Mohon tunggu...
Deddy Husein Suryanto
Deddy Husein Suryanto Mohon Tunggu... Pengamat Sosial

Penyuka Sepakbola dan Penulis Gadungan, Cinta Indonesia. Jika mencari tempe, silakan kunjungi: https://deddyhuseins15.blogspot.com Iseng-iseng unggah video di https://m.youtube.com/channel/UCmc1Ubhzu3PPCG3XXqcGExg

Selanjutnya

Tutup

Hobi Pilihan

Menulis Semakin Intensif Karena Event SamberTHR

31 Mei 2019   20:50 Diperbarui: 31 Mei 2019   20:49 0 12 3 Mohon Tunggu...
Menulis Semakin Intensif Karena Event SamberTHR
Event SamberTHR (Tebar Hikmah Ramadan). (Kompasiana.com)

Ini yang penulis rasakan di bulan ini (Mei 2019). Yaitu, bulan yang bertepatan dengan bulan Ramadan, dan Kompasiana rupanya tidak ingin bulan puasa bagi umat Islam ini tersia-siakan tanpa ada kegiatan yang menarik. Tentunya kegiatan ini tidak akan terlihat menarik ketika tidak pula terabadikan di dalam halaman per halaman di Kompasiana, dan inilah yang membuat Kompasiana perlu menyediakan wadah yang tepat, aktual, dan faktual.

Seperti yang tertulis di judul, maka, penulis pun ingin memberikan gambaran sederhana tentang event SamberTHR yang tentunya berdasarkan apa yang penulis rasakan sebagai bagian dari 'Beyond Blogging' ini.

Pertama, event ini menjadi ajang yang tepat untuk memperkenalkan Kompasiana ke publik luas untuk hadir sebagai pembaca. Mereka (pembaca) akan disuguhkan bagaimana aktifnya masyarakat umum yang mendapat kesempatan menjadi penulis untuk berbagai informasi yang menarik, inspiratif, aktual, dan bermanfaat bagi pembaca yang tidak harus merupakan pembaca 'ulung'. Karena, Kompasiana dapat dibaca oleh pembaca dari segala latar belakang, alias sesuai kebutuhan.

Jika ingin membaca tentang aspirasi sosial-politik, maka akan tersajikan pula konten-konten kreatif dan aktual dari penulis yang berlatar-belakang beragam---khususnya menjadi pengamat dan pakar lepas---karena yang menulis (rata-rata) juga masyarakat non jurnalis. Syukur-syukur jika bertemu dengan penulis yang berlatarbelakang jurnalis. Maka, sajian ala reportasi akan Anda temukan.

Kedua, event ini tak hanya bermanfaat bagi Kompasiana untuk semakin branded namun juga bagi para penulis untuk dapat berani menunjukkan hasil karya tulisnya ke teman, saudara, maupun orang-orang tertentu yang concern and care di bidang penulisan. Ibaratnya, event ini dapat menjadi latihan bagi semua penulis untuk dapat menulis dengan benar dan baik.

Mengapa demikian? Karena di event ini, para penulis tidak hanya menulis tentang apa yang dialami langsung (biasanya menjadi misi utama bagi para penulis di Kompasiana) namun juga apa yang ada di permukaan masyarakat (fenomena sosial). Sehingga, di event ini,  para penulis tak hanya berlomba untuk menulis namun juga belajar. Belajar menulis sesuatu yang tak dikenal sampai menulis dengan gaya yang belum pernah dicoba atau setidaknya belum pernah dipublikasikan di Kompasiana.

Hal ini tentunya juga terjadi pada penulis secara pribadi. Salah satu contohnya adalah ketika menulis tentang teknologi perbankan (mobile banking) yang dikeluarkan oleh salah satu bank yang visioner dan itu membuat penulis juga harus 'ber-visioner' agar dapat menuliskan seputar bank tersebut.

Di sini, penulis tidak hanya harus menggali informasi tentang bank tersebut, khususnya pada teknologi yang dikeluarkannya. Namun juga bagaimana menggabungkan pola pikir ke dalam wujud yang sebelumnya tak tersentuh (belum diketahui keberadaan/manfaatnya) tersebut. Hal ini krusial karena akan menentukan bagaimana menemukan ide dan menuliskan judul.

Betul! Hanya untuk menulis judul, penulis harus membuka kepala untuk dapat menampung segala informasi baru lalu dicari 'nama menunya'. Ibarat makanan, kita tidak hanya berupaya mencari bumbu dan bahan untuk dijadikan adonan, namun juga harus memikirkan apa yang dibuat dan akan diberi nama apa.

