Mohon tunggu...
charles dm
charles dm Mohon Tunggu... Freelancer - charlesemanueldm@gmail.com

Verba volant, scripta manent!

Selanjutnya

Tutup

Nature Pilihan

Mengurai Soal Akut Sampah Plastik, Saatnya Kita Berpindah Paradigma

15 Maret 2019   16:47 Diperbarui: 27 Maret 2019   14:18 1020
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Warga Bali bisa memanfaatkan drop box yang ada di sejumlah tempat untuk memungkinkan setiap sampah bisa diolah kembali menjadi produk AQUA 100% Recycled/https://twitter.com/aqua_lestari

Pemerintah telah menyatakan perang terhadap sampah plastik demi pembangunan ekonomi secara berkelanjutan. Status Indonesia sebagai negara maritim dituntut untuk mengambil peran terdepan dalam upaya-upaya konservasi, alih-alih pengrusakan ekosistem kelautan.

Bila tidak segera bertindak, maka impian pemerintah untuk mengurangi sampah plastik hingga 70 persen pada 2025 tak ubahnya pungguk merindukan bulan. Sebuah cita-cita yang tinggal tetap sebagai impian, malah berubah menjadi bencana.

Sampah plastik memerlukan waktu puluhan tahun untuk terurai. Kantong plastik misalnya, baru bisa terurai dalam rentang 10-20 tahun. Bila perilaku membuang sampah sembarangan dan begitu saja masih dipelihara, maka jumlah sampah plastik yang bermuara ke lautan akan semakin terakumulasi.

Sejumlah kajian menunjukkan bila tidak ada perubahan mendasar, maka pada 2025 kawasan perairan atau lautan di Indonesia akan menjadi lautan sampah. Jumlahnya akan melampaui persediaan ikan yang ada dengan komposisi tiga berbanding satu. Sungguh mengerikan, bukan?

Semangat 3R

Soal sampah tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah semata. Tidak cukup seruan perang terhadap sampah plastik bila tidak mendapat dukungan dari para pelaku industri dan masyarakat luas. Gagasan mengurangi penggunaan tas plastik dan mendorong penggunaan plastik dari bahan alternatif tidak akan berhasil bila tidak direalisasikan bersama.

Kita sebenarnya sudah diingatkan terus-menerus untuk menerapkan sistem 3 R yakni Reuse, Reduce, dan Recycle sebagai salah satu solusi terhadap persoalan sampah. Penerapannya bisa dilakukan siapa saja, kapan saja dan dimana saja.  

Sistem ini mengajak kita untuk menggunakan kembali sampah yang masih bisa digunakan untuk fungsi yang sama ataupun fungsi lainnya (Reuse). Sejauh dapat kita menghindari atau setidaknya mengurangi (Reduce) penggunaan bahan-bahan yang bisa merusak lingkungan. Bila tidak membutuhkan sesuatu yang baru kita bisa menggunakan barang yang ada. Barang-barang yang ada pun sejauh dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin agar tidak mubazir.

Ilustrasi dari http://74ufiq.blogspot.com
Ilustrasi dari http://74ufiq.blogspot.com
Selain itu sampah yang dihasilkan tidak lantas dibuang begitu saja. Sampah bisa dimanfaatkan dengan didaur ulang (Recycle). Entah sampah organik maupun nonorganik bisa dimanfaatkan kembali melalui berbagai cara pemanfaatan. Sebagai contoh, botol plastik air minum bisa dipakai sebagai pot tanaman. Kertas-kertas bekas pakai bisa dimanfaatkan kembali menjadi kertas atau karton. Sementara itu, sampah organik dari dedaunan dan rumput misalnya, bisa diolah menjadi kompos.

Menuju ekonomi sirkular

Selain menggelorakan kembali semangat 3R di kalangan masyarakat luas, pada tataran dunia industri berkembang konsep ekonomi sirkular yang merupakan terjemahah dari "circular economy." Konsep ini hadir di antaranya untuk menyerukan pemanfaatkan sumber daya secara baik.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Nature Selengkapnya
Lihat Nature Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun