Kotaksuara

Kuda Hitam di Pilkada Kota Palembang 2018

7 Oktober 2017   12:02 Diperbarui: 7 Oktober 2017   12:36 7732 0 0
Kuda Hitam di Pilkada Kota Palembang 2018
Sumber: Palembangmaju.com

Pesta demokrasi Pilkada di Palembang masih akan berlangsung Juni tahun depan 2018. Walaupun masih didominasi wajah-wajah lama, banyak tokoh-tokoh muda putra daerah yang digadang-gadang akan ikut dalam kontestasi Pilkada Kota Palembang.

Salah satu nama yang muncul adalah Yudha Pratomo Mahyuddin. Inisiator dan penggiat Komunitas Palembang MAJU (www.palembangmaju.com) ini adalah mantan Ketua Umum Karang Taruna Sumsel 2008-2013 dan Ketua Umum BPD HIPMI Sumsel 2013-2016. Saya berkesempatan bertemu dengannya selama beberapa hari di Palembang.

Yudha lahir di Palembang, 20 April 1979 (38 tahun) merupakan putra Prof. dr. H. Mahyuddin NS, SpOG(K) dan dr. Hj. Halipah Amin, SpTHT, MM. Sejauh ini Yudha dikenal sebagai seorang pengusaha, dosen/akademisi, dan organisator. Tamatan SD Negeri 77 Palembang dan SMP Negeri 1 Palembang. Lulus SMA dari SMA Taruna Nusantara Magelang. Menyelesaikan S1 di Teknik Elektro ITB, S2 di University of Surrey, Inggris dan S3 di Universiti Teknologi Malaysia.

Berpikiran terbuka dan modern adalah ciri khasnya. Dia mau mendengar pendapat orang lain dan menerima kalau memang ada yang salah. Beberapa kali dia menerima pendapat saya tentang politik. Berdiskusi dengannya selalu bersemangat dan menginspirasi. Bawaannya sopan, kalem dan cenderung tidak banyak bicara kalau orang baru mengenalnya. Namun lama-lama terlihat sifatnya yang ramah, berkarakter, punya prinsip dan cenderung idealis.

Soal kemampuan akademis tak diragukan. Yudha selalu ranking 1 dari SD sampai lulus SMP. Keseimbangan antara keunggulan akademis, jasmani, dan kepribadian didapatkannya di SMA Taruna Nusantara Magelang, kumpulan murid-murid terbaik dari seluruh nusantara. Kuliah S1-nya tidak tanggung-tanggung, Jurusan Teknik Elektro ITB, salah satu jurusan terbaik dan tersulit di ITB. S2-nya dari Inggris, tulisan dan bicara bahasa Inggris-nya fasih. S3-nya di UTM, ITB-nya Malaysia, dan selesai di usia relatif muda 34 tahun.

Orangnya sederhana dan low profile. Pembawaannya biasa saja. Mobilnya 'cuma' Kijang Innova. Tidak menggunakan mobil mewah yang seringkali jadi simbol anak muda kaya. Bahkan dia selalu duduk di depan atau mengendarai mobil sendiri. Dia tidak punya ajudan ataupun sekretaris pribadi (sespri).

"Hidup itu sesuai fungsi dan kebutuhannya. Tidak perlu bermewah-mewah mengikuti keinginan. Apa yang mau kita buktikan?", tegasnya.

Terlalu sederhana untuk ukuran keluarga besarnya yang kaya dan bisnis pribadinya yang cukup sukses. Ayahnya mantan Wagub dan Gubernur Sumsel 2004-2009, juga sempat menjadi anggota DPR-RI 2009-2013. Keluarganya punya bisnis rumah sakit, pendidikan, klinik kecantikan, peternakan sapi, pusat pembiakan perikanan, kebun sawit dan lain sebagainya. Saya lihat dia tahu membedakan mana kebutuhan dan mana keinginannya.

Sholatnya dijaga 5 waktu. Dia tidak merokok dan tidak juga minum minuman beralkohol, apalagi terlibat narkoba. Kalau makan dengan saya di restoran, minumnya cuma air putih atau teh hangat. Kesehatannya terjaga, dia suka olahraga jalan dan lari. Dia tidak suka bergadang terlalu malam atau mengerjakan sesuatu yang tidak penting.

Keluarganya sederhana. Istrinya, dr. Ariesti Karmila, SpA, MKes, adalah Puteri Sumsel 2003 dan penerima beasiswa Fulbright yang sedang S3 di Amerika Serikat. Kelihatannya juga ketiga anaknya baik-baik dan cerdas disekolahnya masing-masing disana. Hubungan mereka sangat baik, saling mendukung dan menghormati. Saya melihat dia paham bagaimana membangun sebuah keluarga yang baik.

Secara pengalaman organisasi, dia juga sudah paripurna. Dua organisasi besar yang berbeda segmen pernah dia besarkan, yaitu Karang Taruna dan HIPMI. Karang Taruna adalah organisasi sosial kepemudaan menengah ke bawah, sedangkan HIPMI adalah organisasi elit pengusaha muda dibawah 40 tahun. Yudha mengabdi 5 tahun sebagai Ketua Umum Karang Taruna Sumsel (2008-2013) dan 3 tahun sebagai Ketua Umum BPD HIPMI Sumsel (2013-2016), belum lagi di organisasi lain dimana dia bukan sebagai ketua umumnya, seperti ICMI, MES, APJII dan lain sebagainya.

Saya melihat Yudha adalah paket yang paling komplit antara bibit, bebet dan bobot diantara kandidat yang ada di pilkada walikota Palembang 2018. Dia dari keluarga baik-baik dan punya trah keturunan Gubernur dari ayahnya. Kecerdasan akademis dan kemampuan organisasinya diatas rata-rata. Secara logistik dan finansial dia kuat, namun gaya hidupnya sangat sederhana. Saya jarang menemukan pribadi seperti dia.

Dia mengusung tagline Palembang MAJU ber-Teknologi 2018-2023, yaitu membangun Palembang sebagai kota Modern, kota Aman, kota Jujur dan kota Usaha dengan menggunakan teknologi informasi. Sesuatu yang memang keahliannya sebagai akademisi dan pengusaha di bidang IT. Saya yakin dia mampu mewujudkan visinya tentang kota Palembang.

Hanya saja, Yudha belum terlalu populer dibanding petahana atau calon lain yang sudah pernah bertanding. Dia pendatang baru dunia politik. Orangnya sering tidak enakan dan ewuh pakewuh. Dia sungkan kalau sampai harus menyinggung orang lain. Dia juga tidak mau main uang, karena menurutnya akan berpotensi korupsi untuk mengembalikan modal politik.

"Kalau politik selalu bicara tentang uang, kapan anak-anak muda cerdas, berkualitas dan berintegritas mendapatkan kesempatan?", tambah dia.

Idealismenya akan politik yang lurus, baik, tulus dan santun sangat saya hargai. Namun masalahnya realitas kondisi perpolitikan sekarang ini masih jauh dari ideal. Politik uang, saling sikut dan kampanye negatif masih akan sangat kental mewarnai pilkada-pilkada kedepan.

Ditengah segala kelebihan dan kekurangannya, dia adalah harapan baru masyarakat kota Palembang akan pemimpin muda, kompeten, cerdas dan berintegritas. Yudha itu baru, unik dan belum terkontaminasi. Dialah kuda hitam di Pilkada Kota Palembang 2018. Saya termasuk yang menunggu kiprahnya ke depan. Semoga sukses, Yudha!