Mohon tunggu...
Gladiyo
Gladiyo Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa FISIP UAJY 2019

Pencinta Musik Etnik

Selanjutnya

Tutup

Film Pilihan

Stereotipe Perempuan dalam Film Selesai

6 November 2021   01:18 Diperbarui: 6 November 2021   01:20 1165
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Gender. Sumber: www.freepngimg.com

Penggambaran Perempuan dalam Film SELESAI

dr. Tompi memberi nuansa yang berbeda dalam alur cerita dari film Selesai. Ketika menonton film ini kita mungkin berharap cerita film ini berakhir bahagia. Akan tetapi siapa yang menyangka bahwa film ini memiliki puncak cerita yang berbeda. Sad ending menjadi cerita akhir dari film ini.

Memanag dalam sebuah film, seorang sineas memiliki perspektif yang bebas. Sad ending yang menjadi puncak dari film ini memberikan sebuah gambaran tentang bagaimana kehidupan seorang wanita dengan segala pergolakannya.

dr. Tompi Sutradara Film Selesai. Sumber: arahkata.pikiran-rakyat.com
dr. Tompi Sutradara Film Selesai. Sumber: arahkata.pikiran-rakyat.com

Konflik yang terjadi antara Broto (suami) yang diperankan Gading Marten dengan Ayu (istri) yang diperankan oleh Ariel Tatum adalah konflik yang diakibatkan perselingkuhan. Ketika sang suami ketahuan memilki hubungan dengan wanita lain, sang suami bukannya mengakui kesalahannya dan meminta maaf. Broto malah mencari alasan dengan menyalahkan istrinya.

Wanita digambarkan selalu salah dan lemah di mata laki-laki. Menariknya ada pembeda perspektif terhadap seorang wanita. Hal ini dapat dilihat dalam peran Mbak Yani yang diperankan oleh Tika Panggabean sebagai seorang pekerja rumah tangga (PRT).

Tika Panggabean Sebagai Mbak Yani. Sumber: www.jawapos.com
Tika Panggabean Sebagai Mbak Yani. Sumber: www.jawapos.com

Karakter Mbak Yani digambarkan sebagai seorang yang humoris dan ceplas-ceplos. Peran ini menjadi pembeda dan membuat warna dari film ini menjadi lebih berbeda. Sebagai seorang PRT, Mbak Yani menjalankan tanggung jawabnya dengan baik dan memperlihatkan sosok perempuan yang pekerja keras.

Ia harus bekerja demi menghidupi keluarga dan menjadi tulang punggung keluarganya. Gaji yang ia sisipkan dan ia kirim ke kampunglah yang menjadi sumber penghidupan keluarganya.

Dalam tradisi patriarki, perempuan dialokasikan sebagai pengasuh, dan pembantu rumah tangga (Ryan, 2012). Mbak Yani memberikan sebuah refleksi bahwa pekerjaan menjadi seorang pekerja rumah tangga dapat menghasilkan hasil (gaji). Saat ini perempuan dengan segala kemampuannya dapat menjalankan tugas yang dahulu disematkan pada kaum pria yaitu bekerja mencari uang.

Standar perempuan saat ini menjadi ganda di satu sisi ia harus menjadi seorang istri yang melayani suami dan anaknya di rumah. Di sisi lain perempuan harus bekerja guna mencari nafkah bagi keluarga. Beberapa stereotipe yang dilekatkan pada perempuan di masyarakat dapat kita lihat dari ulasan di atas.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Film Selengkapnya
Lihat Film Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun