Politik Pilihan

Bambang Widjanaro, Pengkhianat Bung Karno?

6 Oktober 2014   17:27 Diperbarui: 17 Juni 2015   22:11 5259 0 0
Bambang Widjanaro, Pengkhianat Bung Karno?
1412563558937576447

Soekarno Menangis Saat Pemakaman Jend. Ahmad Yani (Sumber: Seketariat Negara)



Minggu lalu, Kolonel (Purn) Maruli Saelan yang telah berusia 83 tahun mempublikasikan buku yang berjudul "Maruli Saelan, Penjaga Terakhir Soekarno" yang memuat kesaksiannya sebagai salah satu adjunan Presiden Soekarno (Bung Karno) saat peristiwa G30S (atau Soekarno menamainya Gerakan Satu Oktober atau Gestok) terjadi di tahun 1965.  Dalam buku itu, Maruli Saelan membantah keterlibbatan Bung Karno atas peristiwa G30S yang coba dituduhkan oleh rezim Orde Baru selama berkuasa.

Dalam sub judul 'Bambang Widjanarko Menuduh Soekarno', Maulwi menjabarkan penjelasan salah satu ajudan Bung Karno lainnya, Bambang Widjanarko, saat diminta ketenangannya oleh Letnan (CPM) Soegiarjo dan Ajun Komisaris Besar Polisi Azwir Nawie dari Team Pemeriksa Pusat (Teperpu) pada 3 Oktober 1970. Diceritakan Maulwi bahwa Bambang mengatakan pada 30 September 1965 pukul 22.00 WIB, saat Presiden Soekarno menghadiri Munastek I di Istora Senayan, Bung Karno menerima sepucuk surat dari Letnan Kolonel Untung (salah satu tokoh G 30 S) yang dititipkan pada pasukan pengawal presiden (Tjakrabirawa). Menurut Bambang, di teras Istora yang lampunya terang, Presiden berhenti sebentar membaca surat dan memasukkan ke dalam saku bajunya. Isi suratnya berisi pemberitahuan dari Untung kepada Presiden tentang akan dimulainya penindakan terhadap sejumlah perwira tinggi AD yang tidak disenangi Soekarno. Penjemputan paksa itu direncanakan akan dilakukan pada 1 Oktober 1965 dini hari.

Menurut Mauli Saelan yang terus mendampingi Bung Karno pada acara Munastek itu, Bung Karno tidak pernah meninggalkannya walau sebentar. Maruli tidak pernah melihat kedatangan pelayan bernama Sogol yang menitipkan sepucuk surat yang katanya dari Untung untuk diserahkan pada Bung Karno. Beliau juga tak pernah meninggalkan tempat duduknya untuk ke toilet atau berhenti di taman membaca surat. Selain itu, Teperpu juga tidak pernah memeriksa Sogol atas kesaksian yang disampaikan Bambang.

Hati Saelan miris, tuduhan Bung Karno terlibat G30S tidak disampaikan musuh Bung Karno, tetapi justru disampaikan ajudan yang amat disayangi Bung Karno. Kedekatan Bambang dan Bung Karno dibahas juga dalam buku Bambang (yang terbit di tahun 1988) yang berjudul "Sewindu Dekat Bung Karno", dimana masa tugas Bambang sebagai ajudan Presiden (yang seharusnya hanya dua sampai tiga tahun) bahkan terus menerus diperpanjang Bung Karno sampai hampir 8 tahun (sewindu). Bahkan Bung Karno pernah menawarkan untuk menaikkan pangkat Bambang dari Kolonel menjadi Laksamana, tanpa harus masuk sesko AL namun hal ini ditolak Bambang untuk mempertahankan l'spirit de corps.

Saelan sendiri baru mengetahui tuduhan Bambang selepas keluar dari penjara. Dia mengaku sempat menghubungi Bambang untuk meminta penjelasan atas keterangannya di BAP. Namun, ajakan Saelan bertemu tidak pernah dipenuhi Bambang. Belakangan Saelan tahu kenapa Bambang rela membuat tuduhan keji kepada Bung Karno. Menurutnya dari sekian banyak ajudan yang terkenal dekat dengan Bung Karno, hanya Bambang yang tidak dipenjara rezim Soeharto. Bung Karno yang tegar dan keras itu pun tak mampu menahan airmatanya saat pemakaman para pahlawan revolusi (Ahmad Yani dkk).

Saelan menolak menanda-tangani Berita Acara Pemeriksaan (BAP) yang sudah dipersiapkan pemeriksa, yang isinya sangat jelas mau memojokkan Bung Karno, kendati Bambang Widjanarko sudah menandatangi BAP itu. Maulwi Saelan harus membayar keteguhannya itu dengan penjara selama 4 tahun 8 bulan dari satu penjara ke penjara lainnya sebelum akhirnya dibebaskan dan diberhentikan dengan hormat dari dinas TNI AD.

Bambang Widjanarko sendiri telah meninggal dalam usia 67 tahun di bulan November 1996.  Bambang yang berpangkat militer terakhir sebagai Deputy Komandan Seskoal (Laksamana Muda) tercapat pula sebagai anggota MPR dari Fraksi  Partai Demokrasi Indonesia (F-PDI) periode 1993-1998 ini  dimakamkan di Taman Makam pahlawan (TMP) Kalibata Jakarta.

Sungguh kejam politik Orde Baru, menghalalkan segala cara untuk merebut dan mempertahankan kekuasaan. Pada akhirnya sejarah telah mencatat bagaimana rezim otoriter Soeharto tumbang oleh kekuatan rakyat di tahun 1998. Bung Karno pernah mengatakan kepada salah satu ajudan yang lain bahwa "Sejarah akan mancatat siapa yang benar itu, Soekarno atau Soeharto." Namun, rupanya ini tidaklah mudah seperti membalikan telapak tangan. Dalam satu kasus Bambang Widjanarko saja, tidaklah jelas posisinya apakah sebagai Patriot (karena dimakamkan di TMP) atau sebagai seorang pengkhianat? Sementara seorang Maruli Saelan yang membela Bung Karno, akan kehilangan haknya untuk dimakamkan di TMP pada hari baiknya nanti.

Referensi:

http://news.detik.com/read/2014/10/02/192804/2708279/10/sang-pengawal-menepis-tudingan-miring-pada-soekarno-terkait-g-30-s

http://www.berdikarionline.com/tokoh/20110725/maulwi-saelan-dari-penjaga-gawang-hingga-penjaga-bung-karno.html

http://www.republika.co.id/berita/nasional/politik/13/10/03/mu2vin-pengawal-bung-karno-yang-setia-dan-yang-berkhianat

http://www.library.ohiou.edu/indopubs/1996/11/18/0192.html

http://www.jurnal3.com/hasil-otopsi-7-jenazah-pahlawan-revolusi-utuh-semua