Mohon tunggu...
Humaniora Pilihan

Dilema Calistung yang Semakin Membingungkan

22 November 2017   11:12 Diperbarui: 22 November 2017   15:05 0 0 0 Mohon Tunggu...

Sebagai orang tua, tentunya menginginkan hal yang tebaik untuk anak-anaknya.  Tentunya anda pernah mendengarkan pembelajaran anak usia dini yang terbaru,  yaitu tidak mengajarkan pada anak usia dini untuk membaca, menulis, dan menghitung (CALISTUNG). Nah dari situ tentunya kita mulai was-was,  bagaimana jika nanti disekolah dia diajarkan pembelajaran tersebut?  Hingga sebelum memasukkan anak ke sekolah, orang tua telah memilih-milih Sekolah yang menurut mereka tepat karena tidak mengajarkan calistung.

Sebelumnya, arena suatu keterbatasan yg terjadi,  sebagian taman kanak-kanak di Indonesia tetap mengajarkan calistung.  Mengapa begitu?  Berbagai teori dan penelitian telah dilakukan terhadap level pembelajaran anak,  namun dibeberapa daerah terdapat Lembar Kerja yg berasal dari pemerintah,  hingga dengan berbagai alasan,  pemerintah memberikan kewajiban pada sekolah untuk membeli buku Lembar Kerja tersebut. Loh?  Lalu bagaimana dengan ketentuan tidak mengajarkan calistung tersebut?  Mengapa ketentuan itu ada,  namun Lembar Kerja tidak sesuai?

Dari beberapa sekolah juga mengalami kesulitan untuk pembayaran, karena harga yang lumayan tinggi dan tidak wajar. Hal tersebut membuat beberapa sekolah didaerah, terutama daerah pedesaan mengalami dilema yang lumayan rumit.  Jika tidak membeli sekolah diberikan konsekuensi,  sedangkan jika membeli, mereka memerlukan biaya yang banyak sehingga membuat guru tetap menggunakan Lembar Kerja tersebut karena merasa sayang jika sudah membeli mahal namun tidak dipakai.  

Kembali pada larangan calistung,

setelah banyak bermunculan penelitian tentang gizi anak,  tuntutan zaman orang tua,  bermunculan teori yang mendobrak anggapan mengenai calistung.  Melalui strategi revolusi belajar (learningrevolution), belajar menyenangkan (quantumlearning) , dan belajar cepat (accelerated learning)  yang digagas oleh George Lazanova dkk.  Tokoh-tokoh modern ini berpendapat bahwa tidak pernah terlalu dini untuk belajar apa saja bahkan bila diajarkan fisika quantum sekalipun yang materi tersebut untuk program doktor tidak ada masalah, asalakan dilakukan dengan cara yang tepat.  

Merespon penelitian para pakar anak usia dini tersebut,  hari ini diberbagai pendidikan anak usia dini mulai PAUD hingga TK bukan saja mengajarkan calistung bahkan malah ditambah dengan aneka kursus tambahan seperti mengaji,  menari,  piano,  bahasa inggris,  dan juga drumb band. Islam sangat mendukung pembelajaran seumur hidup dan pembelajaran anak sudah sangat ditekankan bahkan sejak anak masih dalam kandungan.

Nah,  dari situ kita dapat mengambil jalan tengah yaitu dengan cara mengajarkan anak tentang persiapan membaca menulis dan berhitung.  Jika anak memang menyukai calistung,  tidak masalah untuk mendukungnya, jangan pernah membatasi keliaran pemikiran mereka. Namun jika anak tersebut tidak memiliki ketertarikan terhadap calistung,  sebagai orabg tua juga harus menumbuhkan semangat calistung mereka bukan menekankan pembelajaran calistungnya. Dalam artian hanya hanya perkenalan cara Calistung dengan cara yang menarik. Dengan begitu tidak ada paksaan terhadap pemikiran anak.

Mengenai calistung,  menurut saya sendiri sih,  jangan terlalu dipusingkan tahapannya,  hanya saja jika anak tersebut berminat dan semangat tidak masalah,  namun jika anak tidak tertarik,  jangan lupa untuk memicu semangat keingin tahuan mereka hingga tanpa mereka sadari,  ketika menuju jenjang sekolah dasar,  mereka akan tertarik dengan sendirinya dan semangat tersebuat akan menumbuhkan kesadaran mengenai kebutuhan mereka.  Bukan dengan dengan paksaan belajar.  Hal tersebut dapat dilakukan dengan dengan bernyanyi,  bercerita dan mewarnai.

Jadi bagi orang tua dan guru, bagai manakah pilihan anda??  Tentunya cari jalan terbaik untuk anak dengan ajakan, jangan dengan paksaan.  

VIDEO PILIHAN