Mohon tunggu...
Nurterbit
Nurterbit Mohon Tunggu... Wartawan, Blogger, Lawyer, Youtuber

Journalis, Lawyer, Vlogger, YouTuber, Editor Harian Terbit (1984-2014), Owner www.nurterbit.com, Medsos semua akun pakai nama @Nurterbit, Fanpage FB: Wartawan Bangkotan, Email: aliemhalvaima@yahoo.com

Selanjutnya

Tutup

Catatan

Wartawan Belum Menulis Buku = Wartawan 'Bangkotan'

22 Desember 2012   20:25 Diperbarui: 24 Juni 2015   19:11 1027 0 3 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Wartawan Belum Menulis Buku = Wartawan 'Bangkotan'
1356205132743987684

[caption id="attachment_216042" align="alignright" width="300" caption="Kartu identitas setelah dinyatakan lulus Uji Kompetensi Wartawan (UKW) yang dilaksanakan Dewan Pers - PWI. Ujian dilakukan 3 tingkatan: Muda (Reporter), Madya (Redaktur), Utama (Pemred) -- Illustrasi : kolleksi pribadi"][/caption]

Benarkah wartawan yang belum menulis buku, cuma pantas disebut wartawan bangkotan? Kalimat ini seolah menyindir saya yang selama ini hanya asyik menulis berita reportase saja. Kumpulan tulisan hanya berserakan berupa guntingankoran dalam bentuk kliping, atau masih sebatas konsep berupa file-file dalam folder khusus di server komputer. Ya, belum pernah sampai ke perusahaan penerbitan buku. Itu harus saya akui,  hehe ...

Padahal kasta,  atau tingkatan status dan derajat sosial seorang wartawan itu bisa dilihat sesuai kompetensinya. Begitu kata  tokoh pers kita, Mochtar Lubis dan Rosihan Anwar. Dari reporter biasa yang hanya menulis berita, meningkat menjadi penulis artikel  hingga merampungkan kumpulan artikelnya menjadi sebuah buku.

Mochtar Lubis dan Rosihan Anwar , dua sosok wartawan senior ini memang telah teruji dan tidak diragukan lagi kompetensinya sebagai jurnalis. Mochtar Lubis adalah pendiri dan pemimpin redaksi koran “Harian Indonesia Raya” yang pernah membongkar “Kasus Pertamina”. Untuk keberaniannya itu, rezim Orde Baru membredelnya dan tidak bisa lagi terbit hingga sekarang. Sedang Rosihan Anwar, Pemimpin Redaksi “Harian Pedoman” mengalami nasib sama.

Kompetensi wartawan itu, kata  keduanya, bermula saat menjadi wartawan pemula (reporter). Awalnya, hanya dapat membuat berita. Lalu  meningkat menjadi seorang wartawan yang mampu menulis artikel, kemudian meningkat lagi sudah bisa dipercaya menulis editorial atau tajuk rencana. Nah kompetensinya berikutnya adalah menulis buku.

Maka wartawan senior kita yang berkompetensi tinggi, selama ini banyak menulis buku. Antara lain bisa disebutkan Rosihan Anwar, Mochtar Lubis, Goenawan Mohammad (Majalah Tempo Grup), Jacub Oetama (Pendiri Harian Kompas), Yulius Pour (wartawan senior Kompas) dan lain-lain. “Menulis buku adalah mahkota seorang wartawan,” tutur Rosihan Anwar tntang wartawan berkompetensi tinggi.

Sementara Parni Hadi (mantan Pemimpin Redaksi Harian Republika, sekarang petinggi RRI) menambahkan, wartawan seperti itu juga diakui kebolehannya oleh berbagai pihak sehingga, misalnya, dipercaya menjadi nara sumber di seminar atau lokakarya, bukan hanya terbatas sebagai moderator. Terkadang juga diminta jadi konsultan (kehumasan, komunikasi massa) dan lan-lain.

"Jadi kompetensi itu tidak melalui ujian dalam kelas," kata Pak Ismet Rauf, wartawan senior yang sekarang jadi salah satu penasehat Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cabang DKI Jakarta.  Maka kepada wartawan muda, sebagaimana selalu diingatkan oleh para wartawan senior, tingkatkan kompetensi masing-masing. Mulailah dengan kemampuan dalam membuat reportase termasuk investigasi, kemampuan menulis berita, menulis artikel dan seterusnya. Syukur-syukur suatu saat bisa melahirkan sebuah buku.

[caption id="attachment_216043" align="alignleft" width="300" caption="Kartu ditandatangani Ketua Dewan Pers, Bagir Manan (foto: koleksi pribadi)"]

1356205472705234906
1356205472705234906
[/caption]

Suatu hari Rektor IISIP Lenteng Agung, Jakarta, H.A.M  Hoeta Suhut pernah menyidir kelemahan wartawan yang hanya bisa menulis berita, bukan menulis buku. Katanya, “wartawan yang sampai hari tuanya tidak sekalipun  pernah menulis buku, hanya pantas disebut sebagai wartawan bangkotan”.

Sindiran tersebut  diulang kembali kepada saya, memang bukan oleh “Opung” Hoeta Suhut langsung, tapi melalui mantan mahasiswinya, Eni Setiati, yang kini sudah menjadi author, editor, dan ghost writer.

Ya semacam penulis bukulah, kira-kira begitu.  Buku terbaru yang ditulisnya tahun 2012 adalah mengani bagaimana menjadi pengusaha penulis. Judulnya keren; How To Be A Writerpreneur.  Eni dulunya memang wartawan juga. Oh ya, sory mbak Eni, saya belum sempat menulis resensi buku mbak. Percayalah, itumenjadi utang saya hehe...

Itu sebabnya, sindiran tadi -- “wartawan yang sampai hari tuanya tidak satu kali pun  pernah menulis buku, hanya pantas disebut sebagai wartawan bangkotan”-- seolah membangunkan mimpi saya agar suatu saat nanti bisa juga menulis buku. Malu rasanya, sebab sudah separuh usia dihabiskan sebagai wartawan, tapi hingga tulisan ini diposting, tak satupun buku yang bisa ditulis. Akh, saya harus mencoba, kalau tidak mau disebut "wartawan bangkotan" seperti kata Pak Hoeta Suhut, hehe.....Insya Allah.

Salam

Nur Aliem Halvaima (NAH)

Blog : http://aliemhalvaima.blogspot.com

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x