Mohon tunggu...
Deddy Husein Suryanto
Deddy Husein Suryanto Mohon Tunggu... Pengamat Sosial

Penyuka Sepakbola, Penulis Biasa nan Sederhana (PBS), dan berharap selalu dapat menginspirasi dan terinspirasi. Cinta Indonesia. Segala tulisan selalu tak luput dari kekhilafan. Jika mencari tempe, silakan kunjungi: https://deddyhuseins15.blogspot.com Iseng-iseng unggah video di https://m.youtube.com/channel/UCmc1Ubhzu3PPCG3XXqcGExg

Selanjutnya

Tutup

Hobi Pilihan

Pilih Membeli Karya dari Penulis Lama atau Penulis Baru?

9 Desember 2019   17:31 Diperbarui: 9 Desember 2019   18:24 32 4 2 Mohon Tunggu...
Pilih Membeli Karya dari Penulis Lama atau Penulis Baru?
Pepatah dari Gus Mus di Ketemu Buku 4, Taman Krida Budaya Kota Malang. (Dokpri/DeddyHS_15)


Sejak 5 Desember 2019, "Ketemu Buku" kembali hadir di Malang untuk kali keempat. Bertempat di Taman Krida Budaya Kota Malang, event literasi yang selalu menghadirkan bazar buku yang cukup besar ini kembali menuntaskan dahaga para penikmat literasi (pembaca dan penulis).

Event ini juga tak hanya menghadirkan bazar, namun juga menghadirkan pembicara-pembicara nasional yang tentunya sayang untuk diabaikan. Salah satunya adalah Susilo Toer yang merupakan adik sastrawan besar Indonesia, Pramoedya Ananta Toer (Pram). Kabarnya, beliau hadir di hari pertama (5/12). Namun karena di Malang sedang rutin hujan, membuat penulis tak berkesempatan hadir.

Suasana di depan bazar buku. (Dokpri/DeddyHS_15) 
Suasana di depan bazar buku. (Dokpri/DeddyHS_15) 
Penulis baru dapat hadir di hari Sabtu (7/12) -ketika hujan sudah reda- dan kurang memperhatikan acara talkshow literasi di depan gedung yang digunakan untuk bazar. Penulis lebih tertarik masuk ke tempat bazar dan melihat-lihat calon buku yang ingin dibawa pulang (baca: dibeli).

Awalnya, penulis tidak memikirkan apapun tentang bazar dari "Ketemu Buku" ini. Kalaupun ingin mengulas tentang "Ketemu Buku", maka lebih ke arah apresiasi terhadap penyelenggaraannya. Namun, pada saat penulis berkeliling di bazar tersebut, ada suatu ide yang menarik untuk diulas.

Talkshow di panggung depan gedung yang digunakan untuk bazar. (Dokpri/DeddyHS_15)
Talkshow di panggung depan gedung yang digunakan untuk bazar. (Dokpri/DeddyHS_15)
Yaitu, perbandingan daya tarik antara buku-buku yang dihasilkan penulis lama (contoh: Chairil Anwar, Buya Hamka, WS Rendra, Sapardi Djoko Damono, Danarto, NH Dini, Goenawan Mohamad, dkk) dengan penulis baru (tidak lebih tenar/di bawah generasi Agus Noor, Hasta Indriyana, Puthut EA, dkk). Kira-kira lebih banyak mana peminatnya?

Jika menilik pada proses pengamatan sekilas dari penulis, memang tidak sepenuhnya dapat menjawab pertanyaan tersebut. Selain karena penulis sibuk mencari buku-buku yang dapat diincar, juga karena penulis tidak berinteraksi langsung dengan pengunjung maupun volunteer kegiatannya.

Namun, dalam proses tersebut penulis memperoleh beberapa fenomena yang menarik untuk dijadikan bukti terhadap topik pembahasan di sini. Mari kita simak!

