Bila keturunan Ishak dikenal sebagai penganut Yahudi, maka keturunan Ismail dikenal sebagai penganut Islam. Muhammad adalah Nabi yang nasab nya bersambung ke Ismail. Dalam hal kisah pengorbanan Ibrahim, umat Islam mempunyai pemahaman berbeda dengan Yahudi dan Kristen. Bagi umat Islam, yang dikorbankan oleh Ibrahim adalah Ismail, bukan Ishak. Kisah pengorbanan inilah yang kemudian dirayakan setiap tahun dalam Idul Adha. 

Sementara bagi penganut agama Kristen, Yerusallem adalah kota tempat Yesus hidup, berkarya, menyebarkan kabar gembira, wafat di kayu salib, dan bangkit dari mati pada hari ketiga. Yerusallem adalah Mater Omnium Ecclesia atau Bunda Semua Gereja. Di Kota inilah Gereja Perdana lahir dan dari sinilah Gereja menyebar ke seluruh dunia. Di kota ini terdapat Via Dolorosa dan bukit Golgota yang sangat sakral. Via Dolorasa adalah jalan yang dilalui Yesus sambil memanggul Salib menuju bukit Golgota. Di Bukit Golgota inilah Yesus disalib dan dimakamkan. Karenanya bagi umat Kristiani, menyusuri Via Dolorsa sampai ke Bukit Golgota bukan perjalanan biasa. Itu adalah perjalanan spiritual yang sepenunya dilandasi Iman.

Begitu juga bagi umat Islam seluruh dunia. Yerusallem adalah kota suci penuh bersejarah setelah Makkah dan Madinah. Ini adalah kiblat shalat pertama Nabi Muhammad dan umat Islam pada masa awal-awal. Instruksi perpindahan kiblat shalat dari Jerusallem ke Ka'bah di Makkah, bukan atas perintah Nabi, pendapat sahabat ataupun ijtihad para ulama setelah sahabat, tetapi perintah langsung Allah dan tercantum dalam Quran (Al-Baqarah; 144)

Di kota ini terdapat Masjdi al Aqsha dan Dome of The Rock atau Kubah batu. Masjid Al-Aqsa disebut dalam Quran sebagai tempat yang disinggahi Nabi Muhammad ketika melakukan perjalanan satu malam dari Makkah menuju langit ketujuh. Sementara Dome of The Rock, yang diyakini agama Yahudi sebagai tempat nabi Ibrahim menyembelih Ishak, diyakini sebagai tempat Nabi Muhammad berpijak ketika akan melesat ke langit tujuh menemui Allah. Peristiwa yang setiap tahun dirayakan oleh umat Islam sedunia sebagai Isra Mi'raj.

Karena pentingnya Kota ini bagi para penganut Agama samawi, Kota ini sering menunjukan dua sisi yang bertolak belakang dalam kehidupan masyarakat beragama yang seharusnya; kekerasan dan kedamaian.

Jauh sebelum Umat Kristiani dan Umat Islam berseteru dalam Perang Salib memperebutkan Kota ini, pada tahun 70 SM, Kaisar Nero mengirim pasukan Romawi untuk menyerang Yerusallem dan membunuh 6.000 orang Yahudi. Di Yerusallem jugalah Pontius Pilatus, Wali Negeri Romawi, menyerahkan Yesus kepada orang-orang Yahudi untuk dihukum mati dengan cara disalib di bukit Golgota pada tahun 1 M. Sekarang sebagaimana kita ketahui, Israel dan Palestina, yang didalamnya ada umat Islam dan Kristen, bertikai di Kota ini. Setengah tahun lalu, disebutkan puluhan pasukan Israel menyerbu kompleks Masjid Al-Aqsha menembakan gas air mata dan melemparkan granat kepada umat Islam yang sedang shalat Jumat.  

Namun dibalik kekerasan yang terjadi di Kota ini, Yerusallem juga menyimpan banyak cerita tentang kedamaian di tengah tiga penganut Agama yang berbeda. Trias Kuncahyono, wartawan senior Kompas desk luar negeri yang sering menulis Timur Tengah, dalam buku Best Seller nya yang berjudul Jerusalem; Kesucian, Konflik, Dan Pengadilan Akhir, menyebutkan perlunya ada apresiasi terhadap pemerintahan Muslim masa lalu yang pernah selama tiga belas abad mengusai Jerusallem. Pada masa ini menurut Trias Kuncahyono, pemerintahan Muslim berhasil mempertahankan reputasi Yerusallem sebagai Kota yang menciptakan toleransi dan menjunjung tinggi koeksistensi damai antaragama. Di kota ini adalah suatu hal yang biasa apabila di senja hari, ketika azan magrib membumbung tinggi menyeruak langit Jerusalem, tiba-tiba dentang lonceng gereja mengiri doa Malaikat Tuhan dan membuat suasana senja semakin terasi magis. Inilah panggilan bagi semua umat Allah untuk memuji dan mengagungkan nama-Nya. Sementara pada saat bersamaan sejumlah orang Yahudi masih khusyuk sambil mengangguk-anggukan kepala mendaraskan doa di depan Tembok Ratapan. Semuanya memuliakan Tuhan. Meskipun pada akhirnya dalam catatan Trias, pada tahun 1010 Khalifah Al-Hakim disebutkan pernah memerintahkan penghancurkan sinagog dan gereja.  

