Mohon tunggu...
Eko Nur Syahputro
Eko Nur Syahputro Mohon Tunggu... Penjelajah Alam

Bukan siapa-siapa, hanya seorang manusia yang belajar di kantor konsultan

Selanjutnya

Tutup

Politik

Bungkam Kritik ala Spion

22 Maret 2018   00:28 Diperbarui: 22 Maret 2018   01:20 0 0 1 Mohon Tunggu...

Julukan Bapak Reformasi sangat melekat di benak Amien Rais. Laki-laki (70) tersebut merupakan salah satu pelaku atas turunnya presiden soeharto di era orde baru. 

Lewat tangan dinginnya, ia mengerakkan seluruh elemen mahasiswa dari berbagai kalangan menuju Senayan untuk mendesak MPR menggelar sidang istimewa. Bersama koleganya, Amien rais berhasil memekasa Soeharto mundur dari jabatannya sebagai presiden yang telah berkuasa lebih dari 30 tahun.

Seakan tak ada habisnya, 20 tahun berselang. Kini Amien kembali muncul dengan kritik atas kinerja presiden Joko Widodo. Kritik tersebut ia lontarkan saat memberikan sebuah ceramah di Bandung pada 18 Maret silam. Amien mengatakan bahwa program bagi-bagi sertifikat yang dilakukan jokowi hanyalah ngibul, menurut Amien, hal itu hanyalah bagian dari selebrasi atau hanya pencitraan belaka.

Tak perlu menunggu lama, sehari berselang, tepatnya di Gedung Auditorium BPK (19/03) Menko Kemaritiman, merespon ucapan tersebut. Meski tak menyebut nama, di jagat sosial media para netizen paham atas reaksinya. Meski, Luhut hanya berucap " Senior " namun hal tersebut semakin menguatkan persepsi publik kepada Amien Rais.

Luhut merespon kritikan Amien dengan lantang. Luhut pun menyarankan agar Amien tidak Asbun dalam menyampaikan kritik. Bahkan, Luhut akan mencari dosa dari Amien jika ia masih bersikeras terus menyerang pemerintah.

Sontak, sejumlah kalangan warga netizen ramai macam ada pasar tumpah di tengah kota. Silih berganti linimasa hanya diisi oleh wajah kedua politisi senior tersebut. Bahkan, ada yang secara khusus meluangkan waktunya untuk sekadar membuat meme wajah mereka berdua dengan dimbumbuo kata vs di tengah fotonya.

Para pengamat pun mulai memberikan pandangan mereka. Sebagian memberikan respon atas ketidakpandaian luhut dalam berkomunikasi di depan publik. Sebagian pula mengatakan bahwa Amien tak usah banyak bicara, cukup diam saja. Bukan warga indonesia namanya, kalau hal semacam ini tidak jadi gorengan renyah.

Wabil khusus, bagi lawan-lawan politik Jokowi. Bagi mereka, momen ini merupakan saat yang tepat untuk menembakkan rudal-rudal pengempur pemerintahan Jokowi. Namun sebaliknya, dinding pemerintahan Jokowi masih kokoh meski sudah terlihat sedikit retak.

Sebagian kalangan menganggap hal ini sebagai kemunduran. Bahkan ada yang mengaitkan dengan era orde baru, dimana kebebasan menyampaikan kritik di depan umum dibungkam habis. Apalagi mau kritik di sosial media, jangan itu berat, biar pak fahri hamzah saja.

Oke, pada intinya kedua senior tersebut merasa bahwa perang era 98 mereka mungkin belum usai. Keduanya masih ingin menghabiskan martil terakhirnya sebelum benda tersebut menjadi bom waktu bagi diri mereka masing-masing. 

Tapi bukan berarti kita hanya bisa diam saja, namun sebaliknya, yang muda-muda mencoba banyak-banyak memberikan panggung bagi keduanya. Biar apa, biar keduanya bisa Mabar dengan hero masing -masing di warkop sebelah.

Sekian.