Deddy Husein Suryanto
Deddy Husein Suryanto Freelancer

Penyuka Sepakbola dan Penulis Gadungan, Cinta Indonesia. Jika mencari tempe, silakan kunjungi: https://deddyhuseins15.blogspot.com Iseng-iseng unggah video di https://m.youtube.com/channel/UCmc1Ubhzu3PPCG3XXqcGExg

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Membaca Buku Juga Seperti Bermain Game

23 April 2019   20:45 Diperbarui: 23 April 2019   20:57 60 4 3
Membaca Buku Juga Seperti Bermain Game
Ilustrasi membaca buku. (Zmescience.com)

Menyenangkan!

Itulah yang dibayangkan oleh pecinta buku atau yang disebut kutu buku. Bahkan, bagi kolektor buku, mendapati peluang untuk memiliki buku setiap hari tentu juga menyenangkan. Tapi, bagaimana dengan pembaca buku? Benarkah membaca buku itu seratus persen kegemaran atau sebenarnya karena ada suatu keharusan?

Membaca buku adalah salah satu kegemaran yang dimiliki oleh manusia. Bagi beberapa orang yang memang menyukai buku, pasti akan memprioritaskan waktunya untuk membaca buku. Bahkan, ada pula yang setiap hari harus membaca buku, minimal beberapa lembar halaman.

Namanya kegemaran, maka kegiatan membaca buku seharusnya menyenangkan, bukan?

Namun, bagaimana dengan dampak dari membaca buku?
Benarkah membaca buku 100% memberikan keuntungan (dampak positif)?

Seperti yang disebut sebagai kegemaran. Artinya, apa yang dilakukan oleh orang tersebut terhadap kegemarannya akan terlihat tidak wajar bagi orang lain. Contohnya bermain game. Beberapa orang menjadikan bermain game (gaming) sebagai kegemaran dan akhirnya, nyaris setiap hari, bahkan sepanjang waktu dapat dihabiskan dengan bermain game.

Begitu pula yang terjadi pada orang-orang yang gemar membaca buku.
Mereka juga akan menghabiskan banyak waktunya untuk membaca buku. Karena, itulah kegemarannya, dan siapa yang bisa menahan diri untuk melakukan hal yang berkaitan dengan kegemarannya?

Inilah yang kemudian mengarah pada perilaku yang berlebihan.
Uniknya, segala hal yang dilakukan secara berlebihan pasti akan memberikan dampak negatif. Termasuk membaca buku.
Tidak hanya bermain game yang dapat memberikan dampak negatif. Membaca buku secara terus-menerus tanpa pengelolaan waktu yang tepat juga akan memberikan dampak negatif terhadap orang tersebut.

Apa dampak negatif dari membaca buku?
Jika berbicara soal dampak positif dari membaca buku*, tentu semua orang sudah mengetahuinya dan banyak orang yang mengamini jika membaca buku itu salah satu kegiatan positif. Namun, membaca buku juga memiliki dampak negatif, lhoh!

Dampak yang pertama adalah mata minus.
Tidak hanya bermain game yang dapat menyebabkan mata minus. Membaca buku juga akan menyebabkan mata minus. Bahkan di masa lalu, membaca buku adalah penyebab utama bagi masyarakat yang mengalami penurunan fungsi penglihatan. 

Di masa lalu, ketika buku sudah hadir ke dunia, listrik belum terpasok secara maksimal. Sehingga penglihatan manusia akan menurun seiring dengan keberadaan hobi membaca buku dan apalagi jika itu dilakukan di malam hari dan tanpa lampu atau penerangan yang cukup.

Jangankan di masa lalu, di masa kini yang listrik sudah nyaris menjangkau seluruh pelosok dunia saja, orang-orang masih bisa mengalami penurunan penglihatan ketika mereka juga memiliki hobi membaca buku dan apalagi jika mereka membaca buku di malam hari sebelum tidur.

Termasuk dengan posisi membaca buku yang kadangkala lebih menyenangkan jika dilakukan sambil berbaring/tiduran. Jarak mata yang semakin dekat dengan buku akan semakin membuat mata kita semakin tidak terbiasa untuk melihat dengan jarak jauh/ideal.

Untuk itulah, para orangtua biasanya memperingatkan anaknya untuk tidak membaca sambil tiduran apalagi dengan posisi telentang. Karena, seiring berjalannya menit membacanya, kekuatan tangan untuk menjadi penyangga buku akan berkurang---tangan lelah. Maka, tidak mengherankan jika kemudian jarak buku dengan mata semakin dekat.

Inilah salah satu dampak negatif yang dapat dialami oleh orang-orang yang gemar membaca buku. Secara fisik akan dapat dideteksi dengan keberadaan penampilan orang tersebut dengan mata berkacamata dan berlensa tebal. Secara kesehatan fisik, tentu ini adalah dampak negatif dan sebagai bayaran yang nyaris setimpal dengan 'kejernihan' pikiran dari orang tersebut yang kemudian dianggap sebagai orang pintar**.

Dampak keduanya adalah semacam stereotip atau pandangan negatif dari orang lain terhadap pembaca buku (akut). Yaitu, pembentukan karakter yang semakin eksklusif. Dewasa ini, tidak hanya penggemar game saja yang semakin tidak banyak bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya, namun juga pembaca buku.

Orang-orang yang terlewat banyak membaca buku dalam satu harinya di luar jam kegiatan utamanya, pasti akan memilih diam di rumah dibandingkan menghabiskan waktu di luar bercengkerama dengan tetangga sekitar. Kalaupun berinteraksi dengan orang lain, orang-orang ini akan mempersiapkan waktu yang khusus, yang memang tidak akan mengganggu waktu 'produktifnya'. Hal ini bisa menjadi sisi yang dilematis, namun juga bisa menjadi sisi negatif jika dilihat dari kacamata masyarakat umum.

Karena, masyarakat umum hanya akan berpikir bahwa selain bekerja, sekolah, ataupun berkuliah, kegiatan selanjutnya adalah berinteraksi dengan orang lain secara santai. Baik itu dengan bermain bersama (bagi anak-anak), ataupun juga 'ngopi bareng' bagi orang-orang dewasa.

Hal ini yang sedikit dihindari bagi orang-orang yang sudah terlanjur jatuh hati dengan buku. Orang-orang ini akan memprioritaskan waktunya untuk membaca buku. Bahkan, jika merujuk pada hobi membaca (bukan berpatok pada buku) saja, maka, orang-orang berlabel kutu buku ini akan memilih membuka gadget-nya dan membaca buku digital/e-book.

Melihat hal semacam ini (entah terakui atau tidak bagi para kutu buku), tentu bisa disadari juga, jika membaca buku juga perlu adanya manajemen terhadap ruang dan waktu. Artinya, perlu ada kesadaran dan keikhlasan bahwa terkadang tidak setiap hari pula para penikmat buku bisa menyelami 'samudera dunia' melalui buku. Perlu mengetahui kapan waktu yang tepat untuk membaca buku dan alasan yang tepat untuk 'menyingkir' sejenak dari keramaian.

Karena, bagi pembaca buku, membaca buku bisa menjadi hal yang lebih mengasyikkan dibandingkan 'ngobrol ngalor-ngidul nggak jelas'. Namun, tetap perlu diingat, bahwa membaca buku juga bisa menjadi bumerang negatif, jika kita tidak bisa mengontrol kebiasaan itu ke cara hidup yang dinilai ideal bagi masyarakat. Toh, manusia adalah makhluk individual yang terikat oleh sistem sosial. Seperti yang dinyatakan Emile Durkheim***.

Hal inilah yang sebenarnya menjadi titik balik bagi pembaca buku. Yaitu, berupaya untuk dapat menyeimbangkan dirinya dalam menjalani hobinya dengan tetap melihat sekitarnya juga. Karena, kadangkala tidak sedikit orang kutu buku sengaja menyingkir dari interaksi sosial karena merasa pemikirannya berbeda dengan orang lain ataupun melihat perilaku orang lain terlihat 'aneh'. Sehingga, hal ini menjadi stereotip bagi pembaca buku di mata orang awam yang mengharapkan si pembaca buku ini juga hadir ke dalam kehidupan bermasyarakat yang apa adanya.

Di akhir penulisan ini, muncul satu pertanyaan yang mendadak terlintas dan mungkin bisa dijawab oleh orang-orang yang gemar membaca buku.
Yaitu, "pernahkah Anda disebut kuper ketika Anda lebih suka membaca buku daripada keluar (bermain) bersama teman-teman?"





Malang, 23 April 2019
Deddy Husein S.


Tambahan:

*Berikut ini adalah tautan sebuah artikel tentang dampak positif membaca buku. (Klik di sini)
**. Penulis selalu teringat slogan dari sebuah merk produk kesehatan tentang 'orang pintar'. Hehehe...
***. Emile Durkheim adalah salah satu ilmuwan asal Prancis yang dikenal di dunia Sosiologi atau yang sering disebut ilmu masyarakat. Dia memiliki pemikiran jika manusia adalah individu yang tidak akan bisa terlepas dari aturan sosial (implementasi dari SOLIDARITAS SOSIAL). Karena manusia hidup dengan nilai-norma. Jika ingin tahu lebih lengkap tentang teori Sosiologi berdasarkan perspektif Emile Durkheim, silakan klik di sini.