Mohon tunggu...
Adhyasta Ananta
Adhyasta Ananta Mohon Tunggu... Freelancer - Habis Gelap Terbitlah Terang

Penikmat Senja

Selanjutnya

Tutup

Politik

Kritik Tanpa Nalar

10 September 2018   18:57 Diperbarui: 10 September 2018   19:53 683
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

"Yang buruk bukanlah sesuatu yang masuk ke dalam mulut manusia, yang buruk adalah yang keluar dari mulut mereka"

--Paulo Coelho, Sang Alkemis---

Ungkapan Paulo Coelho diatas agaknya pas menggambarkan kondisi linimasa media sosial dewasa ini di Indonesia. Semua orang entah itu ahli dalam bidang tertentu ataupun yang tidak mengerti mengenai permasalahan yang ada bebas berbicara dan berkomentar seenak hatinya. Fenomena tersebut semakin menjadi-jadi belakangan ini apalagi Indonesia memasuki tahun politik menghadapi pemilu 2019 mendatang.

'Maha benar Netizen dengan segala nyinyirannya' adalah sebuah ungkapan satir ketika melihat banyaknya komentar bernada negatif bahkan cacian dari orang-orang yang kapasitasnya diragukan untuk mengomentari sesuatu hal. Ada ungkapan bijak mengatakan 'Jika tidak tau, lebih baik diam daripada berbicara supaya kau tidak terlihat bodoh' agaknya tidak berlaku bagi netizen Indonesia. Bagi mereka berkomentar dan nyinyir adalah bentuk eksistensi diri di media sosial.

Tapi dari semua hal itu, ada hal yang membuat kita lebih sedih melihat fenomena tersebut yaitu ahli-ahli di bidang tertentu yang mempunyai cukup ilmu dan kapasitas yang mumpuni justru menyebarkan informasi yang agak menyesatkan ke publik dan berusaha membuat gaduh negeri ini. Secara harfiah harusnya mereka yang bisa dikatakan mempunyai pengetahuan yang cukup tersebut bisa memberikan pencerahan berupa solusi, saran dan menentramkan bukan malah membuat peta konflik baru ditengah situasi yang memang agak memanas belakangan ini.

Ungkapan dari Paulo Coelho juga bisa merunut kepada apa yang dilakukan oleh Rizal Ramli yang merupakan mantan Menteri Koordinator Kemaritiman dan Sumber Daya Era Jokowi. Sang Rajawali Kepret melontarkan pernyataan pedas dan menohok terhadap pemerintahan Jokowi terkhusus kepada Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengenai impor beras dan turut juga menyindir Surya Paloh sebagai Ketua Umum Partai NasDem. Lontaran kritik seperti ini sudah sering dilakukan oleh Rizal Ramli dan makin intens sejak dia di reshufle dari Kabine Kerja Juli 2016 yang lalu.

Kita juga tergelitik untuk membicarakan dan membahas kepretan Rizal Ramli yang sepertinya sudah semakin salah arah dan terlihat membabi buta menyerang pemerintah dari berbagai sektor. Setelah kemarin ramai perdebatannya dengan Sri Mulyani tentang utang, kali ini Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita yang menjadi sasaran. Kritik tanpa nalar seorang Rizal Ramli bisa jadi disebabkan oleh sakit hati karena diberhentikan dari jabatan Menteri.

Sebelum kita bahas lebih dalam, mari kita lihat kutipan dari akun twitternya @RamliRizal berikut ini;

  • Mas @jokowi orang baik, keluarganya tidak neko2, ndak cawe2 bisnis negara. Tetapi mas @jokowi tidak mempunyai keberanian untuk membersihkan lingkungannya dari potensi "konflik kepentingan". Tanpa keberanian itu, kami khawatir, 2019-2024 hanya akan menjadi "pesta besar"
  • Pengalaman & pengamatan saya, Pres @jokowi orang berani. Misalnya minta penggunaan peluru tajam Hari ABRI 2015. Tapi tidak berani jika menyentuh kepentingan vested-interest disekitarnya, seperti Menteri Enggar, Menteri BUMN, Ratu Utang, dll. Main qouta impor + grogoti elektabilitas Jkw

Pertama, Aksi Rizal Ramli ini adalah aksi umum yang dilakukan dalam hal politik. Menyanjung seseorang dan menjatuhkannya dengan orang lain. Mencoba untuk mengadu menteri-menteri Jokowi dalam hal ini yaitu mengenai impor beras

Kedua, sikap Rizal Ramli ini adalah sikap orang yang menginginkan adanya perhatian terhadap dirinya. Perhatian tersebut bisa jadi karena dirinya merasa mempunyai kapasitas dan harus didengarkan oleh banyak orang walaupun apa yang disampaikannya belum tentu benar

Ketiga, pernyataan bahwa Jokowi tidak berani menegur Enggar karena merupakan kader NasDem dan takut terhadap Surya Paloh adalah sebuah tudingan tak berdasar. Mungkin Rizal Ramli lupa bahwa Ferry Mursyidan Baldan yang merupakan kader NasDem juga pernah di reshufle dari Kabinet Kerja. Fakta ini jelas membantah argumen Rizal Ramli tersebut. Lagi pula Surya Paloh sudah selesai dengan dirinya sendiri, Dia menempatkan dirinya menjadi negarawan dan menyalurkan pikirannya untuk negara ini melalui konsep Restorasi Indonesia bersama Partai NasDem yang bahkan gagasan tersebut sudah tercetus sejak 2004 yang lalu pada masa pemerintahan SBY.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun