Mohon tunggu...
Budi Susilo
Budi Susilo Mohon Tunggu... Man on the street.

Warga negara biasa, yang rela membayar pajak meski tidak rela jika akumulasi pajak dicolong.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Api Cinta Itu Masih Ada, Sayang...

19 Agustus 2019   12:45 Diperbarui: 19 Agustus 2019   12:48 0 5 0 Mohon Tunggu...

Usianya menjelang setengah abad. Entah karena postur tubuhnya yang kecil atau cara dandanannya yang casual menyesuaikan dengan trend mutakhir ia tetap menarik tidak membosankan dipandang mata. Tetapi alasan yang tak berubah: aku mencintai wanita di hadapanku sampai nanti.


"Pokoknya aku minta dibeliin.....terserah mau berapa kilo.....?" rajuk wanita itu. Nadanya manja ketika ia meminta aku belikan buah mangga harum manis kesukaannya. Sembari melengos aku pun menyeringai sambil menjulurkan lidah agar ia tak melihatnya. Saudara-saudaranya tertawa melihat kelakuan kami yang seperti kanak-kanak.

Aku segera pergi keluar naik sepeda-motor yang setia menemaniku selama dua puluh lima tahun ini. Semua orang yang ada di teras rumah mungil itu mengantarku sampai pintu gerbang. Masih terdengar suara teriakan yang tak ingin ku lupakan seumur hidupku "jangan lupa ya Mas......".

Aku merasa berbunga, masih ada setitik rasa.
Sekaligus ada rasa pedih.

***

Aku melihatnya sedang melipat pakaian di counter obral. Ya, betul ia seorang sales promotion girl di sebuah toko serba ada dekat tempat kost-ku. Baju putih dengan rok hitam menandakan ia pegawai baru yang tak mampu menyembunyikan kecantikan alaminya. Aku begitu terpesona oleh sosok mungil yang sepertinya bercahaya berpendar berkilau-kilau di mataku. Demikian terpukaunya sehingga membuat seluruh tubuhku bergetar tak berani mendekat, apalagi berkenalan. Kebiasaan jelek yang aku derita sejak jaman remaja adalah berkeringat dingin, gemetaran seluruh bagian tubuh dan tersendat-sendat macet pada mulut ketika berdekatan dengan perempuan yang aku sukai.

Alhasil, setiap hari aku percepat pulang kantor segera pulang ke tempat kost, mandi dan ganti baju lalu berjalan menuju pertokoan serba ada dimana sang pujaan hati menjaga konternya. Melewati di depannya, berharap bisa menarik perhatiannya diteruskan dengan obrolan ringan. Namun semua bahan pembicaraa basa-basi yang telah dirapalkan sebelumnya serta-merta menguap lenyap ketika berada di depannya. Lewat saja! Dan aku hanya beli barang tak penting lainnya di supermarket yang kebetulan ada di toserba itu. Demikian setiap malam peristiwa menggetarkan itu berulang. Setiap malam.

Sampai suatu saat aku memberanikan diri membeli sebuah T-shirts, suatu dalih yang digunakan sebagai pemecah kebekuan.


"....ergh.....ini berapa harganya?"


"... hihihhi...itu khan ada tulisan harga, ditulis gede biar mudah terbaca" sang wanita penjaga itu tertawa kecil melihat kekikukanku. Oh..iya, ini khan konter obral sehingga harga sudah ditulis jelas pada tempat itu. Amboi, ternyata bola mata hitamnya seolah menghilang seiiring terkembangnya senyum renyah yang melantunkan tertawa merdu. Aku semakin terpesona.


"Jangan beli satu atuh Mas, disitu khan tertulis beli satu dapat dua dengan harga sebegitu..." jelas bidadari cantik yang telah merontokkan nalarku.
"...ehmm....satu lagi kamu yang pilihkan untuk aku dong!" entah keberanian dari mana aku melanjutkan pembicaraan.
"Ngomong-ngomong, namanya siapa ya? Aku pengen kenalan..."
"Khan ada name-tag, bisa baca dong...! Ah...si Mas nih jadi grogi begitu" semakin berbunga senyumannya.
Aduh, aku merasa seperti tari payung serba salah tidak tahu mesti berbuat apa di hadapan wanita pujaan itu.
"Si Mas sering lewat depan sini, suka lirik-lirik ya...! Kok baru mampir sih ke tempatku?"
Terasa mukaku menghangat memerah menjalar, kikuk dan malu.

***

Seperempat abad lebih telah berlalu, rasa kikuk dan malu masih saja terjadi di hadapan wanita pujaan hati itu, kendati sama-sama berusia senja. Dengan berbagai peristiwa. Masih dengan kekakuanku untuk menyatakan suka dengan senyum manis yang membuat kelopak matanya menenggelamkan bola mata hitam. Amboi alangkah cantiknya.

Tidak sekikuk ketika berbincang dengan keluarganya. Ayahnya punya hobi yang sama. memancing, sehingga seluruh pembicaraan riuh dengan ulasan tentang bagusnya joran atau umpan yang cocok untuk berjenis ikan. Dengan kakak lelaki pun aku sering jalan bareng kelompoknya menerabas daerah baru yang belum terlewati dengan sepeda-motor trail. Seperti menjadi bagian dari keluarga.

Akrab dan bisa bersenda-gurau dengan keluarganya, namun aku tidak berdaya menyampaikan rasa suka yang mendera dalam hati. Sampai usia dimana kawan sebaya telah beranak-pinak menggendong cucu, aku masih tak berani meminangnya.

Masih terdengar jelas suaranya yang merajuk di antara tertawaan keluarganya, yang seperti menertawakan rapuhnya hatiku untuk menyatakan cinta lebih dahulu daripada lelaki yang saat ini menjadi suami wanita pujaan hati itu.

KONTEN MENARIK LAINNYA
x