Buku tentang karya Max Havelaar. (Dokpri/DeddyHS_15)
Buku tentang karya Max Havelaar. (Dokpri/DeddyHS_15)
Pertama, buku Pram "Bumi Manusia" masih ada yang mencarinya. Terbukti di meja kasir, terdapat pengunjung bazar yang membeli buku tersebut. tentunya, ada faktor-faktor yang dapat diduga oleh penulis. Selain karena harga buku tersebut pasti lebih murah (ada diskon) daripada di toko buku, juga dikarenakan adanya pengangkatan kisah dari buku tersebut ke film (disutradarai oleh Hanung Bramantyo). Artinya, popularitas dari karya lama tersebut masih terjaga.

Kedua, buku-buku dari penulis lama masih mendominasi. Terlihat dari keberadaan karya Danarto, Buya Hamka, dan lainnya yang masih terpampang. Begitu pula dengan kisah-kisah dari tokoh nasional lama yang masih menjadi daya tarik tersendiri, seperti Tan Malaka, Soekarno, Soeharto, hingga tokoh-tokoh zaman kerajaan nusantara. Artinya, atmosfer sejarah (kisah/karya lama) masih diminati dan terwadahi.

Ketiga, karya baru dan dari penulis baru biasanya mendominasi "label" best seller. Seperti buku Risa Saraswati yang bergenre horor. Hingga muncul juga buku yang membahas sosok-sosok fenomenal seperti Gus Muwafiq yang dikenal sebagai ulama yang menyebarkan ajaran agama (Islam) dengan unsur-unsur sejarah.

Suasana di Ketemu Buku 4. (Dokpri/DeddyHS_15)
Suasana di Ketemu Buku 4. (Dokpri/DeddyHS_15)
Keempat, penerbit yang dikenal masyarakat literasi akan lebih banyak dihampiri. Salah satunya adalah Diva Press yang dikenal menghadirkan karya-karya cerpen dari Agus Noor, Danarto, Hasta Indriyana, hingga buku-buku kumpulan puisi yang salah satunya seperti "Tangan yang Lain" dari Tia Setiadi.

Penerbit lain yang cukup menarik untuk dikunjungi adalah Mojok.co yang identik dengan karya-karya dari Puthut EA. Biasanya kaum muda-mudi akan menghampiri penerbit-penerbit yang memang sering menghadirkan karya-karya yang bergenre roman dan komedi. Artinya, ada faktor keidentikan terhadap penerbit maupun genre yang dihasilkan oleh penerbit tersebut dan menjadi daya pikat terhadap pengunjung/pembaca.

Karya-karya dari penulis baru. (Dokpri/DeddyHS_15)
Karya-karya dari penulis baru. (Dokpri/DeddyHS_15)
Kelima, penulis baru tidak selamanya tersisihkan atau hanya ditempatkan di label indie dan penerbit baru. Salah satu buktinya adalah keberadaan karya dari Vee yang ditempatkan berdasarkan jenis karyanya, yaitu novel yang berjudul "Jangan Sebut Aku, Perawan Tua". Hal ini membuat karyanya dapat berdampingan dengan karya-karya sastra lain termasuk dengan karya dari penulis-penulis besar.

Melihat lima fenomena tersebut, apakah kemudian dapat menghasilkan jawaban bahwa penulis lama akan lebih dicari (baca: dibeli) karyanya daripada penulis baru?

Suasana lainnya di Ketemu Buku 4. (Dokpri/DeddyHS_15)
Suasana lainnya di Ketemu Buku 4. (Dokpri/DeddyHS_15)
Jika penulis menjadi pemburu buku di bazar kemarin (7/12), maka penulis akan menjawab bahwa karya dari penulis lama wajib untuk dibeli. Pertama, karena karya dari penulis lama, apalagi yang sudah meninggal, biasanya akan memiliki nilai tersendiri. Bukan soal prestis bahwa kita berhasil memiliki karya dari penulis besar, namun juga tentang adanya media belajar dari karya/penulis lama yang dapat dijangkau sesegera mungkin.

Apalagi, tidak semua karya lama akan diterbitkan lagi, kecuali terdapat permintaan pasar. Begitu pula dengan harga yang tak selamanya murah ketika karya-karya tersebut semakin langka.

