Mohon tunggu...
Deirdre Tenawin
Deirdre Tenawin Mohon Tunggu...

Instagram : @deirdretenawin

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Negri Ribuan Pengemis

3 Agustus 2011   00:19 Diperbarui: 26 Juni 2015   03:09 845 1 4 Mohon Tunggu...

Apa yang anda lakukan jika bertemu pengemis di pinggir jalan? Membuang muka seolah kehadiran mereka tak kasat mata ? Atau mengais-ngais kantung celana demi sekeping logam dan mencemplungkannya ke dalam mangkok mini yang disodorkan dengan tampang (dibuat) tersiksa, merana dan menderita?  Mangkok yang meski mini, namun selalu kosong. Mengemis sudah ibarat pekerjaan yang merajalela. Dan makin hari perkakas dan strategi marketing "penderitaannya" pun makin canggih. Lihatlah para pengemis yang harus bersiap make up dan konstum sebelum turun ke jalan. Bak artis ibukota saja. Para pengemis itu semakin kreatif menciptakan metode-metode yang tambah ampuh memaksa masyarakat menyerah pada rasa kasihan, iba atau sekedar rasa tidak enak hati. Misalnya metode amplop yang diselipkan di spion-spion mobil atau diletakkan di meja-meja restoran ketika kita lagi asik-asiknya menyantap makanan. Tidak lupa embel-embel nama panti asuhan, panti jompo, dan panti-panti lainnya yang membuat masyarakat terlihat berdosa ketika mengembalikannya dalam keadaan kosong. Padahal, uang-uang yang dimasukkan ke dalam amplop tersebut entah akan mengalir ke kantong siapa setelahnya, tidak ada yang tahu pasti. Beberapa pengemis bahkan kini tidak lagi mau menerima uang receh dan tak jarang yang langsung mematok harga. Pernah bertemu seorang pengemis yang berpakaian sangat rapih dengan kemeja dan celana bahan, kemudian duduk melantai di depan suatu Bank Swasta sambil menyodorkan telapak tangannya. Pengemis itu mendesah ”seribu mbak.. seribu mas..”. Ya, cuma di Indonesia pengemis memasang tarif minimum. Berdasarkan data dari Dinas Sosial DKI Jakarta, jumlah pengemis di Ibukota mencapai 17.000 orang yang tersebar di 72 titik, terutama di Jakarta Barat dan Timur. Pertanyaannya, kenapa para pengemis itu makin hari makin banyak di mana-mana? Kemiskinan? Tunggu dulu, jangan terburu-buru mengkambinghitamkan kemiskinan dalam hal ini, sebab para pengemis itu yang terlihat begitu menderita belum tentu semenderita kelihatannya. Setiap pengemis asal Desa Pragaan Daya Kecamatan Pragaan Sumenep misalnya, mereka mampu meraup penghasilan pada kisaran Rp1,5 juta sampai Rp 2,5 juta setiap bulannya. Bahkan melebihi gaji seorang Pegawai Negri Sipil (PNS). Jadi tidak heran jika beberapa orang memilih untuk meninggalkan pekerjaannya, karena hasil mengemis yang lebih menggiurkan. Mengemis itu pilihan dan bukan sekedar keterpaksaan atas nama kemiskinan.

Tapi, tentu kita tidak mengharapkan bahwa negri kita kelak menjadi negri ribuan pengemis, lantaran mengemis dijadikan pilihan semakin banyak anggota masyarakat kita yang merindukan kekayaan instan? Lihatlah anak-anak kecil di lampu merah yang sejak kecil sudah dididik menjadi peminta-minta . Dan jangan lupa bahwa kegiatan mengemis ini juga berhubungan dengan kasus-kasus penculikan anak dan jual beli anak (trafiking), sebab anak-anak kecil yang seringkali dipakai untuk melengkapi para pengemis seringnya bukan anak asli dari si pengemis. Lalu itu anak siapa?

Bagaimana cara kita menghentikan berjamurnya para pengemis ini? Mudah saja. Jangan beri mereka kesempatan untuk semakin kaya lewat mengemis. Jangan beri mereka uang. Kejam? Tidak! Karena maksud baik belum tentu akan berdampak baik jika dilakukan dengan cara yang salah. Pikirkan tentang dampak ke depannya bagi bangsa sekaligus bagi para pengemis itu. Jangan sampai kita ikut mendidik mereka menjadi pribadi yang malas dan ogah kerja keras. Kapan majunya Indonesia jika masyarakatnya banyak yang masih bermental pengemis? Bukankah seringkali kita berteriak mengeluh atas bangsa Indonesia yang katanya tidak maju-maju sementara kita menjadi bagian dari alasan kenapa Indonesia tidak maju-maju?

Pemerintah kita sebenarnya telah mengeluarkan Peraturan Daerah (Perda) No. 8 tahun 2007 tentang Ketertiban Umum yang salah satunya melarang untuk memberikan sedekah pada pengemis. Tetapi seperti nasib peraturan-peraturan lainnya yang tak pernah terealisasi dengan baik, Perda ini entah terkubur di mana.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x