Sekarang pun, konon seperti itulah kehidupan masyarakat disana. Berita yang sampai kepada kita adalah tentang kekerasan militer yang menghalangi masyarakat untuk beribadah, bukan saling menghalangi beribadah antar umat beragama. Masyarakat sipil yang mejadi korban kekerasan, adalah akibat konflik politik dan pendekatan militer. Sepertinya cuplikan awal film Murder on The Orient Express menjadi sindiran apa yang terjadi disana. Di film ini ditunjukan bagaimana Rabi, Pendeta dan Imam terlihat berdialog bersama. Masalah muncul ketika salah satu diantara mereka dituding mencuri sebuah relik yang suci. Namun Hercule Poirot, tokoh rekaan Agatha Christie, menunjukan bahwa pelakunya bukan ketiga tokoh agama tapi polisi.

Mungkin psikologis Yerusallem inilah yang bisa menjadi gambaran awal apa yang termuat dalam novel Manuskrip Yang Ditemukan di Accra ini. Novel yang mengurai ujaran-ujaran seorang bijak Yerusallem dimalam sebelum Kota ini akan di invasi kembali pada tahun 1099. Tema-tema seperti kekalahan, keberanian, kesetiaan, perang, kemanfaatan diri, seks, mukjizat, kecemasan senjata adalah diantara hal penting bagi penduduk Kota yang terus menerus berada dalam ancaman peperangan. Namun karena orang tua Yunani itu memberikan makna terdalam dari tema-tema diatas, tema tersebut sejatinya juga yang menjadi kebutuhan orang di masa damai jauh dari perang fisik.

Paulo Coelho penulis novel tidak menyebutkan apa Agama orang bijak tersebut, namun Coelho menggambarkan bagaimana Rabi, Pendeta dan Imam di Yerusallem membenarkan petuah-petuah orang tua tersebut. Coelho seperti ingin mengatakan bahwa orang bijak tersebut sedang menyampaikan nilai terdalam kehidupan yang juga menjadi concern ketiga tokoh Agama tersebut.      

Salah satu contoh ujaran yang disampaikan orang tua tersebut, dan diiyakan oleh pemuka ketiga Agama itu, adalah tentang makna kekalahan. Novel ini mengingatkan bahwa kekalahan itu bukanlah kegagalan. Karena yang dinamakan kekalahan adalah ketika kita bertekuk lutut dalam sebuah pertempuran. Sementara kegagalan adalah ketika orang tidak berani meneruskan pertempuran. Kalau kekalahan terjadi ketika orang tidak berhasil mendapatkan sesuatu yang sangat kita impikan, maka kegagalan adalah ketika orang tidak mengizinkan dirinya bermimpi. Semboyan orang gagal adalah, "Janganlah mengharapkan apa pun dan kau tidak akan kecewa"

Banyak orang yang mengatakan bahwa mereka tidak pernah kalah, tetapi sejatinya itu karena mereka tidak pernah bertempur. Mereka sering sombong mengatakan diri dengan bangga bahwa mereka tidak pernah kalah dalam pertempuran. Namun pada kesempatan lain mereka juga tidak bisa mengatakan bahwa mereka telah memenangkan pertempuran. Karenanya celakalah orang-orang yang tidak pernah mengalami kekalahan! Sebab mereka tidak akan pernah menjadi pemenang dalam hidup ini.

Lalu apakah seks itu?

Menurut orang tua tersebut, dua tubuh yang sekedar menyatu bukanlah seks; itu semata-mata kesenangan. Seks jauh lebih dalam ketimbang kesenangan. Dalam seks, pelepasan dan ketegangan selalu bersisian, sebagaimana penderitaan dan kenikmatan, rasa malu dan keberanian untuk melampui batas-batas sendiri.

Bagaimana mungkin dua kubu yang saling bertentangan bisa berdiri berdampingan dengan selaras? Hanya ada satu jalan; dengan menyerahkan diri kita. Sebab tindakan menyerahkan diri kita berarti "Aku mempercayaimu" 

Marilah kita lupakan semua yang pernah diajarkan pada kita, bahwa memberi adalah tindakan mulia, sedangkan menerima berarti merendahkan diri sendiri. Bagi orang pada umumnya, kemurahan hati hanya ada dalam tindakan memberi, akan tetapi menerima pun merupakan tindakan cinta. Membiarkan orang lain membahagiakn kita, akan membuat mereka bahagia juga.

Kalau kita terlalu murah hati dalam tindakan seksual, dan yang kita pikirkan hanya kesenangan pasangan kita, maka kesenangan kita sendiri bisa berkurang atau bahkan lenyap. Apabila kita sanggup memberi dan menerima dengan intensitas yang sama, maka tubuh kita menjadi tegang seperti tali busur, namun pikiran kita rileks seperti anak panah yang akan ditembakan. Otak kita tidak lagi berkuasa; naluri menjadi satu-satunya penunjuk jalan