Deddy Husein Suryanto
Deddy Husein Suryanto Freelancer

Penyuka Sepakbola dan Penulis Gadungan, Cinta Indonesia. Jika mencari tempe, silakan kunjungi: https://deddyhuseins15.blogspot.com Iseng-iseng unggah video di https://m.youtube.com/channel/UCmc1Ubhzu3PPCG3XXqcGExg

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Lagi-lagi tentang Agama

10 Desember 2018   18:21 Diperbarui: 11 Desember 2018   12:21 476 6 0
Lagi-lagi tentang Agama
Achmad Hulaefi dan Lindswell Kwok. (Bolatimes.com)

"Pindah Agama bukanlah suatu fenomena baru, namun perdebatan tak kunjung pudar"

Dewasa ini, masyarakat kembali mendengar fenomena sensitif nan privasi tentang agama lagi. Ketika terdengar kabar menikahnya duet atlet wushu Indonesia, Achmad Hulaefi dan Lindswell Kwok, publik Indonesia (mungkin hanya beberapa) menanggapinya cukup heboh. Maklum, pernikahan ini cenderung tidak biasa. Karena adanya pernikahan yang menyatukan perbedaan (lagi).

Pernikahan beda agama bukanlah suatu hal baru di Indonesia, apalagi pernikahan beda ras dan suku. Karena, inilah Indonesia. Negara besar dengan wilayah terdiri dari pulau-pulau (masing-masing pulau memiliki ciri) yang terpisah oleh selat, laut, bahkan di dalam pulau tersebut masih ada keberagaman. Artinya, pernikahan yang menghadirkan perbedaan latar belakang sudah bukan lagi hal yang perlu diperdebatkan. Karena memang secara logikanya (jika dirunut bahwa manusia makhluk dinamis dan memiliki mobilitas tinggi) hal itu pasti akan terjadi. Apalagi di zaman yang semakin berkembang dan maju ini.

Jangankan beda ras atau suku di dalam satu negara, bahkan antar negara dengan beda semua latar belakang termasuk agama, sebuah pernikahan masih dapat terjadi. Entah memang karena kekuatan cinta atau faktor lainnya. Namun, memang itulah yang pasti akan kita lihat.

Termasuk pada kisah pasangan suami-istri (pasutri) baru ini, Hulaefi-Lindswell. Pasangan beda latar belakang ini akhirnya menjadi perbincangan hangat, ketika publik baru mengetahui adanya perubahan yang terjadi pada Lindswell, yang notabene diketahui berasal dari Medan, keturunan Chinesse dan (awalnya) non muslim.

Padahal, secara fakta yang dimiliki oleh Lindswell, bahwa dirinya sudah mendalami Islam sejak 2015*. Artinya, dia tidak 'ujug-ujug' muncul dengan pakaian berhijab panjang dan menunjukkan jati dirinya sebagai muslimah. Dia juga memiliki proses sebagai mualaf dan dia mampu menjaga ranah privasinya tersebut untuk tidak terpublikasikan pada saat itu. Artinya, dia dapat tetap membuat publik lebih fokus pada karir atletnya bukan kehidupan pribadinya.

Hal ini sangat penting bagi seorang atlet. Karena, sebagai atlet sangat membutuhkan mentalitas dan dukungan yang besar bagi dirinya agar Indonesia dan dunia melihat dia yang tetap sama di dalam arena meski di dalam kehidupan aslinya, dia telah memiliki banyak perubahan---manusia selalu berubah untuk mendapatkan dirinya sebagai sosok yang lebih baik di setiap masa yang terus berjalan.

Memang, fakta ini cukup menggelikan jika harus sampai menjadi perbincangan paling hangat di masyarakat Indonesia. Karena, Indonesia itu negara multi-segalanya, dan seharusnya kita bisa memaklumi sebuah fakta yang sering terjadi di kehidupan sehari-hari; menjaga kehidupan masing-masing dengan pengamalan dari ajaran agama masing-masing.

Tak bisa dipungkiri juga, bahwa mendapati bagian dari anggota keluarganya memiliki perbedaan (khususnya) agama, akan terasa berat untuk disikapi. Namun, hal ini sudah tidak bisa dihindari. Karena, pada kenyataannya tak sedikit orang mengalaminya---tak hanya dialami oleh publik figur namun juga masyarakat umum, dan mereka selalu merasakan prosesnya yang sangat tidak mudah.

Pindah agama=belajar mengelola kehidupan dengan sudut pandang yang baru. Meski, semua agama secara garis besar prinsipnya sama, namun pewarnaannya yang agak sedikit berbeda. Inilah yang menjadi tantangan bagi masyarakat Indonesia dalam menghadapi realitas.

Salah satu komentar masyarakat-net. (Youtube.com/kumparan)
Salah satu komentar masyarakat-net. (Youtube.com/kumparan)
Termasuk menyikapi kabar tentang Lindswell tersebut. Bahkan, ada komentar dari masyarakat-net di sebuah channel Youtube* yang menyatakan bahwa Lindswell diapresiasi tinggi mengenai prestasinya di cabang olahraga wushu, namun di sisi lain ada pengharapan atau pengandaian bahwa (mencoba untuk mengutip bebas) 'akan lebih keren jika dia juga seorang muslimah'.

Artinya di sini, seolah-olah orang Indonesia yang berprestasi dan membanggakan negeri ini seyogyanya beragama Islam. Mungkin lebih tepatnya---jika dispesifikan pada Lindswell, akan lebih keren jika Lindswell adalah muslimah yang berprestasi di Wushu. Lalu, apakah semua putra-putri bangsa yang hebat ini harus (lebih baiknya) dengan latar belakang sebagai muslim?

Inilah yang menjadi keunikan dari cara berpikir kita. Bahwa kebaikan yang terbaik adalah apa yang dimiliki; dianut. Padahal semua yang ada di dunia ini sudah sesuai porsi terhadap fakta yang ada di lapangan.

"Mengapa atlet wushu seperti Lindswell Kwok dapat berprestasi?"

Salah satu faktornya adalah latar belakang ras dan suku. Seandainya dia bukan keturunan Chinesse, apakah besar kemungkinan dapat berprestasi di cabang ini? (mari merenungkan ini)

Mari kita sama-sama tengok ke cabang olahraga lainnya yang juga membuat Indonesia selalu menggelora namanya di tanah internasional.

Betul! Badminton, atau yang disebut bulu tangkis. Cabang olahraga ini juga melahirkan banyak atlet berprestasi dari tanah air Sabang-Merauke. Namun, sebuah fakta yang menarik juga hadir di sini. Yaitu, atlet yang dominan di lapangan adalah atlet dengan garis keturunan Chinesse.

Mungkin beberapa atlet tidak berasal dari keturunan Chinesse, namun jika dilihat secara kasar---berdasarkan yang terpublikasi di media massa, kita dapat melihat pemain era sekarang seperti Anthony Sinisuka Ginting, Jonathan Cristhie, Kevin Sanjaya Sukamulyo, Marcus Gideon, Liliyana Natsir (Butet), Hendra Setiawan, Simon Santoso, dan yang lainnya. Bahkan, di era masa lalu ada Susi Susanti, salah seorang legenda badminton putri yang sekarang dikenal sebagai pengamat dan komentator di siaran pertandingan badminton tanah air.

Fakta ini bukan tanpa alasan, karena banyak orang-orang keturunan Chinesse memang memiliki kegemaran bermain badminton---bahkan dari segala usia (anak-anak, remaja, sampai dewasa). Artinya, ada semacam budaya berolahraga di cabang ini yang ditanam dan ditularkan secara turun-temurun, yang kemudian membuat masyarakat dapat melihat hasilnya sampai sejauh ini. Apakah kemudian kita harus mengharap bahwa mereka seyogyanya beragama Islam---meski berketurunan Chinesse?

Tentu saja tidak, bukan?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2