Mohon tunggu...
Hamdani
Hamdani Mohon Tunggu... Konsultan - Sang Musafir - Mencari Tempat untuk Selalu Belajar dan Mengabdi

Kilometer Nol

Selanjutnya

Tutup

Money Pilihan

Sopir Labi-labi Menjerit, Pendapatan Semakin Melorot

11 Desember 2018   17:51 Diperbarui: 11 Desember 2018   17:54 400
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Jasa transportasi lainnya yang saat ini menjadi prgoram pemerintah adalah pengembangan usaha Perum Damri. Sebagai perusahaan negara dalam bidang pengangkutan masyarakat, Perum Damri mampu bersaing dalam hal harga (ongkos). Jika ongkos labi-labi mencapai Rp5.000-Rp10.000 per sekali jalan. Maka ongkos Damri hanya setengahnya saja atau 50%.

Dari sisi harga jelas sangat memukul labi-labi. Mestinya kebijakan seperti ini perlu disepakati dengan pengusaha labi-labi dan perkumpulan sopir angkutan kota (angkot).

Tidak hanya sampai disitu, hadirnya bus Trans Koetaraja semakin menambah sulitnya labi-labi bergerak. Persaingan dalam memperoleh penumpang semakin ketat. 

Apalagi dengan fasilitas AC yang dilengkapi membuat bus Trans Koetaradja menjadi pilihan utama masyarakat selain mobil atau kenderaan pribadi. 

Hebatnya lagi, angkutan massal tersebut masih menerapkan paket gratis bagi yang mau menggunakan jasa transportasi mereka. Meskipun terbatas pada kalangan masyarakat tertentu dan mahasiswa.

Walaupun ini kebijakan yang baik, namun efeknya sangat berpengaruh negatif terhadap pendapatan sopir dan kernet labi-labi. Padahal satu-satunya pekerjaan yang dapat mereka lakukan hanya sebagai sopir. 

Oleh karena itu pemerintah Kota Banda Aceh perlu memikirkan secara bijak bagaimana pengaturan bidang jasa transportasi ini.

Pemerintah harus adil dalam membuat kebijakan. Kepentingan publik memang lebih diutamakan akan tetapi usaha swasta juga harus tetap berjalan. Coba bayangkan yang dulunya jumlah labi-labi (angkot) di Banda Aceh bisa mencapai ratusan, kini hanya tersisa tidak lebih dari 30 unit. Itu pun menunggu usahanya mati.

Salah seorang sopir angkot di Banda Aceh telah lama merasakan redupnya minat penumpang untuk menggunakan jasa labi-labi. Sepinya penumpang dirasakan Efendi dan para supir labi-labi lainnya sejak beberapa tahun belakangan. Kondisi ini berbeda pada 2005 ketika Efendi memulai pekerjaannya itu.

Saat itu, Kota Banda Aceh masih remuk redam setelah tsunami. Banyak orang dari luar Aceh terutama pekerja kemanusiaan lalu lalang di kota. Penumpang labi-labi pun melimpah, terutama ke Darussalam yang menjadi rute Efendi. 

"Alhamdulillah saat itu sehari dapat rezeki Rp100 ribu sampai Rp200 ribu," ujar Efendi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Money Selengkapnya
Lihat Money Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun