Candra Setiawan
Candra Setiawan pelajar/mahasiswa

hidup bebas lepas

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi Pilihan

Mewaspadai Gejolak Harga Pangan dan Energi di Tahun 2018

12 Januari 2018   22:40 Diperbarui: 13 Januari 2018   01:09 1272 2 0
Mewaspadai Gejolak Harga Pangan dan Energi di Tahun 2018
Harga Beras dan Telur salah satu pangan yang telah terdampak inflasi di tahun 2018 (sumber gambar : tribunnews.com)

Memasuki awal tahun 2018 mayarakat langsung dihadapkan dengan masalah harga pangan yang naik cukup dratiS. Harga beras,telur,dan cabai merangkak naik seiring dengan datangnya musim penghujan. Kenaikan ini terjadi sejak bulan desember , bahkan BPS mencatat kenaikan bahan pangan ini menyumbang inflasi sebesar 2.26 % secara bulanan (sumber: cnnindonesia.com)  Berbagai harga pangan yang naik ini sangat perlu diwaspadai karena akan berlanjut jka tidak ditangani dengan sungguh - sungguh. 

Musim hujan yang terus menerus dikhawatirkan akan menghambat panen dan distribusi barang antar kota. Selain itu bencana alam seperti banjir dan longsor akan banyak mengakibatkan lahan pertanian terdampak gagal panen. Musim hujan yang berkepanjangan ini akan berlanjut sampai bulan Februari hingga Maret 2018. Berbagai kebutuhan pokok pangan ini jika tidak diwaspadai akan berdampak terhadap inflasi tahunan.

Seperti pengalaman tahun - tahun sebelumnya inflasi pangan memberikan sumbangan yang cukup besar untuk inflasi tahunan. Kenaikan harga bahan pangan pokok seperti beras , telur, dan cabai akan semakin memukul daya beli mayarakat di tingkat bawah (cendananews.com). Terutama harga pokok beras yang fluktuatif akan mengakibatkan bertambahnya jumlah keluarga miskin di indonesia. Berdasarkan data BPS beras merupakan salah satu pengeluaran terbesar keluarga miskin indonesia selain rokok  (kompas.com) . Gejolak harga ini akan sangat berpengaruh terhadap pengurangan kemiskinan di Indonesia.

Grafik Minyak Mentah yang terkerek naik sejak pertengahan tahun 2017 dan akan diprediksi terus naik hingga 80 US dollar / barel di tahun 2018 (sumber : oilprice.com)
Grafik Minyak Mentah yang terkerek naik sejak pertengahan tahun 2017 dan akan diprediksi terus naik hingga 80 US dollar / barel di tahun 2018 (sumber : oilprice.com)

Selain pangan kenaikan harga energi harus diwaspadai oleh pemerintah. Harga energi mulai naik sejak pertengahan tahun lalu. Harga energi terutama minyak mentah di tahun 2017 telah menembus angka 60 us / dollar dan akan diprediksi terus meningkat hingga menembus 80 US dollar/ barel. 

Peningkatan harga ini diakibatkan dengan pemotongan produksi minyak mentah OPEC, tidak tercapainya produksi minyak Amerika Serikat , memanasnya politik Iran (timur tengah) ,hancurnya negara ISIS serta prediksi ekonomi dunia yang tumbuh di atas 3 % setelah stagnan selama 3 tahun.  Pertumbuhan ini akan menaikkan permintaan minyak mentah dari negara - negara importir. Harga acuan minyak mentah ini akan mengakibatkan tekanan harga BBM di Indonesia. Terutama harga ICP ( Indonesia Crude Price ) pada APBN 2018 yang  dipatok di level 50 US dollar per barel.

Kenaikan harga ini akan berdampak pada subsidi BBM , gas LPG 3 kg , dan harga listrik di indonesia.  Jika harga energi ini tidak naik akan berdampak terhadap defisit APBN 2018. Terutama di tahun menuju pemilu 2019 pemerintah akan menjaga harga energi tetap stabil dan akan berakibat terhadap APBN 2018. 

Opsi tidak populis seperti menaikkan harga BBM akan dihindari dan akan berdampak pada naiknya inflasi yang akan memukul daya beli kelas bawah. Hal ini terutama dihindari setelah di awal tahun 2017 pemerintah telah mencabut subsidi listrik yang menyasar masyarakat golongan bawah (golongan 900 KWH) dan berakibat menurunnya daya beli masyarakat .

Senada dengan grafik minyak mentah harga batubara melonjak hingga 65 US dolar dan diprediki akan terus tumbuh (sumber :markets.businessinsider.com)
Senada dengan grafik minyak mentah harga batubara melonjak hingga 65 US dolar dan diprediki akan terus tumbuh (sumber :markets.businessinsider.com)

Selain harga minyak , harga batubara juga diprediksi akan terkerek seiring dengan naiknya permintaan negara importir batubara seperti China, India, Jepang, Vietnam, dan Korea Selatan. Saat ini harga batubara bergerak menuju harga 65 US dollar / ton. Naiknya harga batubara akan berdampak pada harga jual listrik PLN pada masyarakat. Terutama pada projek 35 ribu watt banyak pembangkit listrik yang mengandalkan sumber energi dari bahan baku batubara. 

Kenaikan harga acuan batubara ini disingkapi pemerintah dengan akan mengeluarkan aturan DMO (Domestic Market Obligation) untuk Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dalam negeri. Aturan ini diharapkan dapat memberi kepastian harga acuan batubara dalam negeri sehingga akan membuat harga lebih murah dibandingkan harga pasaran (bareksa.com) . Sayangnya aturan ini mendapat tentangan keras dari produsen - produsen tambang batubara karena akan menurunkan investasi di bisnis batuabara. Pemerintah masih mengkaji aturan harga batubara agar harga dasar listrik tidak terdampak dari naiknya harga energi primer.

Sentimen Positif Sektor Komoditas

Jelang Kenaikan BBM subsidi yang mengakibatkan kendaraan bermotor antre mengisi BBM (sumber gambar : tribunnews.com)
Jelang Kenaikan BBM subsidi yang mengakibatkan kendaraan bermotor antre mengisi BBM (sumber gambar : tribunnews.com)
Prediksi kenaikan harga energi ini tidak selalu berdampak buruk bagi Indonesia. Kenaikan harga komoditas seperti minyak mentah , batubara, dan CPO akan menambah pemasukan apbn 2018 melalui bagi hasil, royalti ,maupun pajak. Kenaikan harga minyak ini akan meningkatkan ekspor migas dan berkontibusi pada penerimaan negara . Terlebih permintaan global sudah mulai bangkit setelah mengalami masa stagnasi. Permintaan komoditas yang meningkat akan berdampak positif bagi indonesia. 

Selama bertahun - tahun sektor komoditas menjadi sumber utama pemasukan APBN. Sehingga sektor investasi yang terkait dengan sektor minyak, pertambangan dan perkebunan akan bertumbuh.  Pertumbuhan di sektor ini akan mengerek sektor jasa transportasi dan konsumsi. Sehingga akan memacu pertumbuhan ekonomi indonesia.

Di lain pihak kenaikan penerimaan ini dari sektor migas akan berdampak terhadap besarnya subsidi energi. Terutama Indonesia saat ini merupakan salah satu negara net importir minyak. Kenaikan harga energi ini akan membuat anggaran subsidi energi bisa melebar hingga membengkak.  Menurut Ekonom Indef Bhima Yudhistira Adhinegara , pemerintah harus menambah alokasi belanja subsidi energi dengan memotong anggaran insfrastruktur sebesar 20 trilyun. Sedangkan ekonom Samuel Aset Manajemen Lama Soelitianingsih, kenaikan harga bbm ini sebaiknya dilakukan setelah lebaran dan bukan merupakan kebijakan populer di tahun politik (Sumber : bareksa.com).

Jika pemerintah akhirnya menaikkan harga energi , perlu adanya antisipasi terhadap inflasi tahunan. Mengingat kenaikan harga energi akan menambah inflasi di sektor transportasi, pangan , dan jasa. Inflasi di sektor tersebut akan menambah pukulan bagi masyarakat miskin karena terdampak inflasi ganda dari sektor pangan serta energi. Program cash transfers (Bantuan Langsung Tunai) seperti tahun 2008 mungkin bisa jadi salah satu solusi pemerintah bagi masyarakat bawah jika pemerintah terpaksa harus menaikan harga energi dan mengurangi subsisdi energi (tribunnews.com). Sehingga level paling bawah tidak turun daya belinya.

Sumber Berita Online :

Harga Pangan Aman, BPS Catat Inflasi 2017 Sebesar 3,61 Persen (cnnindonesia.com)

Belanja Rokok Jadi Pengeluaran Terbesar Ketiga Setelah Pangan (kompas.com)

Bantuan Langung Tunai Cuma Berubah Nama (Tribunnews.com)

Harga Minyak Terus Naik Tembus US$ 70 Per Barel, Ini Dampaknya ke APBN 2018 (bareksa.com)

Mensos : Beras dan Telur Sumber Pengeluaran Terbesar Keluarga Miskin (cendananews.com)

PLN Ngotot Ingin Pemerintah Atur Harga Batubara Untuk Pembangkit Listrik (bareka.com)

Sumber Grafik

oilprice.com   

https://markets.businessinsider.com/commodities/coal-price