Mohon tunggu...
C.H.R.I.S.  (Paknethole)
C.H.R.I.S. (Paknethole) Mohon Tunggu...

Kiranglangkungipun Nyuwun Agunging Samudra Pangaksami.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Secangkir Kopi Mengajak Kita “Menepi”

23 November 2012   05:28 Diperbarui: 24 Juni 2015   20:48 528 1 0 Mohon Tunggu...

Apa saja yang dapat diceritakan tentang kopi? Tentunya kita akan mendapatkan paparan yang bervariasi. Secara umum banyak yang menjawab kopi adalah sejenis minuman yang terbuat dari biji-biji /buah tanaman kopi yang disangrai dan ditumbuk. Hanya itu? Sepertinya tidak. Tentu masih panjang apa yang hendak dikatakan, apalagi oleh kita yang menjadi bagian dari penikmat kopi. Ada yang akan berkata kopi ternikmat adalah yang hitam (murni) dan kental, tanpa gula. Demikian juga ada yang lebih menikmati kopi tersaji dengan campuran sedikit/banyak gula.

Apalagi ketika pada perkembangannya terdapat mereka yang disebut/menyebut diri sebagai pengamat kopi, peracik kopi ataupun ahlinya kopi. Maka, semakin panjang cerita yang berusaha menjabarkan luasnya “dunia” perkopian. Sehingga muncul “sebutan-sebutan” bertema utamakan kopi yang membuat minuman tradisional ini “naik kelas”. Dari kopi hitam, kopi luwak, kopi susu, kopi joss, kopi ginseng, arabica, hingga nama-nama terkait lainnya seperti cappucino, mochacino, machiato, espresso, latte, americano, flate white, ataupun breve, yang terkadang kita tak tahu persis “makhluk” apa itu.

Segala jenis kopi serta variasi penyajian tentu saja menciptakan berbagai rasa. Penyambutannya akan sangat bergantung pada selera penikmatnya. Demikian pula berbagai pilihan cara menikmati yang acapkali berbeda. Berkumpul dengan rekan-rekan di warung kopi, cafe modern, ataupun menyendiri sembari menghisap kretek. Di kala hujan, mendung ataupun cerah. Pagi, siang, ataupun malam. Namun, di luar segala perbedaan selera dan caranya itu, sadar atau tidak ketika berbicara tentang “kenikmatan”, terdapat sebuah kesamaan yang sulit dipungkiri, yakni kopi menghadirkan “ SUASANA JIWA YANG MENEPI”.

Ketika kita hanya menganggap kopi sekedar minuman (wedhang) secara “wadag”nya saja, maka diyakini “kenikmatan” itu akan pergi. Apakah Anda minum kopi karena haus? Jika iya, silahkan meminumnya sekali tenggak langsung tandas saja. Nikmatkah? Saya meragukannya. Atau, seringkah Anda meminum kopi “hanya” sebagai pencegah rasa mengantuk, agar dapat menyelesaikan target lemburan? Jika iya, saya yakin ada kenikmatan yang hilang di sana. Apalagi, orang seperti saya kalau sudah ngantuk ya ngantuk saja, berapa cangkir kopi pun yang saya minum.

Diakui atau tidak, minum kopi telah menjadi suatu hal yang menyentuh “budaya” atau tradisi. Apa yang ditawarkannya bukanlah sekedar “minum” dan “rasa” saja. Ada panggilan kepada jiwa yang mengajak untuk menikmati suasana, menepi dan relaksasi. Ketika “ajakan” itu datang, cara menikmatinya adalah menyambut suasananya. Maka itu, dapat dianggap sebagai “pengakuan” tentang hal ini adalah ketika banyak yang menghadirkannya meskipun terselip dalam ajang-ajang formal. “Coffe Morning” ataupun “Coffe Break” adalah acara yang bisa dijadikan contohnya.

Demikian pula, terlihat hal yang seringkali ditonjolkan para produsen kopi dalam memasarkan produknya hanyalah tentang “rasa”. Mungkin mereka menganggap/mengakui konsumen telah memiliki dan memilih “suasana”nya sendiri. Yang penting produknya tetap diingat dan menarik untuk dicoba. Slogan “jelas lebih enak”, “terkenal sejak 1949”, “Jangan bilang Anda pecinta kopi..”, ataupun “Pas susu-nya” adalah usaha produsen untuk memberikan pilihan rasa. Sedangkan kenikmatan yang terkait suasana, penikmatnya lah yang paling mengetahui.

Yah, ngopi bukan sekedar meminum kopi. Dalam secangkir kopi ada ajakan kepada jiwa untuk menepi yang seharusnya terpenuhi. Apapun pilihan rasa dan caranya. Jika tidak, maka ada sesuatu yang hilang di sana.

Selamat menikmati.

.

.

C.S.

Sambil “udud”....

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x