Mohon tunggu...
Dean Ruwayari
Dean Ruwayari Mohon Tunggu... Human Resources - Penganggur Struktural

Belakangan doyan puisi. Tak tahu hari ini, tak tahu esok.

Selanjutnya

Tutup

Diary Pilihan

Dear Kompasianer

20 Januari 2022   18:31 Diperbarui: 20 Januari 2022   20:49 235 42 4
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun

Butuh keberanian besar untuk menelanjangi jiwa; untuk sepenuhnya pasrah melepaskan rasa sakit, kesedihan, rasa malu, kegembiraan, kekecewaan dan bahkan kegagalan kita yang terdalam dari yang terdalam, agar dilihat semua orang. Namun kita melakukannya setiap hari, di sini, di Kompasiana.

Apresiasiku untuk para pahlawan Kompasiana. Setiap hari kalian menuangkan kata di atas kertas, secara harfiah maupun kiasan. Setiap hari menyelam jauh ke dasar hati dan jiwa sendiri untuk menemukan permata tersembunyi di dalamnya. 

Saya tahu dari pengalaman betapa sulitnya menulis beberapa artikel dan tantangan yang harus dilalui untuk diterbitkan. Beberapa sangat menyenangkan untuk dipelajari dan dibentuk terus-menerus guna menciptakan mahakarya, bahkan jika diri sendiri adalah satu-satunya yang menganggapnya sebagai mahakarya.

Saya memuji keberanian yang memungkinkan kita semua untuk melepaskan pemikiran dari brankas berharga nan rahasia kita, kisah-kisah yang menunjukkan begitu banyak rasa sakit dan penderitaan yang membutuhkan banyak upaya, menghapus paragraf, menulis ulang, berkali-kali sebelum keputusan akhir untuk memposting sebuah kisah.

Fasilitator Kompasiana,
kalian yang berada di sana, dalam ruang yang tak terlihat, tak membiarkan apa pun, tidak Pandemi, Endemik, Badai, Kerusuhan, atau ancaman kehidupan, untuk menghalangi dari tujuan yang kalian tuju: menerbitkan cerita kami. 

Meskipun menghibur, membosankan, mempertanyakan, bertengkar, menghakimi, tidak setuju atau membuat kalian khawatir dengan cerita kami yang terkadang bagus, atau cerita kami yang biasa-biasa saja, baik, buruk atau benar-benar mengerikan, kalian selalu di sana, tidak terpengaruh dan bertekad untuk menjadi orang tua literasi kami. Kalian menghukum kami, menasihati kami, mengoreksi kami, dan mengarahkan kami ke jalan yang sah dan benar. Terima kasih.

Kompasianer,
ada warna atau intonasi unik yang mendefinisikan setiap kita. Masing-masing menciptakan seni dengan harapan mengisi kanvas kosong menjadi hidup lewat kata. Menyusun dan mengasah cerita lewat ketekunan dan perhatian penuh, dengan harapan dapat memikat pembaca lewat kata-kata dan ide-ide yang dikuratori secara cermat.

Lewat setiap cerita lahir seorang seniman, kekasih, kritikus, guru, orang tua, komposer, narator, korban, politikus, antagonis, teman, anak batiniah atau orang dewasa yang kebingungan. Daftarnya terus berlanjut, menghidupkan cakrawala baru untuk dilampaui.

Menulis bukanlah bentuk seni yang mudah diprediksi. Kita harus menenun potongan-potongan huruf satu-satu, menjalin kata-kata dan frasa yang tepat sedemikian rupa sehingga harapan pembaca terlihat dalam cahaya yang sama dengan yang kita bayangkan; sehingga pembaca akan memahami dan menerima cerita kita dengan minat dan senyum, percikan cahaya dan dering alarm yang muncul di kepala, atau bahkan tetesan air mata.

Fiksi tidak lebih mudah untuk ditulis daripada peristiwa faktual, sama-sama mengepak sayap imajinasi, membumbung di antara dunia nyata dan imajiner.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Diary Selengkapnya
Lihat Diary Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan