Mohon tunggu...
Christie Damayanti
Christie Damayanti Mohon Tunggu... Arsitek - Just a survivor

Just a stroke survivor : stroke dan cancer survivor, architect, 'urban and city planner', author, traveller, motivator, philatelist, also as Jesus's belonging. http://christiesuharto.com http://www.youtube.com/christievalentino http://charity.christiesuharto.com

Selanjutnya

Tutup

Healthy Pilihan

[Bab 2] Aku Terus Belajar Menelan, Belajar Makan

29 Mei 2021   14:30 Diperbarui: 29 Mei 2021   15:09 510
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Dokumentasi pribadi/Ibu sering menunjukkan foto2 anak2ku serta keluarga adikku, ketika semuanya berjalan2 keliling kta San Francisco, sementara bapk dan ibuku selalu menunggu dan menemaniku di ruangku

Aku berdiam diri sejenak lagi.

Perlahan, aku angkat lagi tangagn kiriku. Bisa. Aku gerak2an tangan kiriku seperti senam. Terasa badanku seperti ringsek! Aku mencoba menggerakkan tangan kananku. Uh ..... sama sekali tidak bisa!

Otakku memaksa tangan kananku untuk bergerak. Lagi! Lagi! Lagi!

"Ah ...... sama sekali aku tidak mampu! Aku ambil tangan kananku memakai tangan kiriku".

Aduh ...... selang2 di tangan kiriku bergeser, yang mengakibatkan jarumnya pun bergerak. Sakit! Darah mulai keluar. Dan aku berhenti bergerak ......

Aku mulai panic lagi. Bagaimana aku sekarang? Aku mulai berpikir serius. TEtapi, mengajak otakku berpikir keras, membuat kepalau berdenyut lagi. Tetapi, aku harus berpikir, bagaimana kelanjutan hidupku!

"Aku sekarang cacat. Aku pasca-stroke. Kemungkinnan, aku tidak bisa sembuh seperti kata Doter Gandhi. Walau aku teap berkeras, aku kan sembuh!Jika sembuh pun, aku yakin akan lama! Sampai kapan?"

 "Bagaimana hidupku selanjutnya? Sampai kapan orang tuaku bisa menemaniku? Bagaimana dengan anak2ku? Tidak ada dana dari mantanku. Jadi, bagaimana?"

"Lalu, bagaimana  dengan aku? Sampai kapan aku harus di rumah sakit ini? Jauh dari rumah. Ini di San Francisco! Pasti biayanya mahal sekali! Siapa yang bisa membayar?"

"Masa depanku bagaimana? Pekerjaanku bagaimana? Tugas2ku bagaimana? Jika memang tidak bisa bekerja lagi, bagaimana anak2ku? Siapa yang bisa membiayai mereka sampai mereka lulus sarjana? Bagaimana? Bagaimana?"

Aku berpikir keras, didalam denyutan kepalaku. Sungguh, otakku berdenyut2, kubayangkan seperti masakan yang sedang dimasak dalam wajan panas. Berdenyut .....

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
  9. 9
  10. 10
  11. 11
  12. 12
  13. 13
  14. 14
  15. 15
Mohon tunggu...

Lihat Konten Healthy Selengkapnya
Lihat Healthy Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun