Mohon tunggu...
Danny Prasetyo
Danny Prasetyo Mohon Tunggu... Guru - Seorang pendidik ingin berbagi pemikiran kepada sesama

Menulis adalah buah karya dari sebuah ide ataupun pemikiran.

Selanjutnya

Tutup

Karir Pilihan

Bahagia Itu...

18 September 2021   11:48 Diperbarui: 18 September 2021   12:01 52 9 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Bahagia Itu...
Karier. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Freepik

Jika judul tulisan ini ditanyakan kepada kita, kira-kira jawaban apa yang akan muncul ? Apakah setiap orang akan memiliki jawaban yang sama dalam mendefinisikan makna bahagia

Bahagia itu memiliki kekayaan yang melimpah bahkan sampai tujuh turunan. Mungkin ada sebagian orang yang akan memunculkan jawaban tersebut, karena tentu tidak salah memiliki pandangan bahwa dengan kekayaan maka segala sesuatunya mudah didapat.

Menjadi pertanyaan lanjutan, jika kekayaan menjadi ukuran kebahagiaan seseorang, apakah ketika harta kita sudah melimpah pasti hidup kita bahagia? Ternyata jawabannya juga belum tentu, karena banyak juga keluarga yang penulis jumpai memiliki kekayaan melimpah tapi hubungan antara anggota keluarganya justru berantakan, apakah itu bisa disebut bahagia? 

Kekayaan yang dimiliki ternyata bukannya menjadi berkat atau rejeki tetapi justru membawa kepada kesulitan atau masalah baru yang timbul. Orang tua menjadi sibuk membesarkan bisnisnya, anak-anak memiliki dunianya sendiri tanpa peduli dengan pelajarannya di sekolah, karena ukuran kebahagiaan adalah uang atau materi kekayaan.

Lalu apakah kemudian kita tidak boleh menjadi kaya? Tentu bukan itu yang menjadi maksudnya, karena setiap orang pasti ingin menjadi kaya bukan, tetapi kekayaan itu hanya sarana atau alat dan bukan menjadi tujuan seseorang dalam hidup. Di satu sisi, bahagia itulah yang justru seharusnya menjadi tujuan dalam menjalani kehidupan ini.

Bahagia itu memiliki status atau jabatan yang berpengaruh sehingga dihormati orang lain. Pernyataan ini bisa menjadi jawaban lain dari pertanyaan tentang apakah itu bahagia menurut kita, yaitu memiliki status atau jabatan.

Bagi sebagian orang akan berpikir mengapa banyak orang sudah memiliki kekayaan tapi tetap saja ingin menjadi pejabat? Bukankah lebih baik menikmati kekayaan yang sudah dimiliki bersama keluarga atau bisa juga berbagi kepada orang-orang yang membutuhkan, mengapa harus mengejar status?

Jika meminjam tingkatan Abraham Maslow, maka tingkat paling tinggi adalah aktualisasi diri dan bukan kekayaan. Memang aktualisasi tidak berarti mengejar status atau jabatan, tetapi ketika memiliki hal tersebut maka tentu pengaruh yang dimiliki untuk mengaktualisasi diri akan lebih luas lingkupnya.

Selain aktualisasi diri, seperti disebutkan sebelumnya maka status atau jabatan pasti berkaitan pula dengan pengaruh atau mengajak orang lain untuk berbuat seperti yang kita inginkan. Sebagai contoh, sekaya apapun seseorang tapi mungkin hanya memiliki pengaruh kepada perusahaannya saja, tidak kepada orang lain yang bukan karyawan atau bawahannya. Sedangkan jika menjadi kepala daerah maka meski dia tidak kaya, tapi pengaruh yang dimiliki lebih luas bahkan orang kaya di wilayahnya akan juga menurut. 

Bahagia itu sederhana mungkin juga menjadi jawaban lain yang bisa jadi muncul di benak kita. Indikator sederhana bukan berarti kekurangan, akan tetapi mencukupkan diri dengan apa yang didapat sambil mengucap syukur kepada Pencipta kita.

Apakah kemudian karena kesederhanaan kita tidak perlu kekayaan ataupun status? Tentu saja tidak demikian, karena hal tersebut juga dibutuhkan sebagai penunjang atau sarana, namun seperti dijelaskan sebelumnya keduanya bukan menjadi tujuan utama dalam mencapai kebahagiaan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Karir Selengkapnya
Lihat Karir Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan