Cucum Suminar
Cucum Suminar Kompasianer

Belajar dari menulis dan membaca. Twitter: @cu2m_suminar

Selanjutnya

Tutup

Birokrasi Artikel Utama

Pengalaman Membuat Paspor di Pulau Belakang Padang, Batam

23 Mei 2018   15:37 Diperbarui: 24 Mei 2018   02:24 2129 4 4
Pengalaman Membuat Paspor di Pulau Belakang Padang, Batam
Perahu yang mengantarkan pengunjung dari Pulau Batam ke Pulau Belakangpadang. Lihat deretan gedung dibelakang? Itu adalah gedung-gedung di Singapura. | Dokumentasi Pribadi

Batam, Kepulauan Riau, memiliki satu pulau kecil bernama Pulau Belakang Padang. Pulau ini tidak terlalu luas, bila dikelilingi dengan menggunakan sepeda motor, paling sekitar 20 hingga 30 menit. Meski demikian, pulau yang berbatasan langsung dengan Singapura ini memiliki fasilitas yang sangat lengkap.

Ada kantor pos, kantor PLN --dulu bahkan memiliki pembangkit listrik sendiri, waduk dan instalasi pengolahan air bersih, kantor telkom, lapangan sepakbola, stadion, masjid dan mushalla, pengolahan sampah, hotel, areal pemakaman, sekolah dari tingkat TK sampai SMA, hingga kantor imigrasi sendiri.

Yup, Batam mungkin satu-satunya daerah di Indonesia yang berstatus kotamadya, namun memiliki dua kantor imigrasi sekaligus. Satu Kantor Imigrasi Kelas 1 yang terletak di Batamcentre --bedekatan dengan kantor Walikota dan DPRD Batam, satu lagi Kantor Imigrasi Kelas 2 yang terletak di Pulau Belakang Padang.

Salah satu sudut di Pulau Belakangpadang. | Dokumentasi Pribadi
Salah satu sudut di Pulau Belakangpadang. | Dokumentasi Pribadi
Saat pertama kali pindah dari Bogor, Jawa Barat, ke Batam, saya memilih membuat paspor di Kantor Imigrasi Kelas 1 Khusus Batam. Namun saat perpanjangan, saya lebih memilih membuat paspor di Kantor Imigrasi Belakang Padang. Alasannya agar tidak perlu mendaftar melalui aplikasi what's apps dan mengantri terlalu panjang.

Apalagi saat itu, pengajuan pembuatan paspor lumayan banyak, mungkin karena menjelang akhir tahun. Terlebih karena Kantor Imigrasi Kelas 1 Khusus Batam juga melayani pembuatan e-paspor, sementara di beberapa kota tetangga belum ada, tidak sedikit warga dari kota lain yang sengaja datang Kantor Imigrasi Kelas 1 Khusus Batam untuk membuat paspor elektronik.

Saya sendiri lebih memilih membuat paspor biasa. Alasannya saya memang belum membutuhkan paspor elektronik. Negara-negara yang akan saya kunjungi pun paling negara-negara di sekitar Batam, kalau tidak Singapura ya Malaysia, paling jauh mungkin Thailand atau Vietnam.

Proses Cepat, Lancar, Tanpa Calo

Saat itu saya membuat paspor Kamis siang. Saya sudah khawatir tidak terkejar dan loket pendaftaran keburu tutup.  Apalagi ada beberapa berkas yang lupa saya buat salinannya. Namun saat sampai disana, loket pendaftaran ternyata buka hingga sore sekitar pukul 15:00 WIB hingga 16:00 WIB.

Kantor Imigrasi Belakangpadang. | Dokumentasi Pribadi
Kantor Imigrasi Belakangpadang. | Dokumentasi Pribadi
Saat di bagian pendaftaran, proses yang dilalui juga tidak berbelit. Apalagi saya ber-KTP Belakang Padang. Saya masuk ke ruangan, diberi beberapa berkas yang harus diisi. Setelah diisi saya serahkan kembali ke petugas. Setelah itu saya diminta menunggu untuk wawancara dan foto.

Pada bagian pendaftaran tidak ada pertanyaan sama sekali, berkas saya juga langsung oke. Hanya saja pembuatan paspor anak saya harus ditunda. Saya lupa tidak membawa KTP asli suami. Saat itu, sempat diakali hanya memberikan fotocopy KTP hasil scan yang dikirim melalui aplikasi what's apps, namun tetap tidak bisa. Akhirnya waktu itu, hanya saya yang membuat paspor, paspor anak dibuat di hari lain.

Persyaratan untuk membuat paspor anak memang lebih banyak. Bila orang dewasa hanya memerlukan salinan dan menunjukan dokumen asli KTP, kartu keluarga, akta kelahiran/akta perkawinan/buku nikah/ijazah/surat baptis, dan paspor lama bagi yang sudah pernah memiliki paspor, untuk pembuatan paspor anak-anak harus dilengkapi KTP orangtua (ayah), kartu keluarga, akta kelahiran/surat baptis, buku/akta nikah orangtua, paspor orangtua, dan paspor lama bagi yang sudah pernah memiliki paspor.