Kedua, karena faktor gaya tulis penulis lama akan cukup berbeda dengan penulis masa kini. Bisa disebabkan oleh gaya bahasa masa kini yang dapat dirasakan berbeda dengan gaya bahasa di masa lalu. Hal ini perlu untuk dipertimbangkan jika kita tidak hanya menjadi pembaca namun juga penulis.

Ketiga, faktor harga juga dapat membuat karya dari penulis lama dapat diperhitungkan. Meski patokan harga sangat relatif, karena banyak faktor yang melingkupi. Namun, tidak begitu mengherankan jika kita perlu memprioritaskan karya dari penulis lama untuk dibeli saat patokan harga lebih terjangkau. Apalagi ini sedang di bazar, maka peluang tersebut harus dimanfaatkan.

Buku Danarto dari Diva Press. (Dokpri/DeddyHS_15)
Buku Danarto dari Diva Press. (Dokpri/DeddyHS_15)
Melalui tiga alasan tersebut, maka tak mengherankan jika penulis melihat ada pengunjung bazar yang membeli buku dari penulis lama. Karena penulis juga melakukan hal yang sama ketika terjadi perhitungan "untung-rugi" selama berkeliling mencari target. Akhirnya, penulis mengutamakan untuk membeli buku dari penulis lama, Danarto. Pertimbangannya kurang-lebih seperti yang terpaparkan di atas.

Lalu bagaimana dengan penggiat literasi lainnya saat berada di situasi sedang di bazar seperti ini?

Jika dari sesi "wawancara sederhana" yang dilakukan penulis dengan rekan-rekan penulis, didapatkan jawaban yang cukup beragam. Ada yang menyatakan bahwa melihat harga adalah langkah pertama, lalu melihat bagian belakang (blurb), dan memutuskan untuk membeli jika menarik. Ada pula yang memang melihat budget, namun dikombinasikan dengan keputusan membeli karya dari penulis lama dan terkenal.

Novel-novel dari penulis masa kini. (Dokpri/DeddyHS_15)
Novel-novel dari penulis masa kini. (Dokpri/DeddyHS_15)
Selain itu, ada yang menyatakan bahwa pemilihan buku lebih diutamakan cerita pendek dibandingkan novel. Artinya ada penentuan jenis karya yang ingin dibeli, tanpa mementingkan siapa penulisnya. Sedangkan jawaban yang lain lebih mengarah pada selera, yaitu tentang sajian menarik dan tidaknya dari sampul buku tersebut. Jika sampul bukunya menarik, maka akan dilihat harganya dan disitulah muncul keputusan untuk membeli/tidak.

Sebenarnya, ada jawaban yang sangat menarik bagi penulis, yaitu ketika ada yang berpikir bahwa apabila budget yang dimiliki cukup, maka yang harus dilakukan adalah membeli karya dari penulis lama dan baru untuk dijadikan referensi dalam proses belajar menulis. Jawaban ini menurut penulis sangat objektif diantara jawaban-jawaban lain.

Artinya, dalam proses membeli buku yang dalam artian sesungguhnya adalah proses untuk membaca, maka yang terjadi selanjutnya adalah mempelajari apa yang telah dibaca. Inilah yang membuat para pembaca di kemudian hari dapat terlahir sebagai penulis. Karena, mereka tidak hanya berhenti sebagai penikmat literasi melainkan juga sebagai pelaku literasi.

Jadi, jika Anda ingin menentukan karya dari penulis mana yang ingin Anda beli, maka yang harus Anda pertimbangkan adalah kebutuhan Anda. Akan diapakan buku tersebut? Apakah hanya berhenti sebagai media membaca, atau sebagai bagian dari tabungan ide-ide/inspirasi untuk menulis. Dari sanalah kita dapat menentukan pilihan saat memburu buku-buku di bazar seperti di Ketemu Buku.

Di depan Anda akan disambut dengan banner besar seperti ini. (Dokpri/DeddyHS_15)
Di depan Anda akan disambut dengan banner besar seperti ini. (Dokpri/DeddyHS_15)
Anyway, jangan lupa mampir ke Ketemu Buku, ya! Acara ini masih berlangsung hingga 12 Desember 2019. Siapa tahu kita bertemu di sana. Hehehe.

Malang, 9 Desember 2019
Deddy Husein S.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x