Dian Cahyani
Dian Cahyani Pembokat modern, freelance writer

Pembokat rumahan yang dikasih izin dan kesempatan untuk belajar di IAIN Jember

Selanjutnya

Tutup

Birokrasi

Drama Nepotisme yang Tak Kunjung Usai

9 Oktober 2018   13:37 Diperbarui: 9 Oktober 2018   13:56 273 0 0

Ada hal yang ganjal dalam sambutan bapak Rektor IAIN Jember ketika Wisuda yang berlangsung beberapa bulan yang lalu. Penggalan kalimat pada sambutan itu berbunyi; "mahasiswa IAIN Jember kalo mau jadi dosen ga usah bingung, langsung ke Akademik, pokoknya lulus S2" Pungkasnya.

Bisa jadi, kalimat ini merupakan bentuk dari konatasi yang memiliki makna lebih dalam. Jika kalimat tersebut ditarik dalam sudut pandang study semiotika, makna dari penggalan kalimat "langsung ke Akademik, pokoknya lulus s2", seolah penggambaran adanya praktik Nepotisme yang berlangsung.

Pertanyaannya adalah, apakah hal demikian merupakan suatu bentuk penanangan kepada para wisudawan yang sedang bingung harus kemana setelah merampungkan kuliah strata satu, atau bentuk penekanan bahwa ada praktik nepotisme yang telah lumarah. Hipotesa ini mengantarkan saya untuk menyertakan beberapa asumsi dan keluhan mahasiswa maupun dosen menganai praktik perekrutan dosen di IAIN Jember.

Banyak asumsi yang ngatakan bahwa praktik nepotisme berlangsung luas dikalangan para anggota dalam suatu organisasi tertentu, salah satunya adalah jenis perekrutan dosen. Para dosen mudah direkrut di IAIN Jember berdasarkan lebel organisasi yang mereka anut.

Saya tidak akan lupa dengan pernyataan bapak Furqon, seorang dosen yang pernah mengajar saya ketika saya semester tiga. Kini beliau berada di Sorbone University untuk menempuh pendidikan Doctor dibidang Tafsir Al- Qur'an. Beliau pernah bercerita di kelas saya, bagaimana beliau yang hingga kini dikucilkan, tidak begitu pendapat perlakuan sama dan tidak wajar oleh dosen- dosen yang lain selama mengajar di IAIN Jember. 

Cerita yan disampaikan hanya sekitar lima belas menit di pertengahan kuliah ini cukup mengeyuhkan saya sebagai pendengar, cerita ini cukup mengharu biru untuk membuat saya terenyuh. Selain itu, kisah selanjutnya adalah kisah bapak Robi Firmansyah, kala itu ia mengajar mata kuliah Anti Korupsi. 

Suatu ketika beliau bercerita bahwa terdapat beberapa pihak yang mempertanyakan keberadaan beliau di kampus IAIN Jember. beberapa pihak itu mengira bahwa dosen lulusan UGM ini melakukan parktek sogok untuk dapat diterima menjadi dosen di IAIN Jember. bertanyaan itu berupa: " kok bisa jadi dosen? Lewat mana? siapa yang masukin?".

Dua kisah tersebut menjadi alasan utama mengapa saya mengambil tema ini untuk menjadi reportase investigasi saya. Maka dari itu, tulisan ini hendak mengupas sepak terjang *kemungkinan* drama nepotisme yang berlangsung di IAIN Jember. Bagaimana proses drama ini dilangsungkan oleh actor- actor yang memiliki keahliaan tersendiri? Bagaimana dampak yang ditibulkan?