Bagian dalam kantor imigrasi. | Dokumentasi Pribadi
Bagian dalam kantor imigrasi. | Dokumentasi Pribadi
Menunggu wawancara dan foto, tidak sampai satu jam. Namun karena saat itu terpotong waktu istirahat makan siang, proses pembuatan paspor saya baru selesai sekitar pukul 14:00 WIB. Setelah semua dinyatakan selesai, saya diberi kertas, satu untuk pengantar pembayaran paspor, satu untuk pengambilan paspor di hari berikutnya.

Saat ini di Belakang Padang sudah ada cabang Bank BRI, tempatnya di dekat pintu masuk pelabuhan Belakang Padang, di sekitar pasar. Jadi semua pembayaran wajib dilakukan di bank, meski tidak selalu harus BRI. Dulu sebelum ada bank, pembayaran langsung dilakukan di kantor imigrasi.

Setelah, biaya pembuatan paspor dibayar, esok siangnya usai shalat Jumat, saya mengambil paspor di kantor imigrasi. Hanya tinggal menunjukan kertas pengambilan. Lumayan cepat bukan? Namun, itu bila kita melakukan pembayaran pada hari yang sama dengan proses pembuatan paspor. Bila kita membayar pada hari berikutnya, paspor baru bisa diambil satu hari setelahnya lagi.

Bila Ada Hambatan Ditelepon

Satu minggu kemudian saya kembali ke Belakang Padang, kali ini membuat paspor anak. Proses pembuatan paspor anak lebih cepat. Hal tersebut dikarenakan saya datang pada pagi hari. Apalagi saat itu juga antrean tidak terlalu banyak. Mungkin karena orang-orang sudah mulai banyak yang berlibur.

Wawancara dan foto jadi satu. | Dokumentasi Pribadi
Wawancara dan foto jadi satu. | Dokumentasi Pribadi
Selain itu, menurut salah satu petugas, pembuatan paspor di Kantor Imigrasi Belakang Padang memang tidak sebanyak di Kantor Imigrasi Batamcentre.

Setiap hari, pengajuan paspor paling banyak sekitar 50 orang. Umumnya dari warga Belakang Padang sendiri, sebagian dari Pulau Batam yang malas daftar dan mengantre di Kantor Imigrasi Batamcentre. Padahal katanya membuat paspor di Kantor Imigrasi Batamcentre pun sekarang tidak terlalu antre lho, sejak ada pembagian jadwal berdasarkan pendaftaran what's apps.

Namun pembuatan paspor anak saya ternyata ada kendala. Paspor anak saya tidak langsung jadi pada esok harinya. Saya tidak bertanya lebih lanjut apa penyebabnya, toh juga tidak akan dipakai buru-buru. Namun yang paling berkesan adalah sejak pagi hari kita ditelepon oleh petugas imigrasi bahwa paspor belum bisa diambil, sehingga tidak perlu bolak-balik ke kantor imigrasi dengan tangan kosong. Paspor tersebut baru saya ambil tiga hari kemudian.

Petugas Ramah dan Proses Sangat Efisien

Proses wawancara dan foto dilakukan bersamaan sehingga tidak perlu bolak-balik. Selain itu, tempat untuk foto dan wawancara berada di satu ruangan dengan tempat untuk menunggu. Ruangannya terbuka, hanya disekat dengan kayu-kayu agar terlihat lebih artistik, dan ada pembatas.

Ini pintu masuk bagian depan, siap-siap naik tangga. Bila malas menaiki tangga, bisa lewat jalan samping. | Dokumentasi Pribadi
Ini pintu masuk bagian depan, siap-siap naik tangga. Bila malas menaiki tangga, bisa lewat jalan samping. | Dokumentasi Pribadi
Petugas juga sangat membantu, bila ada pembuat paspor yang kebingungan atau ada borang yang belum diisi, diberitahu dengan ramah untuk dilengkapi, termasuk memberitahu dimana bisa mem-fotocopy beragam berkas yang dibutuhkan. Ternyata tempatnya di depan kantor imigrasi, sedikit jalan ke bawah.

Saat pembuatan paspor anak, saya awalnya mengira hanya foto saja, tidak ada wawancara, namun ternyata tetap ada lho. Petugas langsung bertanya kepada si anak, meski kita mendampingi di samping anak. Mungkin karena anak saya juga sudah diatas lima tahun dengan postur yang lumayan tinggi.

Persyaratan dan biaya membuat paspor. | Dokumentasi Pribadi
Persyaratan dan biaya membuat paspor. | Dokumentasi Pribadi
Namun pertanyaannya memang sederhana dan bersahabat. Anak hanya ditanya siapa nama lengkapnya, siapa nama ayah, siapa nama ibu, buat apa sih bikin paspor.

Seperti sedang mengobrol ringan pada saat kita berjalan-jalan dan bertemu dengan orang yang mengobrol sepintas lalu. Mungkin hanya untuk memastikan keabsahan data.

pemandangan yang bisa dilihat dari kantor imigrasi. | Dokumentasi Pribadi
pemandangan yang bisa dilihat dari kantor imigrasi. | Dokumentasi Pribadi
Membuat paspor tidak ribet kok. Tidak ada biaya tambahan apapun lagi, benar-benar hanya membayar biaya pembuatan paspor sebesar Rp300.000 untuk setiap paspor 48 halaman.

Paling uang tambahan yang dibutuhkan hanya untuk membuat salinan dokumen di tempat fotokopi dan membeli materai. Jadi sudah siap membuat paspor? Salam Kompasiana! (*)