Mohon tunggu...
Cak Usma
Cak Usma Mohon Tunggu... -

HoM MelOn. Ketua Persaudaraan Profesional Muslim Aswaja http://www.aswajanu.com . Ketua Umum Keluarga Wikusama. Rasulullah aku padamu. Gusdurian.

Selanjutnya

Tutup

Vox Pop

Indonesia, Huntington hingga Halim Barakat

14 November 2013   06:05 Diperbarui: 24 Juni 2015   05:12 215
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bulutangkis. Sumber ilustrasi: PEXELS/Vladislav Vasnetsov

Huntington dalam Benturan Peradaban & Masa Depan Politik Dunia (The Clash of Civilization & The Remarking of World Order), sebuah buku yang ramai di awal tahun 1993an yang berisi pengkutuban peradaban (sebuah bangunan komunitas sosial) dari kelompok-kelompok baik sosial, budaya, agama, suku, dan pengklasifikasian kelompok lainnya (seperti kelompok status ekonomi, dsb), meramalkan akan berantakanlah dunia karenanya.Huntington mengambil kasus-kasus, karena pada dasarnya buku tersebut adalah fakta dari risetnya, pertempuran-pertempuran yang timbul antar kelompok-kelompok paska perang dunia terakhir. Terutama di jazirah Arab Saudi, dengan banyaknya aktivitas infiltrasi ke setiap kelompok untuk diarahkan dan digerakkan bahkan dipaksa untuk saling bermusuhan. Sunni harus bermusuhan dengan Syiah dan begitu juga sebaliknya, suku Kurdi harus terkalahkan di Iran dan Syiria serta Turki, pemutarbalikkan penguasa yang didorong kekuatan militer Amerika (dan sekondannya) untuk menguasai meskipun sang penguasa dari kelompok yang relatif lebih lemah ketimbang kelompok lainnya. Bagaimana Iran dan Irak bertempur tak kelar-kelar, bagaimana Libya mengumbar senjatanya, dst.


Hingga di awal tahun 2013an ini muncul penelitian berikutnya, yaitu Halim Barakat dalam (Dunia Arab: Masyarakat, Budaya, dan Negara), yang sangat jauh lebih lengkap dan lebih mencermati ketermozaikkan kelompok-kelompok klasifikasi masyarakat jazirah Arab dan Afrika Utara (yang sepertinya sudah sangat akut untuk tidak saling bersatu dan lebih mengedepankan keberbedaan), sehingga mudah untuk sekali lagi: diinfiltrasi, didorong untuk berbeda, saling membedakan, saling menyalahkan dalam kontra yang menganggap kelompoknya paling benar, dan dengannya mudah untuk bertempur saling membunuh.


Kalau di tahun 1993an, kita membaca teori Huntington dengan lembar-lembar koran yang terbatas informasinya, bahkan mungkin medianya hanya koran dan TV. Namun di tahun 2013an ini kita jelas-jelas, kalau kita mau terbuka dan jeli, teori Huntington itu jelas diteruskan oleh pada penelitian Halim Barakat, dan membuktikan bahwa memang ada ketermozaikkan akut di Jazirah Arab dan Afrika Utara, sehingga kita bisa lihat sampai dengan saat ini, negara-negara saling berperang, saling disusupi untuk berperang, kita lihat saja, betapa ada kelompok-kelompok yang bergerak secara efektif menghabisi negara-negara Arab dengan jargon-jargon dan isu perpecahan umatnya.


Isu-isu ketermozaikan itu jelas berbeda-beda, bagaimana ketika menghantam Mursi turun dari kursinya (ini jelas melibatkan kelompok kontranya di internal Mesir) kelompok Islam Muslimin (kelompok menengah progessif Islam) dihabisi dengan isu menonjolkan ke-IM-annya ketimbang ke-Mesir-annya, bagaimana Khadaffi yang dulu sangat dekat dengan Perancis dan tiba-tiba berkonflik serta secara singkat tiba-tiba Khadaffi dimusnahkan hanya dengan isu-isu sektarian kecil, bagaimana dengan Saddam Hussein dengan isu-isu memperkaya dirinya sendiri, bagaimana dengan negara-negara muslim lainnya, sekarang bagaimana dengan Syuriah dengan cap Syiahnya yang terus diburu. Sebentar lagi, bisa jadi bagaimana Erdogan, bagaimana Iran, dan terus berputar memburu dan menderu dalam konteks ketermozaikkan yang akut dan dengannya mudah diinfiltrasi untuk segera dihabisi.


Umat Islam di Jazirah Arab dan Afrika Utara yang dulu sebagai pemuncak-pemuncak ilmu pengetahuan dan kejayaan Islam, karena kebermampuannya saling menghargai (baca konteks khilafah Ustmaniyah atau Ottoman yang tidak menghilangkan kelompok masyarakat, bahkan penyembah api sekalipun), sekarang seolah tak bertuan, tak bergigi, dan oleh karenanya ompong tak mampu menunjukkan harga dirinya bak buih pada lautan luas. Tak ada lagi yang bisa dibanggakan pada peradaban mereka, pada pembangunan kemanusiaan mereka, tak ada kemajuan akal dan pikir serta teknologinya, tak ada, karena mereka sibuk menghadapi peluru-peluru yang setiap waktu bisa merengut nyawanya dan keluarganya. Dalam kecemasan, tak akan pernah bisa berfikir untuk sekelilingnya, pribadi dan keakuan individulah yang lebih diutamakan.


Bagaimana dengan negeri kita?

Salam #IndonesiaMercusuarDunia !


Ditulis oleh Cak Usma dengan mengambil dari beberapa sumber media.

@Cak_Usma

Penulis adalah ketua Persaudaraan Profesional Muslim Aswaja

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Vox Pop Selengkapnya
Lihat Vox Pop Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun