Mohon tunggu...
Nanang Diyanto
Nanang Diyanto Mohon Tunggu... Travelling

Perawat yang seneng berkeliling disela rutinitas kerjanya, seneng njepret, seneng kuliner, seneng budaya, seneng landscape, seneng candid, seneng ngampret, seneng dolan ke pesantren tapi bukan santri meski sering mengaku santri wakakakakaka

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Datsun Risers Expedition Mampir di Masjid Agung Berau (13)

29 Januari 2016   11:52 Diperbarui: 29 Januari 2016   13:38 113 3 3 Mohon Tunggu...

Penundaan jadwal kepulangan oleh pihak penerbangan tak harus disesali, faktor keamanan lebih dikedepankan. Untung pihak penyelenggara Datsun Risers Expedition dan Kompasiana Blog Trip memberi pelayanan yang melebihi dari yang kami bayangkan. Ada mas Radja Mohammad dan bang Dale yang ditugaskan untuk menemani serta mengawal kami sampai tinggal landas di bandara Kalimaru.

Mas Radja menawarkan kepada kami beritiga (saya, mas Arif Khunafi, dan mas Eka Kartika) untuk jalan-jalan sore, mulai mencari kuliner atau mencari oleh-oleh. Sepulang makan sore di dekat pelabuhan bang Dale yang berdomisili di Berau menceritakan ada masjid unik di Berau ini. Menurut bang Dale masjid tersebut pernah menyabet penghargaan masjid tingkat nasional. Baik secara administrasi maupun bentuk dan kemegahannya. Selain itu bang Dale juga mencerikan bahwa keunikan lain di masjid agung ini adalah walet-walet putih yang hidup di manara masjid. 

"Sarang walet putih ini adalah sarang walet yang mutunya paling bagus, begitu juga harganya..." cerita bang Dale. Kami jadi penasaran dengan cerita bang Dale, dan kami-pun meluncur ke lokasi masjid agung tersebut.

Sampai di dekat masjid bang dale turun, entah dia bicara dengan siapa tapi sepintas seperti bicara dengan satuan pengamanan masjid (satpam). Tak lama kemudian bang Dale kembali ke mobil Datsun yang kami tumpangi, dan mobilmun masuk ke area masjid yang luasnya hampi 4 kali lapangan bola. Tampak para jamaah mulai keluar masjid, mereka baru saja menunaikan sholat isya' berjamaah.

"Silahkan foto-foto, silahkan liat-liat tadi sudah saya mintakan ijin pada petugas, biar saya dan mas Radja menunggui mobil..." kata bang Dale.

"Ini menara yang saya ceritakan tadi, di menara ini hidup banyak burung walet putih, dan hasil dari sarang walet ini bisa untuk mencukupi biaya operasional masjid.." kata bang Dale yang rumahnya tidak jauh dari masjid ini. Bang Dale asli dari Sulawesi selatan, dia kawin dengan perempuan Berau Tanjung Redep sudah hampir sepuluhan tahun. Makanya dia hapal benar situasi daerah Berau ini.

"Dulu orang boleh naik ke menara, dari menara orang bisa melihat kota mulai ujung selatan sampai utara, dari timur sampai barat, tapi sekarang semenjak ada burung walet tidak bisa leluasa lagi, takut kalau menggangu burung walet itu..." jelas bang Dale dengan aksen bahasa Bugis-nya. Bang Dale kalau ngucapin ---ng jadi ---n, dan kalau ngucapin --- jadi ----ng.

Sebagai contoh ;

"Tamang tamang ayo kita makang ikang, Makang yang banyak biar perut kenyan di dekat pelabuang.... Biar Radja yan bayaring.."

Sayang kedatangan kami di malam hari, seandainya di pagi hari atau sore kami bisa leluasa mengabadikan gambar-gambar masjid dan keunikannya. Tapi beruntung malam itu sehabis hujan, langit bersih dan nampak bulan sabit di atas menara menambah anggun masjid agung ini.

Menurut satpam yang asyik ngobrol dengan kami, masjid ini masjid toleran. Di depan masjid ini ada gereja, saat perayaan keagamaan di gereja tak muat menampung mobil dan motor yang parkir. Pihak masjid menawarkan dan memfasilitasi mereka yang akan beribadat di gereja untuk parkir di masjid ini gratis. Hal ini sudah berlangsung semenjak masjid ini ada.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x