Mohon tunggu...
Budi Susilo
Budi Susilo Mohon Tunggu... Man on the street.

Warga negara biasa, yang rela membayar pajak meski tidak rela jika akumulasi pajak dicolong.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Tiga Hari Tanpa Medsos, Apa Rasanya?

10 April 2020   18:05 Diperbarui: 10 April 2020   19:10 249 39 24 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Tiga Hari Tanpa Medsos, Apa Rasanya?
Ilustrasi 3 hari tanpa media sosial (Gambar oleh Bruno /Germany dari pixabay.com)

Telpon seluler telah menjadi bagian penting yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan manusia moderen. Gawai yang semakin pintar itu memenuhi kebutuhan komunikasi, hiburan, transaksi, informasi dan sarana penyaluran hasrat beropini.

Ketinggalan gawai lebih mengerikan dibanding ketinggalan dompet, bahkan istri sekalipun (becanda!). Apalagi jika rusak lalu tiba-tiba mati. Hidup akan terasa kering dan sepi. Tiga hari lalu, telpon seluler saya mengalami kerusakan: sering mati atau restart sendiri.

Selama itu ia tidak hanya berjasa sebagai alat komunikasi melalui saluran telepon dan sms. Ia telah melampaui harapan tentang percakapan, menawarkan dunia maya tanpa batas: media sosial. Waktu disesaki dengan membuat status, berkomentar pada tayangan orang, membalas chat, mengunggah foto-video dan segala hal yang mungkin dipamerkan.

Terutamanya semenjak pemberlakuan Work from Home (WFH), kegiatan memandangi telpon seluler semakin menjadi-jadi. Sebetulnya jauh sebelum gelombang WFH muncul, lebih dari setahun lalu, saya sudah work nothing at home alias menganggur.

Berpetualang di dunia maya merupakan katarsis, ditambah sejak tujuh bulan terakhir saya aktif lagi mengisi artikel di Kompasiana. Di situs itulah saya belajar bagaimana membuat artikel bermanfaat, menata tata-bahasa dan bersandar kaidah-kaidah kepenulisan.

Dengan itu saya larut dalam kegiatan literasi kecil-kecilan dan bertekad menjadi penulis, walau amatiran. Konsep tulisan dibuat di telpon seluler, editing dan mengunggah artikel melalui laptop.

Berakhirnya usia telpon seluler, membuat kelabakan. Saya menggunakan segala cara, bahkan dengan mode setel ulang pabrik (factory reset), tidak pula berhasil menyelamatkannya. Mau ke gerai perbaikan, terkendala masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang membuat tidak leluasa keluar rumah. Telpon seluler akhirnya mati total.

Selesai sudah riwayat telpon yang selama tiga tahun tidak terlepas dari perhatian kecuali saat tidur.

Namun setidaknya, membuka Kompasiana bisa melalui laptop, karena saya masih ingat kata-sandinya. Memungkinkan membuat artikel dan menayangkannya, kendati terbata-bata mengetik dengan satu jari.

Sebaliknya, komunikasi melalui telepon, sms, dan media sosial lainnya terganggu. Jendela menuju dunia semu telah tertutup. Mau membuka lewat laptop, password ada di telpon seluler, untuk me-reset-nya pun saya sudah keburu mati angin.

Ternyata selama tiga hari ini terbebas dari kegilaan yang ditimbulkan oleh dinamika media sosial melalui telepon seluler yang sangat pintar.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN