Mohon tunggu...
charles dm
charles dm Mohon Tunggu... Freelancer - charlesemanueldm@gmail.com

Verba volant, scripta manent!

Selanjutnya

Tutup

Raket Pilihan

Dari Indonesia Open Menuju Asian Games, Sukses Infrastruktur Berlanjut Prestasi

9 Juli 2018   01:36 Diperbarui: 9 Juli 2018   10:18 935
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir akhirnya bisa menaklukkan Istora. Tahun lalu keduanya menjadi juara di JCC Senayan/Badmintonindonesia.org

Mengacu pada target ini berarti Indonesia masih harus membidik satu nomor lagi untuk menyumbang emas selain ganda putra dan ganda campuran. The Minions dan Owi/Butet tentu saja. Satu nomor lagi menyasar pada ganda putri melalui pasangan berbeda generasi Greysia Polii dan Apriyani Rahayu. Bagaimana sektor tunggal, baik putra maupun putri?

Indonesia Open kali ini menjadi kaca pengilon melihat sejauh mana kekuatan Indonesia di Asian Games nanti. Sebagai turnamen Premier of Premier semua pebulutangkis terbaik Asia ambil bagian. Begitu juga Indonesia.

Pertama, tunggal putra. Kemenangan Momota tidak hanya menjadi pukulan telak bagi kedigdayaan Axelsen. Tetapi juga menjadi ancaman terbesar bagi para pemain tunggal Asia lainnya.

Pekan lalu Momota ke final Malaysia Open, meski akhirnya kandas dari andalan tuan rumah, Lee Chong Wei. Tetapi pemain yang sempat tersandung masalah perjudian ini mampu bangkit. Ia balas dendam atas legenda Malaysia itu di semi final. Sempat tertinggal jauh di awal set, Momota lantas memimpin dan mengunci kemenangan straight set, 23-21 dan 21-12.

Setelah kembali ke lapangan dalam setahun terakhir, pemain 23 tahun itu sudah mengalahkan hampir semua pebulutangkis di lingkaran 10 besar dunia, mulai dari Ng Ka Long, Chen Long, Chou Tien Chen, Srikanth Kidambi, Chong Wei, Shi Yuqi, Son Wan Ho hingga Axelsen. Tidak terkecuali atas para pemain Indonesia.

Ornamen menarik di pintu masuk Istora Senayan/Dokpri
Ornamen menarik di pintu masuk Istora Senayan/Dokpri
Di Indonesia Open kali ini Momota menjungkalkan Anthony Ginting dua game langsung di babak kedua. Tunggal terbaik Indonesia ini menyerah 14-21 dan 15-21. Ini merupakan kekalahan kedua secara beruntung setelah sempat unggul 13-7 di pertengahan set kedua. Pemain lainnya, Jonatan Christie lebih dulu angkat koper di babak pertama, dihentikkan Axelsen. Dari skema ini cukup logis ditarik kesimpulan. Momota menjadi momok para pemain tunggal Indonesia.

Lantas apa yang bisa dilakukan dalam sisa waktu jelang Asian Games? Hal paling jelas adalah belajar dari karakter pemain rangking delapan yang akan segera melejit ke urutan dua dunia. Momota memiliki banyak keunggulan, yang beberapa dari antaranya tidak dimiliki para pemain Indonesia saat ini.

Pemain ini tidak hanya memiliki fisik yang kuat dan gerak yang lincah. Ia merupakan pemain yang sangat ulet dan jarang membuat kesalahan sendiri. Selain itu, ia pandai menjaga stamina, fokus dan konsisten. Ibaratnya tidak sekali bertanding langsung menyerah, sekali melangkah jauh lantas terjerembab tak lama berselang.

Selain Momota, para pemain China adalah ancaman lainnya. Kali ini Istora menjadi "kuburan" bagi Lin Dan dan kawan-kawan. Tampil dengan kekuatan penuh, Lin Dan, Chen Long dan Shi Yuqi, China hanya bisa mengirim Yuqi hingga semi final, sebelum ditaklukkan Axelsen. Meski sejak Indonesia Open 1989, setelah Ciong Guabao naik podium tertinggi, China belum lagi menjadi juara, Asian Games bisa menjadi ajang penebusan atas kegagalan sejarah yang panjang itu.

Ginting dan Jonathan harus segera bangkit. Ancaman tidak hanya datang dari luar negeri tetapi juga dari luar pelatnas. Tommy Sugiarto tampil impresif sejauh ini, meski menyerah di perempat final karena cedera dan siap merebut kembali posisi sebagai tunggal terbaik tanah air.

Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir akhirnya bisa menaklukkan Istora. Tahun lalu keduanya menjadi juara di JCC Senayan/Badmintonindonesia.org
Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir akhirnya bisa menaklukkan Istora. Tahun lalu keduanya menjadi juara di JCC Senayan/Badmintonindonesia.org
Kedua, ganda putri. Menempatkan tiga wakil di semi final kali ini membuat posisi Jepang sebagai negara dengan kekuatan baru di sektor ganda putri tak terbantahkan. Negeri Sakura telah memiliki sederet pasangan tangguh. Mereka tidak lagi mengandalkan Misaki Matsutomo dan Ayaka Takahashi. Sudah ada Yuki Fukushima/Sayaka Hirota, Mayu Matsumoto/Wana Nagahara dan masih banyak lagi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Raket Selengkapnya
Lihat Raket Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun