Mohon tunggu...
Hamdani
Hamdani Mohon Tunggu... Konsultan - Sang Musafir - Mencari Tempat untuk Selalu Belajar dan Mengabdi

Kilometer Nol

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Mengenal Tradisi "Peusijuek" dalam Masyarakat Aceh dan Perlu Dilestarikan

2 Desember 2018   21:15 Diperbarui: 2 Desember 2018   22:13 2383
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi foto: rri.co.id

Kemudian bu leukat kuneng ngon u mirah (nasi ketan dengan kelapa bercampur gula merah), nasi ketan biasanya diwarnai dengan warna kunyit agar menjadi kuning. Ini sebagai sajian kepada yang hadir serta mengambil sempenanya.

Bahan-bahan teumeutuek (bersalaman sambil menyerahkan sesuatu) biasanya berupa uang, tetapi ada juga yang memberikan kambing ataupun kain untuk bahan baju, sarung dan lain-lain pada acara peusijuek linto.

Tata cara pelaksanaan peusijuek

Mengenai tata cara pelaksanaan upacara peusijuek masih terdapat perbedaan antara satu tempat dengan tempat lain di dalam masyarakat Aceh. Ada yang sesudah membaca Basmalah mendahuluinya dengan sipreuek breuh padee atau ada juga yang memakai breuh kunyeit. Dan ada pula yang memulainya dengan teupong tabeu/tawueu, malah ada juga yang memulainya dengan menggunakan bu leukat kuneng.

Jadi dalam hal urut-urutan pelaksanaan peusijeuk itu dalam prakteknya belum ada keseragaman antar daerah. Adanya ketidakseragaman itu terutama disebabkan orang yang melakukan peusijuek tidak mengetahui bagaimana cara yang sebenarnya.

Begini cara yang benar menurut penuturan tokoh adat masyarakat Aceh: sipreuk breuh padee ke seluruh badan melampaui kepala orang yang dipeusijeuk, sebanyak tiga kali setelah mengucapkan Basmalah. Lalu memercikkan air tepung tawar pada kedua telapak tangan dan ke badan melewati kepala orang yang dipeusijeuk, sebanyak satu kali (hanya sekedarnya saja, jangan sampai basah).

Langkah berikutnya adalah menyunting bu leukat kuneng (nasi ketan kuning) pada telinga sebelah kanan. Dan terakhir teumeutuek (bersalaman sambil menyelipkan amplop berisi uang) kepada orang yang dipeusijeuk.

Mengenai tempat peusijuek dapat dilakukan dimana saja asal bersih dari hadats dan kotoran najis. Bisa dilakukan di meunasah (surau), masjid, rumah, balai desa, atau tempat lainnya yang dianggap cocok.

Biasanya orang yang dipeusijeuk dalam posisi duduk bersimpuh atas tilam meusugou (tilam kecil untuk duduk yang diberi sarung yang disulam) dengan bantal meutampok (pada ujung-ujung bantal yang berbentuk guling dipasang kain, 4 segi yang disulam dengan benang emas) dengan menengadahkan tangan seperti untuk berdoa yang diletakkan diatas paha.

Atau dapat juga dengan duduk sambil menegakkan lutut sejajar dengan kepala dan kedua tangan diletakkan diatas kaki, untuk menerima taburan breuh padee (1-3 kali) dan percikan tepung tabeu (1-3 kali) sesuai dengan kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat desa tersebut.

Anak laki-laki yang mau dikhitan dan dipeusijeuk (dokpri)
Anak laki-laki yang mau dikhitan dan dipeusijeuk (dokpri)
Setelah selesai pembacaan doa, maka selesailah acara peusijuek dan selanjutnya bersalam-salaman untuk meminta maaf satu sama lain, khususnya antara kedua orang yang berselisih (mereka yang dipeusijeuk). Sebagai acara penutup diadakan makan bu leukat kuneng, ayam panggang, tumpoe u mirah, yang telah disediakan sebagai bagian dari perlengkapan peusijuek.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun