Deasy Maria
Deasy Maria karyawan swasta

kosong\r\n

Selanjutnya

Tutup

Internet Artikel Utama

Sebagian Besar Siswa SD Sudah "Biasa" Melihat Konten Porno di Internet

26 November 2013   15:15 Diperbarui: 24 Juni 2015   04:39 1434 16 15
Sebagian Besar Siswa SD  Sudah "Biasa" Melihat  Konten Porno di Internet
13854534441084131127

[caption id="attachment_280434" align="aligncenter" width="556" caption="Siswa SD Ar-Rahman Motik Lagi Serius Mengisi Angket"][/caption]

100.000 istilah pencarian yang terkait dengan pelecehan atau kekerasan seksual pada anak sudah dibersihkan oleh Google, seperti yang katakan oleh direktur komunikasi Google, Peter Barron diberitakan oleh BBC (19/11/2013).

Melalui pemberitaan yang sama, Google dan Microsoft (bing), dua perusahaan mesin pencari terkemuka saat ini telah sepakat untuk mempersiapkan algoritma baru (software instructions) yang akan mencegah pencarian yang terkait dengan pelecehan seksual pada anak. Algoritma baru ini akan membuat lebih sulit untuk menemukan gambar pelecehan anak secara online.

Sebagai langkah awal, perkenalan software pembatasan pencarian ini akan diluncurkan di Inggris, sebelum diperluas ke negara-negara lain, baik berbasis berbahasa Inggris dan 158 bahasa lain dalam enam bulan ke depan.

Usaha yang perlu didukung, seperti juga dengan apa yang telah dilakukan oleh Trust Positif Kominfo dan Yayasan DNS Nawala yang kita kenal di Indonesia.

Walau begitu, ada yang meragukan mesin pencari dapat membersihkan secara total seluruh konten pornografi.  Kita lihat saja nanti enam bulan ke depan. Namun bila melihat perkembangan belakangan ini, perlu diakui bahwa untuk menemukan gambar pornografi di Google sangat mudah ditemui oleh anak-anak, walau keyword yang mereka gunakan tidak mengandung kata atau frasa pornografi.

Inilah kenyataannya bahwa sengaja maupun tidak disengaja, anak-anak kita dapat dengan mudah menemukan konten porno di internet, bukan saja melalui mesin pencari tetapi juga melalui jejaring sosial lainnya. Bahkan ada yang mengakui hal itu sudah biasa ditemukan.

Jawaban yang sama juga diperoleh oleh relawan IDKITA Kompasiana saat melakukan dialog bersama siswa dan siswi SD Ar-Rahman Motik, Jakarta, pada Senin, 25 November 2013 kemarin, di mana mereka mengakui baik secara langsung dalam dialog maupun dalam angket yang mereka isi. Bahkan ada beberapa diantaranya mengaku pernah mencoba untuk menonton video porno.

Mengapa pertanyaan ini dikemukakan oleh relawan IDKITA Kompasiana? Mungkin bagi sebagian orang, tidak perlu atau tabu ditanyakan kepada anak-anak, apalagi masih sekolah dasar. Namun kami merasa perlu mempertanyakan hal tersebut bukan dalam tujuan membahas di mana dan bagaiamana mereka menemukannya, karena dapat menimbulkan rasa penasaran bagi siswa-siswa yang lain.

[caption id="attachment_280435" align="aligncenter" width="515" caption="Foto bersama siswi SD Ar-Rahman Motik"]

13854535289956314
13854535289956314
[/caption] [caption id="attachment_280436" align="aligncenter" width="515" caption="Foto bersama siswa SD Ar-Rahman Motik"]
13854535761369334662
13854535761369334662
[/caption]

IDKITA terpanggil untuk mengarahkan dan membimbing mereka agar tidak menelusuri lebih jauh konten-konten pornografi tersebut, memberitahukan dampak dan bahayanya, serta mengajak mereka untuk terbiasa melaporkan kepada orang tua, guru, keluarga, pemerintah atau dapat ditujukan kepada komunitas atau organisasi yang bergelut untuk mengatasi dampak buruk pemanfaatan internet di kalangan anak dan remaja. Kepada mereka juga ditekankan, bila menemukannya harus segera melaporkan bukan sebaliknya saling memberitahukan kepada sesama teman lainnya.

Dialog yang bersahaja dan rileks ini, juga menampilkan beberapa video agar dapat menarik perhatian sekaligus memotivasi mereka. Selain video kampanye internet sehat dan aman yang dibuat Kemenkominfo, terdapat beberapa video yang berisi ajakan agar mereka dapat berprestasi dan kreatif dalam memanfaatkan internet.

Dialog bersama siswa-siswi kelas 5 dan 6 ini berlangsung dari jam 8 hingga 10 pagi, kemudian dilanjutkan dengan dialog bersama orang tua dan guru mulai pukul 10 hingga 12 siang.

Dalam sesi ke dua bersama orang tua, relawan IDKITA yang dalam kesempatan ini diwakili oleh Mas Valentino, Mbak Chia dan Mas Choirul berdiskusi bersama orang tua tentang hasil dialog bersama putra-putrinya pada sesi pertama sekaligus memaparkan beberapa hal tentang fakta penyalahgunaan internet dan beberapa tips sederhana dalam menanggulanginya.

[caption id="attachment_280437" align="aligncenter" width="515" caption="Foto bersama sebagian orang tua dan guru SD Ar-Rahman Motik"]

13854536381228668702
13854536381228668702
[/caption]

Dialog pada sesi kedua ini berjalan cukup lancar dan menarik perhatian para orang tua. Hal ini dapat dilihat dari pertanyaan-pertanyaan yang mereka lontarkan serta harapan mereka agar IDKITA dapat menyelenggarakan workshop untuk membahas lebih dalam tentang langkah pengamanan peralatan TIK yang dimiliki oleh anak-anak mereka.

Sosialisasi, workshop serta dialog ini diselenggarakan atas dasar MOU yang ditandatangani antara KOWANI (Kongres Wanita Indonesa) dengan IDKITA Community beberapa waktu lalu, dan dapat terselenggara dengan lancar juga berkat dukungan PT. Indosat

Ke depan, masih banyak rangkaian kegiatan yang akan dilaksanakan oleh IDKITA bersama KOWANI dan akan menggandeng berbagai pembicara ahli, praktisi, aktivis, dan organisasi lain dalam mengedukasi orang tua, guru maupun anak dan remaja,

Semoga rangkaian kegiatan ke depannya dapat berguna untuk diterapkan dan bermanfaat bagi masyarakat secara luas, khususnya dalam meningkatkan kepedulian bersama terhadap penyalahgunaan TIK dikalangan anak dan remaja, sekaligus merangsang mereka untuk dapat memanfaatkan TIK secara cerdas, kreatif dan produktif (CAKAP) yang sudah dicanangkan oleh kementrian Komunikasi dan Informatika dibawah koordinasi Direktorat Pemberdayaan Informatika.