Deddy Husein Suryanto
Deddy Husein Suryanto Freelancer

Penyuka Sepakbola dan Penulis Gadungan, Cinta Indonesia. Jika mencari tempe, silakan kunjungi: https://deddyhuseins15.blogspot.com Iseng-iseng unggah video di https://m.youtube.com/channel/UCmc1Ubhzu3PPCG3XXqcGExg

Selanjutnya

Tutup

Hobi Artikel Utama

Pentingnya Merevisi Tulisan Sebelum Dipublikasikan atau Dibaca Orang Lain

29 April 2019   18:40 Diperbarui: 4 Mei 2019   19:32 297 23 11
Pentingnya Merevisi Tulisan Sebelum Dipublikasikan atau Dibaca Orang Lain
Ilustrasi revisi. (Tes.com)

"Sudah berapa kali Anda membaca tulisan Anda setelah selesai menulisnya?"

Pertanyaan ini terkadang dianggap menyebalkan. Namun, sering terdengar dan kita ketahui pertama kali saat menyerahkan karya tulis kita ke orang lain untuk dibaca maupun dikomentari oleh mereka.

Biasanya, kita akan menyerahkan hasil buah tangan kita tersebut ke orang yang kita anggap lebih tahu dalam hal kepenulisan daripada kita. Hal ini wajar saja, karena, kita selalu perlu mendapatkan timbal-balik dari orang yang membaca tulisan kita selain sekadar mendapatkan pujian kuno, "Wah, keren!"

Sebagai penulis pemula atau bahkan (katanya) masih belum layak disebut penulis, biasanya akan melakukan hal tersebut. Mencari orang yang lebih paham tentang penulisan dan kemudian disodori karya untuk dikomentari, bahasa kerennya adalah "diberi kritik dan saran". 

Mencari orang yang tepat adalah perlu dan harus diperhatikan, karena tidak semua orang yang paham teori dan praktik penulisan akan dapat kita pahami kritik dan sarannya (krisar).

Terkadang, kita malah semakin bingung dengan kritikan orang tersebut, apalagi jika tidak ada saran yang dapat menunjang penilaian terhadap karya tulis kita. Maka, dengan kejadian semacam itu membuat kita akan semakin tidak tahu apa yang salah dan bagaimana cara membenarkannya.

Sehingga, langkah pertama kita adalah mencari dan mengenali dulu orang-orang yang paham akan teori dan praktik terhadap penulisan. Baik itu dari bidang ilmiah ataupun sastra. 

Biasanya, mereka yang paham tentang sastra juga akan memiliki pemahaman yang cukup juga mengenai teori dasar dan teori penulisan umum ataupun karya tulis lainnya yang sedang banyak ditemukan di berbagai media.

Artinya, secara garis besar, pastikan orang itu telah mengetahui secara dasar maupun secara tingkat-tingkatan dalam kepenulisan. Namun, sebaiknya orang yang diajak diskusi tersebut adalah orang yang aktif di bidang penulisan tersebut. Misalnya, berbicara soal penulisan sastra, maka, seyogyanya bersama orang yang aktif dalam sastra. Begitupula jika, berbicara soal karya ilmiah, maka, seyogyanya juga bersama orang yang aktif di bidang karya ilmiah.

Selain itu, kita perlu mengenalinya secara karakter atau minimal kita tahu cara bicaranya dan bagaimana maksud kalimat-kalimat di dalam perbincangannya. Agar kita tahu arah pembicaraannya dan menangkap maksudnya---biar tidak salah paham. Salah paham inilah yang perlu diminimalisir ketika kita sedang berada dalam ruang diskusi mengenai karya yang sudah kita buat dan sedang dibutuhkan tanggapan dari orang lain, khususnya dari orang yang paham tentang penulisan tersebut.

Nah, tahap selanjutnya, setelah kita menemukan orang yang dapat menilai dan menanggapi karya tulis kita adalah belajar merevisi karya sendiri. Loh, bukannya seharusnya kita lebih dulu bisa merevisi karya sendiri sebelum karya kita dinilai orang lain? Betul. Namun, kemampuan kita merevisi haruslah memiliki dasar dan pembanding.

Dasar, artinya kita sudah mempelajari teori dalam menulis kreatif. Entah itu karya ilmiah, artikel, reportasi, maupun karya sastra. Minimal teori dasar atau pengantar. Setelah itu, kita harus memiliki pembanding.

Pembandingnya adalah orang lain, di sini bisa langsung memiliki figurnya (kenal dengan orangnya), maupun dengan karyanya (mempelajari karyanya). Di sinilah letak dari pentingnya kita mengenal orang yang paham terhadap cara menulis yang benar dan baik sesuai dengan bidang karya yang sedang kita hasilkan.

Nah, ketika kita belum menemukan pembanding, maka cara merevisi kita masihlah hanya berkutat pada interpretasi teori yang sudah kita baca dan dipahami, tanpa adanya pembanding. Maka, batas revisi kita masih berada dalam revisi secara dasar menulis bukan pada pemahaman atau filosofi yang terkandung di dalam tulisan tersebut. Sehingga, revisi kita tanpa adanya pembanding hanya akan berputar-putar tiada henti pada selera dan kecocokan---sudah tepat atau belum menuliskan A dan B secara bersama ataukah perlu diganti atau hanya ditulis salah satunya saja.

Lalu, bagaimana ketika ada pembanding?

Ketika ada pembanding, maka, ada bentuk konkrit lain yang dapat menjadi rujukan maupun menjadi alasan kita untuk berhenti merevisi ketika kita sudah tahu alasan di balik tulisan kita. Karena, ketika kita sudah mengenali karya orang lain/mengenali filosofi berkarya orang lain, maka, kita lambat-laun juga akan mengenali karya kita dan bagaimana caranya untuk merevisi karya kita untuk lebih baik lagi.

Misalnya, menulis cerita pendek (cerpen) dengan latar belakang tokoh adalah penyair dan latar belakang masalah adalah kemiskinan. Apa yang akan direvisi oleh penulisnya sendiri ketika tidak memiliki pembanding?

Penulis "hanya" akan merevisi komposisi kalimat, penggunaan dasar PUEBI, struktur atau alur cerita, bahkan salah ketik juga harus direvisi---karena ini juga sangat penting, hingga permasalahan kecocokan pada pewujudan cerita dengan pembangunan kerangka cerita. Masih sangat internal.

Hal ini akan berbeda dengan ketika sudah memiliki pembanding, atau karya kita sudah dapat disetorkan ke orang yang 'terpercaya' untuk dikomentari atau dikrisar.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2