Hamdani
Hamdani Cangkoi Burong

Ekspresikan Pikiran Melalui Tulisan

Selanjutnya

Tutup

Budaya Pilihan

Hoaks Meresahkan Masyarakat dan Ancaman SARA

23 Mei 2018   11:14 Diperbarui: 23 Mei 2018   12:00 349 1 0
Hoaks Meresahkan Masyarakat dan Ancaman SARA
Ilustrasi foto: pixabay.com

Perkembangan teknologi informasi yang demikian cepat membuat kehidupan manusia semakin mudah. Perkembangan teknologi informasi berbasis internet dan digital menjadi alat utama manusia zaman sekarang memperoleh informasi yang dibutuhkan. 

Dengan kemajuan jagat teknologi informasi manusia dapat mengetahui berbagai informasi dari penjuru dunia dalam hitungan detik.

Pada dasarnya setiap orang pasti membutuhkan informasi sebagai pengetahuan bagi dirinya. Dengan informasi yang diperoleh maka dia dapat membuat keputusan yang tepat untuk berbagai kepentingan.

Dewasa ini produksi informasi dapat dengan mudah dilakukan, berbeda dengan era 20 tahun yang lalu. Kini setiap orang dapat menghasilkan berbagai macam informasi baik, tulisan, gambar, video dan jenis lainnya sebagai suatu berita berdasarkan apa yang dia lihat ataupun yang dirasakan.

Namun apakah semua informasi/berita yang dihasilkan tersebut dapat dipercaya? Jawabannya belum tentu bisa dipercaya. Sebab kenapa? Sekarang ini bahkan sejak dulu dalam dunia komunikasi dan informasi selalu diwarnai dengan yang Hoaks.

Hoaks adalah usaha untuk menipu atau mengakali pembaca/pendengarnya untuk mempercayai sesuatu, padahal sang pencipta berita palsu tersebut tahu bahwa berita tersebut adalah bohong. 

Salah satu contoh pemberitaan palsu yang paling umum adalah mengklaim sesuatu barang atau kejadian dengan suatu sebutan yang berbeda dengan barang/ kejadian sejatinya. 

Definisi lain menyatakan hoax adalah suatu tipuan yang digunakan untuk mempercayai sesuatu yang salah dan seringkali tidak masuk akal yang melalui media online (merriamwebster.com).

Hoax bertujuan untuk membuat opini publik, menggiring opini publik, membentuk persepsi juga untuk hufing fun yang menguji kecerdasan dan kecermatan penerima/pengguna informasi.

Dalam konteks Indonesia saat ini, Hoax kerap menjadi momok dalam lalu lintas informasi. Penyebaran informasi bersifat Hoax pun dilakukan dalam ranah komunikasi publik seperti media sosial. 

Barangkali tidak terlalu menjadi masalah jika Hoax yang disebar lewat media sosial tersebut bila kontennya hanya lelucon ataupun hal yang membuat jenaka sebagai sebuah karya fiksi -sepanjang tidak melanggar hukum dan etika-. 

Tapi bagaimana jika Hoax tersebut berisi fitnah, menjelekkan nama baik orang lain, bersifat memuji diri sendiri atau bahkan menyerang orang lain dengan niat menjatuhkan? Tentu akan lain ceritanya bukan?

Saat ini di Indonesia sedang marak terjadi peristiwa penyebaran Hoax atau berita palsu. Peristiwa penyebaran berita hoax ini sangat meresahkan masyarakat di Indonesia. Karena banyak pihak yang merasa dirugikan oleh tindakan pihak-pihak yang memproduksikan dan menyebarkan Hoax tersebut.

Sehingga pengguna media sosial terutama sebagai penerima informasi harus memiliki kemampuan berpikir kritis. Dengan memiliki pola pikir tersebut maka baik penerima maupun penyebar akan menghasilkan informasi/berita sesuai fakta dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Hoax bisa sangat berbahaya, dapat mengancam keselamatan seseorang bahkan sebuah negara. Bramy Biantoro (2016) menyebutkan ada empat bahaya yang ditimbulkan dari berita hoax, yakni hoax membuang waktu dan uang, hoax jadi pengalih isu, hoax sebagai sarana penipuan publik, serta hoax sebagai pemicu kepanikan publik.

Hoax juga dapat menjadi pemicu terjadinya disintegrasi sosial dan masalah SARA. Hoax bisa membuat sebuah kelompok atau komunitas masyarakat mudah diadu domba. Dengan memantik isu etnik dan rasis, maka pencipta hoax mengaduk-aduk emosi masyarakat dengan mudah.

Dalam menyebarkan berita hoax, biasanya pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab itu melakukan suatu kebohongan dan menyebarkan informasi yang tidak benar secara sadar. Memang mereka rancang untuk kepentingan agar masyarakat terpengaruh dengan isu bohong yang disebarkan.

Meskipun hoaks sering dikonotasikan penggunaannya pada hal-hal  yang bertujuan negatif (memfitnah, menuduh, menghina), namun hoax juga kerap digunakan sebagai alat publisitas positif, misalnya membangun pencitraan dan personal branding . Namun "nama baik" yang diperoleh dari strategi hoax ini tidaklah orisinal alias palsu.

Dalam realitas sosial dan politik masyarakat Indonesia belakangan ini, hoax telah menjadi perusak  tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara. Antar tokoh masyarakat saling curiga mencurigai hingga para elit politik sekalipun menjadi tidak harmonis disebabkan oleh hoax yang diterimanya.

Media sosial merupakan wadah yang sangat rentan dan sering digunakan sebagai tempat untuk menyebarkan berita hoax. 

Banyaknya pengguna aktif bahkan dapat dikatakan sebagai penggila media sosial di Indonesia ini sangat memudahkan pihak penyebar hoax dalam menjalankan aksinya. 

Apalagi masyarakat Indonesia paling tinggi jumlah pengguna internet dan media sosial di dunia.

Menangkal Hoaks

Melihat begitu masifnya penyebaran hoax di sekitar kita, maka dituntut bagi penerima informasi agar lebih selektif dan kritis dalam menyaring setiap berita yang disajikan baik di media sosial maupun media mainstream.

Untuk meminimalisir penyebaran hoax, kita sebaiknya mempelajari terlebih dahulu apa yang menyebabkan hoax sangat mudah tersebar di jagad informasi publik. Dengan demikian kita dapat mencari solusi atau cara-cara untuk menangkalnya.

Menurut Guru besar Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran, Bandung, Deddy Mulyana, menyebut ada faktor utama yang menyebabkan informasi palsu (hoax) mudah tersebarnya di Indonesia. 

Faktor itu yakni karakter asli masyarakat Indonesia yang dinilai tidak terbiasa berbeda pendapat atau berdemokrasi secara sehat. Kondisi itu merupakan salah satu faktor mudahnya masyarakat menelan hoax yang disebarkan secara sengaja. "Sejak dulu orang Indonesia suka berkumpul dan bercerita.

Sayangnya, apa yang dibicarakan belum tentu benar. Sebab budaya kolektivisme ini tidak diiringi dengan kemampuan mengolah data."

Budaya masyarakat Indonesia yang sangat sosialis dan kolektif tersebut ternyata menjadi strategi yang sangat tepat bagi penyebar hoax untuk membangun solidaritas yang bersifat menentang ditengah-tengah masyarakat yang emosional dan labil. 

Indikasi ini bisa dilihat bagaimana pesan (hoax) berantai dikirim secara terus menerus di media sosial kepada setiap orang.

Untuk itu, masyarakat perlu terus diedukasi untuk bisa mengidentifikasi secara sadar perihal berita sesat alias "hoax" yang kini masih tersebar luas di dunia maya. 

Dengan meningkatkan kemampuan literasi ilmu pengetahuan kepada masyarakat terutama pengguna internet dan media sosial, maka hoax dengan sendirinya akan hilang. 

Motonya: Tingkatkan kecerdasan, maka Hoax akan hilang. Dan mulailah dari diri sendiri, keluarga dan teman-teman dekat.[]