Mohon tunggu...
Anthony Bryan Vernico Sany
Anthony Bryan Vernico Sany Mohon Tunggu... Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik

Mahasiswa aktif Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Atma Jaya Yogyakarta prodi Ilmu Komunikasi tahun ajaran 2019/2020

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Kolektivisme Suporter Sepak Bola Indonesia

13 Oktober 2020   14:51 Diperbarui: 13 Oktober 2020   15:06 71 3 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Kolektivisme Suporter Sepak Bola Indonesia
Sumber gambar:yukepo.com

Dalam dunia sepak bola suporter merupakan pemain ke 12 dari sebuah tim kesebelasan. Suporter berangkat dari budaya kolektif yang dimana menurut Samovar, Porter, McDaniel, & dkk, (2017) budaya kolektif ini memerlukan ketergantungan emosi yang lebih besar dibanding dengan masyarakat individualisme. 

Ketergantungan emosi antar suporter di dalam stadion atau pun diluar stadion menunjukkan adanya ketergantungan emosi yang besar ketimbang mereka yang individualisme. 

Banyak kegiatan suporter sepak bola yang tidak hanya mendukung tim kebanggaan saat bertanding di lapangan hijau, melainkan seperti memasang bendera di sekitaran daerah stadion atau pun daerah teritorial tim kebanggaan yang didukung dan membuat mural tentang tim yang mereka dukung secara kolektif. 

Para suporter di Indonesia pun juga mengadakan acara musik yang mengundang band lokal daerah maupun band Indonesia guna merayakan ulang tahun komunitasnya secara kolektif.

Sumber gambar: jogja.tribunnews.com
Sumber gambar: jogja.tribunnews.com
Budaya kolektivis lebih mementingkan kepentingan kelompok daripada kepentingan individu (Samovar, Porter, McDaniel, & dkk, 2017). Hal ini sejalan dengan apa yang diyakini suporter di Indonesia, dimana tiada yang lebih besar dari nama tim kebanggaan yang mereka dukung. 

Artinya kepentingan  yang dirasa suporter tersebut penting guna kemajuan dan kesuksesan tim, pastinya mereka akan mendukung. Lalu jika ada yang dirasa kurang benar dalam manajemen tim maka para suporter akan berunjuk rasa atau bahkan memboikot manajemen karena dinilai tidak becus mengurus manajemen tim sepak bola yang mereka cintai. 

Menurut Kluckhohn dan Strodtbeck (dalam Samovar, 2017, hlm. 218) Future orientation merupakan nilai budaya yang berorientasi pada masa depan, orang yang menganut kebudayaan ini biasanya menghargai apa yang akan datang dan masa depan diharapkan lebih baik dari masa kini maupun masa lalu. 

Para suporter di Indonesia sangat future orientation sekali, dimana karena mereka berkumpul menjadi satu akibat kolektivisme bersama dan tanpa paksaan maka mereka memiliki budaya yang berorientasi untuk masa depan tim kebanggaanya,.

Ketika ada yang tidak beres di dalam pengelolaan tim dan pemain yang sudah tidak memiliki loyalitas pada tim, maka para suporter ini akan melakukan forum besar di dalam komunitas suporter tersebut.

Guna membahas langkah dan sikap apa yang akan mereka ambil untuk membenahi tim sepak bola yang mereka dukung agar menjadi lebih baik kedepannya dan lebih-lebih goals yang mereka mimpikan seperti naik kasta ke liga tertinggi di Indonesia atau pun juara liga Indonesia bahkan bisa mewakili Indonesia di AFC Cup.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN