Mohon tunggu...
David F Silalahi
David F Silalahi Mohon Tunggu... ..seorang pembelajar yang haus ilmu..

..berbagi ide dan gagasan melalui tulisan... yuk nulis yuk.. ..yakinlah minimal ada satu orang yang mendapat manfaat dengan membaca tulisan kita..

Selanjutnya

Tutup

Lingkungan Artikel Utama

Perang Opini Kubu "Renewables" dan "Fossil": Film "Sexy Killers" Versus "Planet of The Humans"

17 Mei 2020   11:38 Diperbarui: 18 Mei 2020   05:20 1197 23 6 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Perang Opini Kubu "Renewables" dan "Fossil": Film "Sexy Killers" Versus "Planet of The Humans"
Photo by Markus Spiske from Pexels 

Dalam kurun waktu dua tahun, ada dua film yang saling bertolak belakang dirilis ke publik. Rilisnya sama-sama bulan April, dekat dengan peringatan Hari Bumi 'Earth Day'. Sama-sama berhasil pula menghebohkan penontonnya.

Film Sexy Killer dilaunching pada 14 April 2019, lalu setahun kemudian film Planet of The Humans ditayangkan pertama kali pada 24 April 2020. Kedua film ini sama-sama menyoroti bagaimana kebutuhan populasi manusia akan energi telah memberikan dampak kerusakan hebat pada lingkungan

Baik itu yang bersumber dari energi fosil atau energi terbarukan. Kelihatannya saling serang antara kubu pro energi terbarukan dan kubu inkumben pro energi fosil tampak jelas dalam kedua film ini. 

Berikut kira-kira review singkat dari film ini, tentunya versi saya:

1. Sexy Killers

Sebuah film dokumenter apik  yang dibesut oleh rumah produksi Watchdog, disutradarai Dhandy Laksono. Film berdurasi 1 jam 28 menit ini menyoal bagaimana rusaknya lingkungan akibat aktivitas penambangan batubara dan pembangkit listrik tenaga batubara. 

Diawali dengan scene pasangan yang berbulan madu di kamar hotel. Lalu berpindah perlahan pada bagaimana sebetulnya listrik yang ada di kamar hotel itu didapatkan. Sampailah pada hulu dimana batubara dikeruk dari perut bumi Kalimantan. 

Sumber: thejakartapost.com
Sumber: thejakartapost.com

Selanjutnya dinarasikan, bagaimana kehadiran tambang batubara menyengsarakan masyarakst petani didekat lahan tambang. Awalnya masyarakat bertahan di lahannya, tidak mau dibebaskan, namun lambat laun mengalah karena hidupnya semakin sulit. 

Hasil taninya memburuk karena irigasi memburuk, limpahan lumpur dari kegiatan tambang, rumahnya retak bahkan amblas karena terkena getaran ledakan-ledakan di lokasi pengerukan batubara yang tidak jauh. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
VIDEO PILIHAN