Bagi sebagian penulis, menulis tanpa memikirkan judul terlebih dahulu memang tidak asing. Namun, secara pribadi, menulis tanpa mengetahui apa judulnya, itu sulit. Karena, dengan isi kepala yang terkadang 'penuh', akan mudah sekali terdapat loncatan-loncatan kata yang keluar dari 'mangkuk' kepala itu dan jika tak dikontrol, maka akan sangat menyusahkan bagi pembaca.

Ini sedikit menyangkut tentang proses kreatif penulis. Jadi seperti itulah kira-kira bagaimana penulis menganggap event ini sangat bermanfaat bagi penulis karena mampu menantang penulis khususnya dalam hal daya jelajah dan itu penting.

Ilustrasi proses menulis (jangan lupa melihat apa yang ada di luar kehidupanmu). (Pinterest.co.uk)
Ilustrasi proses menulis (jangan lupa melihat apa yang ada di luar kehidupanmu). (Pinterest.co.uk)
Menurut penulis, penulis yang tak memiliki daya jelajah akan cepat 'mati' dan ini sangat tidak diinginkan oleh penulis yang masih muda apalagi di Kompasiana. Belum genap 7 bulan! Artinya, sebagai penulis Kompasiana, penulis masih belum layak untuk lahir ke dunia. Sehingga, dengan adanya event ini, penulis tertantang untuk keluar dari rahim (zona nyaman).

Setelah membahas poin kedua yang cukup panjang ini, kita dapat beralih ke poin ketiga. Di poin ketiga ini, penulis menganggap event SamberTHR adalah kawah candradimuka sederhana yang dapat memberikan bayangan bagi para penulis tentang tanggung jawab. Di dalam segi kehidupan, tanggung jawab adalah perihal yang teramat krusial. Karena, kematangan seseorang akan dapat dinilai dari bagaimana upayanya menunaikan tanggung jawabnya. Dalam hal ini adalah tanggung jawab sebagai penulis.

Secara pribadi, tanggung jawab itu adalah hal yang sangat berat di dalam kehidupan ini dibandingkan tidak punya pacar ataupun tidak makan nasi seharian. Maka dari itu, menjadi penulis juga bukanlah hal yang mudah untuk menunaikan tanggung jawabnya sebagai penulis. Yaitu, terus menulis meski terkadang berada di situasi yang tak cukup mendukung terhadap upaya menulis.

Bahkan secara pribadi, penulis terkadang juga tidak memiliki gambaran apapun tentang apa yang ditulis sebelum pada akhirnya bertekad untuk menuliskannya sebisa tangan dan kepala untuk sinkron. Lagi-lagi tentang kontrol dan itu adalah kunci penting saat sebagai penulis harus menunaikan tanggung jawabnya sebagai penulis. Yaitu mengontrol. Apapun. Entah mengontrol waktu, mengontrol pikiran, bahkan juga mengontrol emosi.

Ilustrasi proses mencari ide untuk menulis. (Dawn.com)
Ilustrasi proses mencari ide untuk menulis. (Dawn.com)
Karena, emosi juga dapat terpengaruh ketika konten yang ditulis mengandung unsur privat dan biasanya itu harus sedikit disingkirkan demi tulisan yang masih dapat dibaca dan dipikirkan secara objektif (dapat diterima orang lain). Hal ini tentu perlu diperhatikan tentunya di samping upaya meningkatkan kuantitas tulisan.


Meningkatkan kuantitas tulisan rupanya menjadi poin keempat yang menarik untuk disertakan di ulasan tentang event ini. Karena, bukan rahasia lagi jika menulis di event SamberTHR ini artinya akan berupaya meningkatkan jumlah artikel dalam sebulan. Secara pribadi, hal ini dirasakan pula oleh penulis. Karena dengan mengikuti event ini, selama bulan Mei, sudah dapat dipastikan bahwa jumlahnya jauh lebih banyak dibandingkan rata-rata artikel yang dihasilkan selama sebulan.

Jika dihitung secara kasar, penulis memiliki rata-rata per bulannya adalah 18 artikel. Hitungan ini hanya berlaku sejak November tahun lalu (2018) sampai bulan April. Ini memang hitungan rata-rata. Karena, terkadang dalam satu bulan ada yang hanya 10 artikel atau mungkin tak sampai. Sehingga 'ditebus' dengan bulan lainnya.

Bagi penulis, hal ini wajar. Karena, sebagai penulis yang 'pemilih' akan sukar untuk setiap hari menulis (dan mengunggahnya) di Kompasiana jika tulisan itu tidak relevan ataupun tidak menarik perhatian bagi penulis (apalagi pembacanya). Namun, dengan event SamberTHR ini, penulis diajarkan pada upaya untuk tak pilih-pilih.

Di sini kemudian penulis menyebutnya ke dalam poin kelima sebagai upaya untuk belajar menjadi profesional dalam menulis. Profesional di sini bukan pada status sebagai penulis bayaran (diikat kontrak), namun lebih pada perlakuan terhadap kegiatan menulis ini yang dilakukan secara profesional.

Ilustrasi penulis. (Dribbble.com)
Ilustrasi penulis. (Dribbble.com)
Jika orang yang bekerja sebagai penulis cerpen, setiap harinya harus menghasilkan minimal satu judul cerpen. Maka, begitu pula yang terjadi pada para penulis di Kompasiana yang mengikuti event SamberTHR ini. Mereka juga akan sedikit dituntut untuk profesional. Artinya, setiap hari harus menulis. Bahkan, kondisi sakit (jangan sampai meninggal) itu sudah mendekatkan pada peluang untuk tidak lagi mampu menjadi profesional sebagai orang yang menyatakan dirinya suka menulis.


Artinya, di sini kita dikenalkan pada upaya untuk tetap menulis, meskipun Anda tidak menyukai, menguasai, bahkan mengenali objek konten yang ditawarkan oleh Kompasiana. Dari sini, Anda bisa meraba-raba tentang peluang Anda masing-masing apakah sudah mulai layak disebut penulis profesional atau tidak dari contoh kecil melalui event ini.

Itulah yang penulis rasakan secara pribadi dan membuat penulis dari hari ke hari semakin percaya diri untuk dapat menulis secara berkelanjutan. Stress pasti, namun, ketika Anda menjadikan ini sebagai hiburan dan latihan untuk mengasah kemampuan, maka Anda akan merasakan bahwa ini bukan lagi sebuah beban, melainkan keniscayaan.

Memang terlihat mengerikan ketika seorang penulis harus selalu menulis dan mengunggahnya setiap hari. Karena, penulis secara pribadi juga (biasanya) tidak mampu melakukannya. Menulis setiap hari iya, namun, tidak semua tulisan tersebut diunggah. Karena, penulis bukan tipikal penulis yang suka mengecewakan pembacanya karena tulisannya kurang menarik tapi tetap dipertahankan, alias ngotot dengan gaya penulisan yang terkadang dapat mengganggu proses literasi pembaca.

Syukur-syukur kalau memang sudah mendapatkan apresiasi pertemanan dan fanatisasi dari sesama penulis Kompasiana. Namun jika tidak, maka akan sulit untuk mengembangkan kualitas penulisannya. Di sinilah letak pentingnya dari keberadaan event ini. Yaitu, tak hanya pada peningkatan kuantitas, namun juga peningkatan kualitas.

Terlepas dari jenis tulisan yang dihasilkan, toh di event ini dapat ditemukan berbagai macam jenis tulisan yang telah dijadikan sebagai bungkus dari beragam objek konten yang ditawarkan. Maka, di sini, penulis juga mengharapkan bahwa event ini tak hanya akan mengangkat kuantitas tulisan yang penulis hasilkan di bulan (Mei) ini namun juga untuk meningkatkan kualitas tulisan secara umum, khususnya dalam menuliskan tentang reportasi produk dan teknologi. Karena, di dua hal ini cenderung sangat sulit untuk dilakukan ketika kedua hal tersebut tak seratus persen dialami.

Hal ini pula yang kemudian menjadi kritikan bagi penulis, bahwa menulis secara profesional ternyata juga harus belajar taktik marketing dan 'menyentuh' hal-hal yang masih asing untuk ditulis. Ini pula yang membuat jumlah tulisan yang terasa tak menarik (dari sudut pandang subjektif) di kolom artikel yang diunggah penulis di bulan ini juga mengalami peningkatan.

Dari awalnya setiap bulan maksimal hanya dua-tiga artikel yang kurang menarik. maka, di bulan ini, jika dihitung kasar sudah ada lima artikel lebih yang kurang menarik, dan ini membuat penulis terkadang berpikir keras untuk membangun semangat untuk belajar lagi dan lagi. Inilah yang sepertinya akan menjadi catatan paling vital di event ini, yaitu harus kembali belajar tanpa kenal usia dan apa yang sudah dipelajari. Karena, ilmu dan pengetahuan masih sangat luas, dan tidak akan ada akhir bagi penulis untuk terus belajar.

Semoga, event seperti SamberTHR ini memberikan manfaat kepada kita semua. Baik sebagai penulis, pembaca, ataupun sebagai pemilik Kompasiana---kita sebagai pemilik akun di sini juga berhak menyebut Kompasiana adalah miliknya.

Selamat menulis!




Malang, 25 Mei 2019 dan direvisi pada 31 Mei 2019 (Tulungagung)
Deddy Husein S.

KONTEN MENARIK LAINNYA
x