Darwono Guru Kita
Darwono Guru Kita profesional

**************************************** \r\n DARWONO, ALUMNI PONDOK PESANTREN BUDI MULIA , FKH UGM, MANTAN AKTIVIS HMI, LEMBAGA DAKWAH KAMPUS JAMA'AH SHALAHUDDIN UGM, KPMDB, KAPPEMAJA dll *****************************************\r\n\r\n\r\n\r\n\r\nPemikiran di www.theholisticleadership.blogspot.com\r\n\r\nJejak aktivitas di youtube.com/doitsoteam. \r\n\r\n\r\n*****************************************\r\n\r\nSaat ini bekerja sebagai Pendidik, Penulis, Motivator/Trainer Nasional dan relawan Pengembangan Masyarakat serta Penggerak Penyembuhan Terpadu dan Cerdas Politik Untuk Indonesia Lebih baik\r\n*****************************************

Selanjutnya

Tutup

Politik

Jangan Ada Matahari Kembar di PBB

10 November 2018   00:00 Diperbarui: 10 November 2018   00:41 163 0 0

Dalam konteks ekologi, kompetisi secara sederhana terjadi dimana  Interaksi dari dua  populasi atau lebih bersaing untuk hidup di habitat dan sumber makanan yang sama. Atau secara singkat dinyatakan sebagai terjadinya persaingan memperebutkan sumber pangan yang sama. Analog dengan hal tersebut, maka kompetisi yang sejatinya terjadi diantara partai-partai yang memiliki basic konstituen yang sama. Oleh karena itu, dalam konteks partai partai Islam dengan basic konstituen umat Islam, maka kompetisi sejati terjadi diantara partai-partai Islam sendiri.

Melihat karakteristiknya, terdapat dua kelompok besar umat Islam di  Indonesia, yakni umat Islam  modernis dan umat Islam tradisional (kultural). Terdapat beberapa partai yang memang memiliki basic konstituen umat Islam modernis, partai-partai itu adalah PAN, PBB dan PKS. Oleh karena itu, dalam relung yang sama, maka kompetisi sejati terjadi diantara tiga partai itu.

Dari ketiga partai di atas, dalam penilaian penulis, atau bahkan merujuk hasil survey dari waktu ke waktu dari berbagai lembaga menunjukan bahwa PBB adalah partai yang paling lemah. Gembar gembor kelopok kelompok tertentu yang konon beranggota jutaan yang menyatakan bergabung dengan PBB tidak tercermin dari hasil-hasil survey yang ada.

Oleh karena itu, untuk menyelamatkan PBB untuk tidak menjadi korban dari Ekslusi kompetisi itu, maka sangat tepat jika Yusril Ihza Mahendra yang terus berjuang agar PBB terus eksis bahkan menginginkan dapat memberikan konstribusi bagi perjalanan bangsa dengan menempatkan para kadernya di Senayan, sangat wajar untuk melihat habitat lain tentu saja dengan asumsi ada sumber-sumber baru yang memungkinkan PBB tetap eksis.

Pemahaman terhadap kondisi riil yang seperti itu harus disadari oleh seluruh kader PBB, sehingga gerak langkah ke depan akan mendapatkan hasil sesuai yang diharapkan. Hal ini perlu ditekankan, karena sejauh pengamatan penulis dari sosial media yang penulis ikuti, tidak jarang mengesankan seakan-akan PBB adalah bagian dari Kualisi Bosan (Prabowo Sandi).

Pada pemilu 2014 lalu, kebetulan penulis menjadi caleg dari PBB, pasca pileg, menjelang proses pilpres, seingat penulis YIM menyatakan bersikap netral di Pilpres 2014. Namun penulis mengamati, pada saat deklarasi pasangan Prahara (Prabowo Hata Rajasa) ada oknum dan bendera PBB yang berkibar disana. Apabila setelah YIM bersedia menjadi "pengacara" Paslon Jomin (Jokowi -- Amien) yang lebih memiliki pertmbangan profesionalisme kemudia dilanjutkan dengan tindakan poltik dalam artian PBB mendukung Paslon Jomin, sudah seharusnya disertai kekompakan seluruh koponen PBB dari pusat hingga daerah.

Keluarga besar PBB pasti masih memiliki ingatan segar terkait dengan Pilkada DKI, dimana YIM telah didukung oleh kelompok-kelompok masyarakat, namun gagal mendaftar sebagai Cagub, karena Partai Partai Islam yang diharapkan mendukungnya ternyata tidak mengusungnya. Peristiwa itu sudah selayaknya memberi hikmah, bahwa meskipun jargon jargon  uhuwah, solidaritas, persatun terus dikumandangkan, namun untuk meraih tujuan dan cita-cita PBB harus dilakukan dengan kekuatan PBB itu sendiri.

Demikian juga dengan keinginan, cita-cita, target  PBB untuk Back to Senayan, mau tidak mau memperkokoh PBB  dan fokus pada cita-cita itu menjadi mutlak adanya. Hal ini sudah pernah penulis sampaikan melalui tulisan berjudul "Jika Saya Yusril Ihza Mahendra" (Kompasiana, 7 Maret 2018). Untuk itu, sekali lagi, jangan ada matahari kembar di PBB, itu juga sangat penting !