Mohon tunggu...
Reinhard Hutabarat
Reinhard Hutabarat Mohon Tunggu... Wiraswasta - Penikmat kata dan rasa...

Menulis untuk senang-senang...

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Malin Kundang, The Untold story

1 Juni 2016   16:26 Diperbarui: 1 Juni 2016   17:14 252
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber foto : www.ceritabahasainggris.net

Pasan mandeh, usah takuik nak diombak gadang

Riak nan tanang oi nak kanduang, mambaok karam..

Pagi hari itu Pelabuhan Teluk bayur penuh sesak dengan Penghantar dan Penumpang yang hendak pergi ke Pelabuhan Tanjung-Priok, Jakarta. Malin Kundang telah bersiap-siap hendak menaiki kapal. Dia kemudian terdiam, lalu memeluk ibunya dan menangis. Ibunya segera mengusap-usap kepalanya lalu berkata, “Pergilah nak, carilah hidupmu, “Dimano bumi dipijak, disitu langik dijunjuang” jangan pulang kalau belum berhasil, tapi jangan lupakan ibu ya, doa ibu menyertaimu selalu”      

Doa ibunya selalu menyertainya, membuat nasib baik selalu menyertai Malin Kundang. Hanya dalam sepuluh tahun dia sudah kaya raya! Ketika pertama kali datang ke Jakarta, dia menumpang tidur disebuah toko percetakan kecil, sambil membantu beres-beres di toko itu. Siang hari sampai malam dia bekerja di “Nasi kapau”

Malin Kundang anak yang baik, sehingga “tauke”nya sayang kepadanya. Karena takut dikejar “Pajak” Toko percetakan dan nasi kapau tersebut dibuat atas nama Malin Kundang.

Dua tahun kemudian, entah mengapa, mobil tauke percetakan tersebut bertabrakan dengan mobil tauke nasi kapau di Cipanas. Kedua tauke tersebut “berpamitan” pergi kealam fana. Toko percetakan dan nasi kapau tersebut menjadi milik Malin Kundang.

Doa ibu memang sangat mujarab! Tigo tahun sejak Malin Kundang mengelola nasi kapau tersebut, dia sudah mempunyai “sapuluah” gerai dan akan segera membuka “ampek” gerai lagi!

Demam pilkada, pileg dan “demam-demam” lainnya membuat percetakannya kebanjiran order spanduk, kartu-nama, kaos, poster dan lain-lain. Kini dia mempunyai sapuluah toko percetakan!

Dia teringat akan “Mandeh dikampuang nan jauah dimato” tapi dia merasa belum berhasil. Kalau tokonya sudah “saratuih” barulah dia merasa berhasil, dia akan pulang kampuang menjemput ibunya.

Waktu berlalu tanpa terasa. Siang itu Malin Kundang berada di Singapura, dan dia sedang memilih “setelan suite” yang pas baginya. Kelihatannya, Hugo Boss terlalu mainstream, jadi dia memilih Feragamo. Tak disangko tak didugo, dia berkenalan dengan seorang cewe cantik, putiah dan sexy sekali. Ondeh mandeh... rupanyo cewe tu orang awak jugo, pucuak dicinto ulom tibo! Malin Kundang segera menikahinya dan merekapun tinggal disebuah kondominium mewah di kawasan River-valley Singapura.

Ampek tahun tinggal di Singapura, datang kabar mengejutkan! Fahrizal, koki kepala nasi kapau memberitahukan kepada Malin Kundang bahwa ibunya telah meninggal setahun yang lalu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun